Jam Pergeseran Kutub: Paling Mengerikan

Para alien Zeta menuturkan bagaimana jam pergeseran kutub akan menjadi hari paling mengerikan, namun sekaligus Hari Penyetaraan, atau Hari Penghakiman, dari sudut pandang spiritual (atau peningkatan jiwa manusia). Sebuah hari berskala Kiamat, dan kenyataannya merupakan hari yang pernah menjadi kepunahan-kepunahan dalam sejarah bumi. Berikut event-event jam pergeseran kutub yang dapat diantisipasi.

Terjemahan bebas dari ZetaTalk: Most Terrible Day, ditulis pada 15 Juli 1996]

Tibanya hari pergeseran kutub, seperti yang akan terjadi akibat lewatnya Planet ke-12, akan sedemikian dahsyatnya sehingga tak seorangpun manusia bisa mengabaikannya. Bagi kebanyakan orang, hari itu akan menjadi hari yang paling mengerikan.
  • Mereka yang tak mendapat peringatan tak akan lebih buruk situasinya ketimbang mereka yang pernah mendengar desas-desusnya namun tak mampu melakukan perubahan-perubahan dalam hidup mereka untuk bersiap-siap. Bahkan, tak mendapat peringatan terlebih dulu akan hampir seperti berkat bagi mereka yang tak mampu bersiap-siap. Karena, dengan cara ini mereka tak perlu kepayahan memilih-milih. Mereka yang sudah bersiap-siap berada dalam kecemasan yang sangat, membayangkan yang terburuk. 
Apakah manusia menyadari apa yang akan terjadi tapi tak mampu melakukan persiapan atau tak menyadarinya, efeknya sama saja. Mereka menanti apa yang akan terjadi selanjutnya. Seperti yang telah kami jabarkan, penantian ini bisa dalam berbagai bentuk untuk mengalihkan perhatian, seperti berpesta-pesta atau menyangkal dengan melanjutkan rutinitas seolah-olah segalanya normal saja. Namun bagi kebanyakan orang, penantian tersebut bagaikan hari-hari menahan napas. Mereka terguncang dari saat menyadari bahwa Bumi telah berhenti berputar hingga pergeseran kutub. Pada dasarnya mereka syok selama berhari-hari.
  • Bagi mereka yang tinggal di pesisir pantai, jam ketika kerak bumi bergerak bersama dengan intinya ke posisi barunya bukanlah masa trauma hingga inti dan kerak bumi berhenti. Barulah saat itu gelombang-gelombang laut pasang masif menggulung perlahan-lahan ke daerah-daerah pantai. Pertama-tama pada satu sisi tubuh gelombang, lalu nantinya ketika gelombang menghempas balik dari sisi  yang lain. Kedua sisi gelombang itu sama merusaknya. 
Bahkan berada di tanah tinggi di sepanjang pesisir pantaipun tak akan aman jika gelombang laut tak ada tempat lain yang dituju. Karena, tekanan air di belakang kepala gelombang akan memaksa air naik saat menemui hambatan, sehingga tanah tinggi itupun kebanjiran juga. Menunggangi gelombang tersebut juga akan beresiko terhempas ke apapun yang menjadi halangan di depan, sehingga gelombang akan menelannya bulat-bulat hingga tenggelam--suatu kematian yang tak menyakitkan meski mengerikan. Maka mereka yang berada di pesisir pantai akan mati tergulung ombak, atau telah mati sebelumnya.
  • Mereka yang berada di darat jauh dari jangkauan gelombang laut pasang, akan mengalami gempa-gempa yang menghancurkan. Seluruh bangunan akan terguncang dahsyat hingga runtuh, meremukkan dan menjebak apapun di dalamnya. Namun mereka yang berada dalam rumah-rumah jerami atau tenda-tenda hanya akan terlonjak ke samping. Mereka hanya akan mengalami luka-luka tak berarti. Berbaring di tanah selama masa itu akan menyelamatkan jiwa, karena gesekan di sepanjang tanah akan mencegah orang terlempar. 
Di kota-kota, bangunan-bangunan beruntuhan, menciptakan skenario gempa bumi ekstrim di mana-mana. Orang-orang yang luka banyak yang mati karena kurang perawatan, sementara yang masih hidup lama-lama akan sakit akibat meminum air yang telah terkontaminasi. Oleh karena transportasi lumpuh, kelaparanpun segera memakan jiwa.
  • Mereka yang tinggal di wilayah lempeng yang menyubduksi yang berbatasan langsung dengan laut-laut akan tersapu air laut yang tak terbendung sehingga tenggelam.  
  • Saat bumi berhenti berputar adalah ketika kerak bumi berhenti bergerak sehingga lempeng-lempeng tektonik saling bertabrakan, layaknya kereta api yang sedang melaju lalu tiba-tiba direm. Dalam situasi ini, mereka yang berada di tempat dimana subduksi terjadi sangat cepat di area-area di atas muka laut akan mendapati tanah di bawah mereka memanas (akibat gesekan antarlempeng). Panasnya bisa sampai melelehkan bebatuan. Maka, untuk situasi ini, ketinggian akan menolong, karena semakin jauh jaraknya dari gesekan antarlempeng yang menciptakan panas, akan lebih baik.  
  • Gunung-gunung berapi yang aktif maupun tidak (setidaknya pernah aktif dalam 10.000 tahun terakhir ini) akan meletus dahsyat, menghujani daerah sekitar dengan bebatuan dan abu, serta menjadikan udara super panas, sehingga seluruh kehidupan di dekatnya binasa dalam sekejap.
    • Petir dan badai petir dapat terjadi sebagai efek dari berjatuhannya dinding-dinding nyala api dari bahan-bahan petrokimia yang terbakar, yang terbentuk selama interaksi gas-gas dengan panas vulkanik serta petir yang terus-menerus menghujani. Event ini jarang, namun tak dapat diprediksi dan dapat terjadi di seluruh dunia. Yang menjadi faktor di atmosfer untuk itu adalah angin-angin berkekuatan badai, bukannya tanah luas. 
    Badai-badai api (dinding-dinding nyala api) tersebut sangat dahsyat menghancurkan segala yang dijatuhinya.  Para korban yang terjebak hanya sedikit menyadari karena sudah keburu tertelan dan tak sadarkan diri karena kurangnya oksigen. Sebagaimana pembakaran spontan pada manusia, korbannya tak sadarkan diri selama proses pembakaran itu. Cara terbaik untuk menyelamatkan diri adalah dengan berlindung di bawah atap metal yang tak akan terbakar.
    • Pasca pergeseran kutub, di daerah-daerah terpencil, orang-orang selamat hanya mengalami lebih sedikit masalah runtuhnya peradaban ketimbang perubahan-perubahan iklim. Pada mulanya toko-toko akan kehabisan suplai, lalu yang benar-benar menjadi kekhawatiran selanjutnya yang muncul adalah ketidakmampuan menumbuhkan tanaman pangan. 
    Karena atmosfer begitu suram dengan awan-awan vulkanik yang menggantung rendah dan senantiasa hujan, para survivor pun bertanya-tanya apakah matahari akan kembali bersinar. Mereka berkeliaran mencari wilayah-wilayah yang kira-kira disinari matahari. Begitu kelaparan, mereka lalu memakani apapun yang tampak di depan mata, seperti misalnya ranting-ranting pohon mati, namun rasa lapar tak kunjung reda. Kematian akibat kelaparan relatif tak menyakitkan, karena pikiran berkabut, pandangan suram, dan kantuk menyerang, sehingga pada dasarnya orang tertidur saat ajal menjemput. 

    Baca juga: