Ruh/Jiwa Yang Tidak Berpijar

Dalam Hakekat Ruh telah dijelaskan jenis-jenis ruh--ruh tua/matang, ruh muda, dan ruh perawan/virgin (baru muncul untuk pertama kalinya di bumi)--dengan ruh virgin dan ruh muda yang tidak atau belum berpijar (jadi ada kemungkinan terus ada atau sirna setelah kematian). Sedangkan ruh tua telah berpijar (dengan demikian, jenis ruh ini akan terus ada, tidak dibatalkan ataupun sirna begitu saja setelah kematian).

Berikut para alien Zeta Pengabdi-Kebaikan menjelaskan perbedaan kontras antara Ruh Tua dengan Ruh Muda yang akan sirna (tapi ada ruh muda yang tidak sirna, karena telah berpijar, sehingga bereinkarnasi):
Ruh-ruh tua setara dengan sulur-sulur dan koneksi-koneksi pada otak, serta jumlah sel otak manusia. Mereka hidup terus karena ini--kerumitan interaksi-interaksi dan ingatan-ingatan yang menyatukan jiwa itu. Sedangkan ruh-ruh muda yang kemudian sirna (tidak lagi bereinkarnasi--pen.) akibat kurangnya apa yang kami sebut suatu pijaran--yaitu memiliki sedikit saja koneksi, sedikit saja ingatan yang substansial yang menciptakan koneksi-koneksi, dan, dengan demikian, pada dasarnya, tidak ada apapun dalam dirinya. Terjemahan bebas dari ZetaTalk: Spirit Form, Note: written Aug 15, 1995 [Baca: Tentang uh Tua).
Dengan demikian, bimbingan rohani bagi manusia dapat membutuhkan pendekatan yang berbeda-beda, tergantung tingkat pemijaran ruhnya. Ruh muda (ada yang baru dua kali berinkarnasi) belum banyak pengalaman dalam hidup masa lalu (reinkarnasi), dengan demikian, referensi dalam dirinya masih kurang. Sedangkan ruh perawan (baru pertama kalinya berinkarnas) belum memiliki referensi apapun di dalam dirinya, kecuali apa yang selama ini menjadi pengalaman hidupnya. Maka ada kemungkinan akan sulit untuk meminta kedua jenis ruh yang belakangan ini untuk belajar dengan melihat ke dalam dirinya .
Untuk memahami jiwa/ruh tidak berpijar, berikut para alien Zeta menjelaskan.

Pembawaan Ruh Tidak Berpijar
Terjemahan bebas ZetaTalk: Spark, Note: written Jun 15, 2002

Jiwa-jiwa yang Tidak/Belum Berpijar merasa kabur (melihat hidupnya--pen.), menyadari diri mereka sebagai entitas-entitas yang terpisah dari manusia-manusia lain atau hewan-hewan, namun pada dasarnya kebingungan dan "berkeliaran dengan mulut ternganga." Mereka semuanya baru melakukan tur pertama dalam hidup (pertama kali mengunjungi suatu tempat--bumi), jalan pertama mereka (memasuki kehidupan).
Kecuali ada suatu masalah yang terjadi untuk memijarkan jiwa, seperti misalnya rasa empati terhadap orang lain yang stress serta pilihan untuk mengorbankan kenyamanan dirinya untuk mendampingi orang lain, maka pemijaran tidak akan terjadi. 
Kehidupan malas/santai, tinggal di tempat lokalnya saja dengan tugas-tugas sederhana, atau meninggal karena sakit di masa balita, tidak akan memijarkan jiwa/ruh. 
Ada persentase yang lebih besar pada jiwa-jiwa tidak berpijar di benua-benua atau tempat-tempat lokal dimana kehidupan merupakan perjuangan sederhana, tidak terindustrialisasi, tidak dalam komunikasi dengan budaya-budaya lain.
Dengan demikian, negara-negara Dunia Ketiga memiliki presentase jiwa/ruh tidak berpijar yang lebih besar. Dengan demikian, daerah-daerah pedalaman memiliki memiliki presentase jiwa/ruh tidak berpijar yang lebih tinggi ketimbang di wilayah-wilayah urban. Dengan demikian, koridor-koridor kekuasaan hampir selalu memiliki jiwa-jiwa/ruh-ruh matang, karena ini dianggap zona berdampak tinggi, dengan adanya drama-drama tinggi untuk membuat pilihan-pilihan orientasi spiritual (Mengabdi-Kebaikan atau Mengabdi-Ego).

