Pasca Pergeseran Kutub: Antisipasi Kelaparan Hebat

Untuk saat ini, orang masih dapat bertahan hidup, boleh dibilang, seberapapun sulitnya, di kota-kota dan dimana-mana. Namun ketika pergeseran kutub telah tiba lalu usai, dan segala sesuatunya di dunia rusak parah dan hancur-lebur, bagaimana kemungkinan bertahan hidup para survivor dimana-mana, dan bagaimana kemungkinan persediaan makanan dari alam? Berikut wawasan para alien Zeta.

Terjemahan bebas dari ZetaTalk: Starvation, Note: written Dec, 2002

Di banyak tempat di dunia, makanan dibatasi pada apa yang dapat ditumbuhkan, atau ditangkap atau bunuh di hutan atau padang rumput, oleh komunitas itu sendiri atau.
Mungkin akan ada buah beri di musim panas, tapi tidak di musim dining; sayuran segar di musim panas, yang bersifat musiman, namun, hanya ada umbi-umbian kering di musim dingin, yang pada dasarnya dikeringkan untuk diawetkan.
Daging juga mungkin hanya ada sesekali---kalau sukses berburu---dan akan dirayakan. Kalau komunitas dekat dengan tempat pemancingan--sungai atau danau atau mungkin pantai---ikan sebagai makanan tetap dapat diharapkan dengan suatu cara.
Manusia modern telah terbiasa dengan supermarket, dimana tersedia hasil bumi segar datang dari seluruh dunia dalam jumlah berlimpah.
Kalaupun tidak segar, ia telah mengekspektasi beraneka ragam makanan beku atau makanan kering, sehingga menu makanannya tak tergantung musim dan menjangkau seluruh dunia. Bosan dengan makanan musiman, manusia modern berksperimen dengan resep-resep dari berbagai budaya - Meksiko, China, Italia, India, misalnya.
Apa yang akan harus dimakan oleh manusia modern ini setelah pergeseran kutub, ketika supermarket-supermarket dijarah dan tak akan ada distribusi baru?
Kami akan membahas hal ini berdasarkan jenis populasi, karena hasil-hasilnya dapat bervariasi.

[Di Kota]
Mereka yang berada di kota-kota, yang telah kehilangan segalanya dan belum pernah memiliki pengalaman berkebun dan beternak, atau menangkap ikan di alam liar yang memerlukan keahilan, akan mengalami keguncanan yang paling kasar.
Pertama-tama, mereka akan terisolasi di kota-kota mereka oleh kerusakan di sekeliling mereka, sedemikian rupa sehingga mereka tidak dapat bepergian ke pedesaan. 
Kedua, makanan akan habis di kota-kota, sedemikian rupa sehingga para survivor yang kelaparan akan melihat ke sekeliling mereka, bahkan pada satu sama lain, begitu kelaparan. Kebanyakan akan kelaparan, menjadi semakin lemah dan semakin sakit hingga kematian menjemput mereka.
Mereka yang telah menyerah pada desakan untuk mengkanibal juga akan mati, hanya karen sumber makanan akan habis. 
Dengan demikian, menumbuhkan makanan di kota-kota bukanlah topik yang valid, karena aktifitas semcam itu tidak akan ada.

[Di Pinggiran  Kota]
Mereka yang berada di pinggiran kota, dimana ada tanah-tanah di sekeliling mereka dan, mungkin, memiliki akses langsung ke daerah pedesaan, akan, pertama-tama, menipiskan persediaan makanan pribadi mereka, pasar-pasar lokal, kemudian mulai berkeliaran ke desa-desa.
Hewan-hewan peliharaan keluarga akan dibunuh dan dipanggang, dan lemak yang begitu didambakan itu akan disayat untuk digunakan menjaga tubuh tetap bertahan selama berbulan-bulan. 
Pada akhirnya, keluarga-keluarga suburban ini akan perlu belajar mencari-cari (mengais-ngais) makan di alam, membalik batang-batang kayu untuk mencari tempayak dan cacing, dan berusaha menangkap ikan di aliran-aliran air atau sungai.
Menangkap mamalia kecil seperti, misalnya, tikus--hewan pemakan segala--sebagai sumber makanan juga bisa jadi dilakukan anak-anak, dalam keputusasaan mereka, dan mungkin bahkan akan dimakan mentah-mentah jika pikiran para orang tua mereka menjadi tumpul karena kegilaan. 
Cacing tanah dapat memakan kotoran dan bahan-bahan busuk, tapi jumlahnya tidak besar, jadi tidak bisa diharapkan dapat memenuhi kebutuhan makanan sebuah komunitas dari kotoran mereka sendiri sebagai makanan cacing. 
Dengan demikian, (beternak cacing) menanam tanaman pangan, untuk bertahan hidup di pinggiran-pinggiran kota, akan menjadi praktek mencari makan bagi mereka yang mampu.

[Di Desa]
Mereka yang berada di desa, yang bertani, atau yang terbiasa dengan berkebun dan praktek-prakterk berburu, akan mengambil taktik berbeda dari sejak awalnya. Petani yang memiliki ternak akan segera dapati ternaknya menjadi kurus, terhuyung-huyung kelaparan, dan si petani akan memakani kawanan ternaknya untuk menghabiskannya. Maka, para petani di sana akhirnya akan menyimpulkan bahwa hewan-hewan tertentu lebih berguna ketimbang yang lainnya, pasca Pergeseran Kutub.
Ayam makan serangga, sehingga akan mencari makan sendiri, lalu pulang untuk bertelur jika diberi tempat bertengger tersendiri yang aman. Bebek juga memakan apapun yang tumbuh di atau di sekeliling kolam, yang jumlahnya akan banyak sekali saat gerimis, dan tidak memerlukan tempat kering untuk bertengger.
Kambing, yang memakan apapun, serta babi yang suka menggali-gali tanah untuk mencari makanan apapun, juga dapat dipelihara dalam batasan-batasan jika lingkungan dapat mempertahankan mereka.
Sebagian tetumbuhan akan dapat terus berjuang hidup -- rumput liar (tangguh), dan tanaman yang biasanya tumbuh dengan cahaya suram atau kecil.
Jika grup survival tidak meriset dan mengantisipasi lingkungan ini, dan mendapati diri mereka tanpa benih atau semaian yang tumbuh untuk kebun yang mengandalkan cahaya temaram, maka mereka akan mengunyah rumput liar sebagai alternatif tempayak dan memanggang dengan api unggun kecil kala senja apapun yang dapat mereka tangkap.
Para petani memiliki sifat yang penuh akal, karena berada di anak tangga terendah dalam budaya-budaya yang dianggap beradab, dan akan beradaptasi. Jika suatu jenis rumput tertentu dapat tumbuh dengan baik, terbukti dapat dimakan, maka petani akan merawatnya, menumbuhkannya, melindunginya dari alam liar, dan menjualnya. 
Dengan demikian, menumbuhkan makanan di desa adalah mungkin, tergantung pada seberapa jauh kemampuan beradaptasi petani di wilayah itu.

[Di Pantai]
Para survivor di daerah pantai akan mendapat akses untuk memanen dari laut. Ikan akan berkembang-biak subur di lautan, maka komunitas-komunitas survival di pesisir-pesisir harus mengandalkan ini sebagai sumber pangan utama.
Komunitas-komunitas itu bisa jadi bosan dengan ikan, maka mereka bereksperimen dengan resep-resep rumput laut untuk variasnya, dan pergil jauh ke daratan untuk berdagang dengan komunitas-komunitas lain yang akan menghargai ikan kering atau yang diawetkan.
Di dalam daratan, ikan yang hidup di kolam dan saluran-saluran sungai juga akan selamat, namun tidak dalam jumlah lebih dari yang dapat dipertahankan alam.
Apa makanan ikan-ikan ini? Alga, eceng gondok, serangga-serangga yang memakani kotoran di saluran-saluran air. Semua ini agak tergantung pada sinar matahari, karena basisnya adalah tetumbuhan di saluran-saluran air. Maka, ikan native bisa jadi sesungguhnya telah berkurang jumlahnya di wilayah-wilayah mendung, sehingga, jika ditangkap, dianggap tangkapan berharga. 
Bagi para petani yang beralih ke aquaculture, dimana tanaman dapat ditumbuhkan di kotoran manusia, lalu menjadi pakan ikan atau ternak, ini terbukti menjadi sumber yang dapat diperbarui yang menambahi gudang makanan.
Di sini, lagi-lagi, kuncinya adalah cahaya, karena untuk merubah kotoran menjadi makanan, orang memerlukan tanaman yang membutuhkan setidaknya cahaya.
All rights reserved: ZetaTalk@ZetaTalk.com