Kedukaan dan Emosi-Emosi Yang Ditekan

Kalau manusia memiliki sifat-sifat yang dianggap negatif (yang umumnya dikenal manusia sebagai emosi-emosi negatif), maka itu bukan karena dosa maupun hasil rekayasa genetika makhluk-makhluk dari alam lebih tinggi yang jahat. 
Hal ini merupakan sifat alami dari evolusi manusia dalam perkembangan rekayasa genetika yang telah dilakukan selama ini dari masa ke masa oleh makhluk-makhluk dari alam-alam lebih tinggi. Para pakar rekayasa genetika ini juga mengalami perkembangan dalam kemampuan mereka menciptakan makhluk hidup, seiring dengan pertumbuhan  mereka sebagai ruh-ruh.
Seperti yang pernah dijelaskan sebelumnya, alam semesta dimana bumi berada diatur dan diawasi oleh sebuah badan yang merupakan kepanjangan dari apa yang dikenal secara umum di Indonesia sebagai Tuhan Yang Maha Esa. 
Badan ini dipimpin oleh ruh-ruh dengan tingkat spiritual yang sangat tinggi yang Mengabdi-Kebaikan. Sedangkan ruh-ruh yang Mengabdi-Ego, yang keberadaan mereka di tahan hanya di alam densitas ke-4, sama sekali tidak memiliki wewenang untuk menjalankan alam semesta, kecuali dalam menjawab Panggilan manusia yang Mengabdi-Ego dengan peraturan-peraturan ketat  yang harus dipatuhi--pelanggaran terhadap peraturan itu akan berdampak berupa pengambilan paksa dari tugas itu. [Baca: Dewan Alam Semesta Ini]
Kembali ke masalah sifat-sifat yang disebut negatif, berikut para alien Zeta Pengabdi-Kebaikan menjelaskan garis besarnya, dan bagaimana sifat-sifat negatif itu akan dibuang melalui rekayasa genetika ketika manusia berada di alam Densitas ke-4 yang Mengabdi-Kebaikan.

Mereka Yang Berduka
Terjemahan bebas ZetaTalk: Those Who Mourn, Note: written by Jul 15, 1995

Orang tidak dapat melepas keterikatan pada orang yang ia kasihi hanya karena orang itu telah meninggal. Orang yang terkasih itu masih hidup dalam hati dan pikiran orang yang mengenangnya, yang merindukannya atau yang tidak sempat menyelesaikan urusan dengannya.
Rasa duka paling akut terasa ketika yang tercinta yang telah meninggal itu mengisi lubang yang belum terisi. Sisi tempat tidur dimana dulu pernah terbaring sosok yang hangat dan mendengkur, kini dingin dan kosong. Tak ada orang untuk diajak bicara, berbagi, diganggu. Rencana-rencana menjadi hancur berantakan, mungkin, karena orang yang memungkinkan berjalannya rencana itu telah pergi selama-lamanya. Rasa duka membuat orang kehilangan, terabaikan, tidak dicintai, dan ketakutan.  
Mereka harus mulai lagi dari awal dalam banyak hal, tapi bagaimana?
Ada begitu banyak kenyamanan, yang dianggap akan kokoh, kini telah menguap. Ada yang merasakan kekosongan yang memedihkan yang sangat lama, dan jika rasa kosong yang memedihkan itu tidak dapat diisi, banyak orang yang mengikuti yang tercinta, mati. Suatu jenis bunuh diri, karena rasa duka yang kronis dapat membunuh.
Apakah hal itu baik? Para terapis Anda akan memberi tahu Anda tentang pentingnya untuk berduka, untuk melepas emosi lalu membuangnya. Dan mereka itu, tentu saja, benar.
Emosi-emosi yang ditekan akan meracuni. Lalu langkah selanjutnyalah yang paling sering diabaikan: membangun hidup kembali. Istri yang setia, yang menaruh bunga-bungaan di makam dari tahun ke tahun, belum mengisi hidupnya dengan rasa peduli terhadap orang-orang lain. Apakah ada orang-orang di sekitarnya yang memerlukan perawatannya? Ia belum melihat, belum memperhatikan.
Menolak untuk membangun hidup kembali jarang sekali merupakan apa yang diakui oleh orang yang berduka--kesetiaan.  Itu alasan terhadap apa yang sesungguhnya sedang terjadi--rasa enggan dan penyangkalan.
Membangun kembali berarti melangkah masuk ke dalam teritori baru, menguji dan membuktikan kepada diri sendiri, mengambil resiko, menghadapi penolakan-penolakan, dibakar emosi atau dikritik (habis-habisan). Jauh lebih mudah untuk membawa bunga-bungaan ke kuburan dan mendapat anggukan dan senyuman yang mengagumi dari komunitas. Begitu setia.
Emosi-Emosi Yang Ditekan
Terjemahan bebas dari ZetaTalk: Repressed Emotions, Note: written by Jul 15, 1995