Ruh Yang Tidak Berpijar Tidak Merasa Ada Misi Dalam Hidup
Terjemahan bebas ZetaTalk Aug. 4, 2012

Jiwa-jiwa yang Tidak/Belum Berpijar cukup tidak menyadari status mereka. Manusia-manusia yang berinkarnasi dengan jiwa-jiwa matang boleh jadi memiliki rasa ada misi, atau sesekali deja vu dari kehidupan-kehidupannya terdahulu (reinkarnasi--pen.), dan menyimpulkan bahwa mereka memiliki jiwa/ruh yang berinkarnasi.
Mitos-mitos tentang hantu, tempat-tempat yang dihantui, kunjungan-kunjungan gaib dari orang-orang terkasih yang telah meninggal dunia, serta rutal-ritual dan dogma agama-agama di seluruh dunia mengonfirmasi adanya ruh-ruh, dan bahwa manusia memiliki ruh yang bersemayam dalam dirinya.
Manusia-manusia yang memiliki ruh/jiwa tidak berpijar, pendek kata, menyimpulkan bahwa mereka memiliki jiwa/ruh yang berpijar, dan melanjutkan saja hidup mereka. Ruh yang sirna setelah kematian tidaklah menyakitkan, tidak pula diiringi rasa menyesal.
Jika si manusia memiki rasa ada misi, dan ia bertekad untuk menyelesaikan sesuatu yang akan tertinggal tanpa selesai saat mereka mati, maka ini merupakan sebuah indikasi bahwa ruhnya  telah berpijar!   
Bagi ruh/jiwa yang tidak berpijar, satu-satunya penyesalan dalam diri mereka adalah belum berkesempatan "memakan kue yang telah disimpannya," atau rasa sakit yang baru dialami akibat luka sebelum kematiannya. Bukannya kehidupan dan kematian mereka yang tidak signifkan, melainkan tidak adanya tujuan yang telah dikembangkan di luar hidup mereka. Ini sama seperti sekuntum bunga mawar merah, pohon jati yang besar, atau seekor lumba-lumba. Mereka adalah keindahan dalam hidup, namun tidak memiliki keberadaan spiritual yang bertahan lama. 

Berapa Jumlah Ruh Tidak Berpijar di Bumi?
Terjemahan bebas ZetaTalk: October 31, 2009 

Telah kami nyatakan bahwa hanya sekitar satu milyar dari 6 milyar plus manusia di bumi yang memiliki ruh yang berinkarnasi. Jumlah ini hampir-hampir tidak berubah. Agar jumlah ini bertambah, banyak ruh baru yang sedang berinkarnasi untuk pertama kalinya, karena baru berpijar! Untuk setiap inkarnasi yang berakhir, yang mengantarkan sebuah ruh yang baru berpijar, ada sebuah inkarnasi yang berakhir dimana ruh berinkarnasi ke dalam tubuh hibrida atau dikirim ke sebuah planet penjara (bukannya dikembalikan ke bumi). Dengan demikian, jumlahnya tidak berubah banyak.


Dimana Para Ruh/Jiwa Tidak Berpijar Paling Banyak Diketemukan?
Terjemahan bebas ZetaTalk 4 March 2013

Telah kami nyatakan bahwa ruh-ruh matang cenderung bermigrasi ke kota-kota, di koridor-koridor kekuasaan, zona-zona berdampak tinggi dimana drama-drama tinggi dapat diketemukan. Sedangkan bagian-bagian dunia yang terpencil, tidak terindustrialisasi, dan lesu tidak menarik jiwa-jiwa yang berinkarnasi, yang cenderung bermigrasi ke kota-kota pada kesempatan pertama.

Telah kami gambarkan bahwa Afrika dan Amerika Selatan adalah benua-benua dimana terdapat persentase ruh tidak berpijar yang lebih besar, untuk alasan-alasan ini. Ini juga berlaku bagi area-area pedalaman nonindustri di tempat-tempat lain di dunia seperti misalnya Indonesia atau Karibia atau India atau di dataran-dataran luas di Siberia atau Kanada Utara.
Banyak wilayah ini yang akan rusak parah selamam Pergeseran Kutub mendatang. Indonesia akan tersapu habis selama terjangan air dari Samudera Pasifik yang bergerak ke Samudera Hindia. Siberia dan Kanada Utara akan kebanjiran secara bertahap selama naiknya air laut setelah Pergeseran Kutub, namun bagi orang-orang yang bertahan untuk tinggal di sana, penenggelaman itu akan sama merusaknya dengan penenggelaman tiba-tiba. Amerika Tengah dan Karibia akan lenyap ketika Amerika Selatan meremukkan mereka terhadap Amerika Utara selama Pergeseran Kutub. Dengan demikian, India bukan satu-satunya wilayah yang harus mengantisipasi kematian mendadak. 
Ini bukan tentang bagaimana hidup akan berakhir yang akan menentukan persentase ruh-ruh tidak berpijar di sebuah wilayah, melainkan tantangan dan kesempatan-kesempatan yang ditawarkan oleh kehidupan.