Menghadapi Para Pengabdi-Ego


Membentuk grup survival yang solid Mengabdi-Kebaikan akan sangat sulit, karena para Pengabdi-Ego ada dalam setiap lingkaran hidup manusia--dalam keluarga dan teman-teman. Setting masyarakat dengan orientasi spiritual yang membaur ini telah disengaja oleh para Ruh Pembimbing demi pertumbuhan jiwa manusia, dimana manusia belajar menghadapi orientasi spiritual yang berlawanan untuk persiapan menghadapi perpisahan dengan orientasi spiritual yang berlawanan, cepat atau lambat, dalam skema masa Transformasi Bumi.

Seperti yang mungkin telah disadari dan dikenali sebagian orang, sifat menonjol para Pengabdi-Ego adalah mudah berbohong, mudah mengingkari janji atau mengingkari ucapan-ucapan yang telah mereka nyatakan dengan memberi alasan-alasan atau begitu saja mengeluarkan pernyataan bertolak-belakang (kecuali ada kelainan syaraf). Mereka juga gemar mem-bully dengan satu atau lain cara.
Namun banyak juga para Pengabdi-Ego yang tidak menunjukkan sifat-sifat itu atau sifat-sifat buruk lainnya, karena terselubungi oleh karisma mereka atau kepiawaian mereka dalam bertutur kata, bahkan terdengar bijak dan halus. Tak jarang dari mereka yang pandai memanipulasi (secara tak kentara) kata-kata, keadaan, dan, bahkan pikiran orang. Dengan demikian, mereka sulit dikendalikan.
Lalu bagaimana cara menghadapi para Pengabdi-Ego yang ada dalam grup survival yang berorientasi Mengabdi-Kebaikan,.demi kelangsungan hidup grup itu, terutama jika mereka adalah anggota keluarga atau kerabat atau teman baik atau masih kanak-kanak? Adakah cara yang efektif? Berikut penjelasan para alien Zeta Pengabdi-Kebaikan, yang juga memberi contoh melalui anak kecil yang Mengabdi-Ego.

Terjemahan bebas dari ZetaTalk Chat Q&A for October 9, 2010

[Berdamai Dengan Pengabdi-Ego Hanya Akan Memanjakan]
Pendekatan yang sering dilakukan orang terhadap mereka yang Mengabdi-Ego adalah untuk menuruti saja apa yang mereka inginkan atau lari dari mereka.
Jiwa/Ruh (jati diri) yang Mengabdi-Ego dalam diri anak kecil dapat membuatnya mengamuk terus hingga si anak kecil/bayi itu mendapatkan apa yang ia mau. Oleh karena tuntutannya itu biasanya berupa mainan atau permen, si ibu biasanya menuruti saja karena konsekuensi-konsekuensinya sedikit saja. Damai, akhirnya. 
Jika si anak lebih besar dan lebih kuat dari anak-anak sebayanya, maka ia akan menjadi bully, sehingga mereka yang ingin menghindar dari luka atau pakaian yang dikoyak atau gigi patah akan menuruti saja keinginannya. Uang jajan sekolah akan diberikan agar tidak dipermalukan. Semuanya atas nama kedamaian. 
Ketika si anak yang Mengabdi-Ego tumbuh semakin besar, ia belajar berbagai tekhnik memanipulasi. Ia mungkin akan berupaya mempermalukan atau memeras para anggota keluarga dengan mengungkapkan informasi memalukan secara publik kecuali diperbolehkan melakukan sesuatu sesuai dengan caranya, misalnya.  
Jika memiliki aset-aset kekayaan, si anak yang Mengabdi-Ego itu akan berupaya menyuap orang-orang, dan mendapati bahwa cara ini memungkinkannya menjadi pimpinan kelompok, memperluas cakrawalanya (wilayah kekuasaannya--pen.).   
Mereka yang telah dibesarkan bersama-sama saudara yang Mengabdi-Ego atau yang membesarkan anak yang Mengabdi-Ego dapat mengenali tanda-tandanya. Bahkan manusia yang peragu (belum dapat memutuskan ingin menjadi Pengabdi-Kebaikan atau Pengabdi-EGo--pen.), yang condong Mengabdi-Ego, akan sesekali menunjukkan tanda-tanda itu.

[Berdamai Dengan Pengabdi-Ego Memperburuk Kondisi Hidup]
Berdamai, dalam setiap langkah (dalam menghadapi Pengabdi-Ego--pen.), akan membuat anak yang Mengabdi-Ego besar hati, sehingga orang akan semakin sulit untuk membuat konfrontasi apapun dengannya nantinya.
Lalu si anak yang Mengabdi-Ego itu tumbuh dewasa dan, akhirnya, menemui oposisi dari seseorang yang telah belajar cara menangani pola pikir Pengabdi-EgoPertama-tama, (dari pihak si Pengabdi-Ego) ada tuntutan-tuntutan, lalu, ketika tidak dipenuhi, keluarlah ancaman-ancaman dan hinaan-hinaan serta upaya-upaya manipulasi. Ketika cara-cara itu tidak berhasil, si Pengabdi-Egopun terbakar emosinya, dan perkelahian terjadi. 
Situasi ini hanya akan berakhir ketika si individu Pengabdi-Ego merasa bahwa ada target yang lebih mudah di tempat lain sehingga meninggalkan pertempuran itu.
[Pengabdi-Kebaikan Jangan Pernah Menyerah Pada Pengabdi-Ego]
Polarisasi tengah meningkat, sehingga grup-grup Pengabdi-Kebaikan diperkuat, dan para Pengabdi-Ego dapati diri mereka tidak merasa nyaman dengan para Pengabdi-Kebaikan yang berfokus pada kepedulian dan perhatian, maka mereka (para Pengabdi-Ego) pun pergi.
Namun jika para Pengabdi-Ego tidak mendapati opsi-opsi di tempat lain, mereka mungkin akan mencoba mendominasi di lingkungan Pengabdi-Kebaikan.
Dalam situasi seperti ini, Anda seharusnya jangan menyerah pada kemauan mereka hanya untuk berdamai. Mereka harus pergi, karena, kalau tidak, masalahnya tidak akan pernah selesai.