Permukaan air tenang yang halus dapat menipu. Seseorang bisa tampak begitu damai, begitu tenang, "rambut"nya seperti tidak pernah berantakan. Lalu, di kemudian hari, emosinya meledak, dan terjadilah pembunuhan, penganiayaan atau bunuh diri.
Mungkin akan lebih baik kalau orang sedikit damai saja, karena itu akan lebih mendekati  kebenaran.
Mengapa manusia menekan emosi-emosi mereka, dan bagaimana hal itu mungkin terjadi? Apakah selulruh spesies cerdas melakukannya?
Manusia memiliki kapasitas genetika untuk menekan emosi-emosi yang tidak ada. Di seluruh Alam Semesta, sedikit saja spesies cerdas yang memiliki kapasitas ini, dan kondisi itu hanya muncul ketika rekayasa genetika telah menciptakan kekacauan ini. Emosi-emosi yang ditekan tidak terjadi secara alami, selama evolusi. 
Lalu bagaimana hal ini terjadi, pada manusia-manusia?
Pada dasarnya seluruh spesies di planet Bumi dulunya adalah reptil, dan ini merupakan bentuk umum di seluruh Alam Semesta. Bentuk mamal dan bentuk hominoid relatif jarang, namun didambakan karena kapasitas mereka untuk memiliki rasa empati yang kuat, yaitu emosi-emosi kepedulian mereka. Di dunia-dunia dimana mamalia telah tumbuh, mamalia-mamalia itu adalah spesies pilihan untuk rekayasa genetika, bahkan dimana reptil-reptil sesungguhnya bisa jadi lebih cerdas saat itu.  
Inilah kasusnya sebelumnya dengan bumi, dan rekayasa genetika mamalia berjalan pada jaman awal. Namun, oleh karena mayoritas rekayasa genetika dilakukan oleh spesies reptil, yang merupakan mayoritas Alam Semesta, pada suatu titik, rekayasa genetika yang akan dilakukan di bumi dilakukan oleh spesies reptil. Mereka, secara alami, memasukkan apa yang mereka anggap penting.
Kemampuan untuk menekan emosi-emosi berasal dari fakta bahwa manusia memiliki beberapa otak: otak bagian depan (bersifat mamalia), otak bagian tengah (percampuran antara mamalia dan reptil), dan otak awal (reptil).
Ketika manusia ingin mengingat semuanya, mereka merekam informsi dalam seluruh otak itu, meskipun informasi itu bisa jadi bervariasi dalam penyimpanan-penyimpanan data (data banks) yang berbeda. 
Ketika manusia ingin melupakan, mereka memutuskan rantai ingatan di antara otak bagian depan dan otak-otak lainnya, lalu terjadilan amnesia. Otak bagian tengah, sebagai perantara, bertanggung jawab untuk menjaga semuan lurus, dan melakukannya dengan penuh tanggung jawab. Kalau tidak demikian, manusia telah tidak akan mampu berfungsi dengan baik untuk bertahan hidup dan berkembang-biak.  
Ingatan atau kesadaran terhadap berbagai emosi tidaklah krusial untuk bertahan hidup, dan,  faktanya, telah agak membantu hanya selama masa-masa beradab.
Prilaku mata gelap yang meledak selama masa itu dapat membuat orang dipecat atau dikucilkan, maka kemampuan untuk menekan emosi-emosi telah, kalaupun ada, dipilih untuk perkembangbiakan. Mereka yang tidak dapat menekan emosi-emosi dengan baik diusir dari suku atau kotanya, dan tidak bernasib cukup baik untuk mengembangbiakkan gen-gen mereka. 
Namun, di masa mendatang, di alam Densitas ke-4 Mengabdi-Kebaikan, kecenderungan ini akan dibuang secara rekayasa genetika. Tak ada rahasia-rahasia di alam Densitas ke-4 Mengabdi-Kebaikan, bahkan tidak terhadap diri sendiri.

All rights reserved: ZetaTalk@ZetaTalk.com

Baca juga: