Dosa? Kesucian?

Standar moral agama sendiri sering kali menjadi acuan manusia beragama dalam menilai orang lain yang tidak seiman. Karena hal ini, sudah umum jika kita mendengar orang menjadi mudah menuduh orang lain yang tak seiman itu berbuat dosa karena prilaku-prilaku tertentu yang tidak selaras dengan keyakinan/agama si penuduh. Demikian juga halnya dengan konsep kesucian, yang bergandengan dengan konsep dosa.

Namun sudah tentu tidak semua orang di dunia memiliki agama formal ataupun beragama. Jadi konsep dosa yang diterapkan pada orang lain yang tidak seiman seharusnya tidak relevan, kalau tidak mau dibilang paling benar sendiri.

Bagaimana pendapat para alien Zeta Pengabdi-Kebaikan, sebagai bagian dari Dewan Alam Semesta Ini, tentang apa yang manusia sebut dosa? Berikut penjelasan mereka.

Terjemahan bebas dari ZetaTalk: Sin, Note: written Aug 15, 1995

Salah satu alat yang digunakan oleh para elit religius untuk dapat terus mengendalikan para bawahan (umat) mereka adalah konsep dosa, melalui apa mereka membuat setiap orang gugup, dan mereka memegang kunci keselamatan.
Peraturan-peraturan, seperti 10 Perintah Tuhan, yang memandu masalah-masalah ini, hampir sepenuhnya berfokus pada tindakan-tindakan yang tidak boleh dilakukan dan pada cara bagaimana agar dapat mematuhi peraturan-peraturan.
Rupa-rupanya, dengan demikian, dengan "tak bergerak" , orang yang beriman akan diselamatkan dari kutukan neraka. Siapa yang akan mengambil keuntungan dari ini? Yaitu mereka yang berada dalam posisi otorita dalam orientasi Mengabdi-Ego, baik manusia maupun alien dari alam lebih tinggi (para gaib jahat, yang juga dikenal sebagai 'setan yang membisiki' di kalangan agamais--pen.).
Bukan kebetulan kalau Gereja (atau Islam, tergantung dominasinya --pen.) dan negara sering kali bersekutu.
Keduanya ingin mengendalikan, untuk membatasi pikiran dan tindakan mandiri rakyat, untuk memfokuskan perhatian rakyat agar menjauh dari kebebasan-kebebasan dengan menggambarkan bahaya-bahaya dalam kebebasan itu. 
Bagaimana hal ini memberi keuntungan bagi para Pengabdi-Ego itu? Dalam dua cara.
~~Pertama, ketika manusia lebih mengkhawatirkan tentang ketaatan terhadap peraturan-peraturan dan membatasi reaksi-reaksi, maka mereka tidak berpikir tentang cara membantu orang lain. Orang cuma perlu berada di dalam gedung bioskop ketika terjadi kebakaran atau di kapal yang sedang karam, untuk melihat apa yang terjadi pada manusia-manusia ketika bahaya tak terelakkan mendekat. Panik, takut, "saya duluan", maka segala pikiran untuk menolong yang lainnya pun menjadi tersisihkan hingga diri sendiri aman.
Adalah orang yang langka, si pengecualian, yang memikirkan orang lain dalam situasi-situasi ini, sebagaimana perlakuan dan perhatian yang diterima oleh para pahlawan membuktikan hal ini. Mereka diberi penghargaan, bahkan setelah kematiannya.
Bagaimana konsep dosa, sebagaimana yang dipublikasikan oleh para elit religius, menguntungkan para Pengabdi-Ego? Yaitu dengan membatasi rasa peduli pada orang-orang lain.
~~Kedua, ketika manusia membangun diri mereka sendiri di seputar sebuah set peraturan, mereka memberi kekuasaan dan otorita pada orang-orang yang menetapkan peraturan-peraturan itu, dan, pada dasarnya, menyerahkan diri mereka sebagai barang kepemilikan kepada mereka yang menetapkan peraturan.
Mereka telah dimiliki. Mereka tidak bebas.
Kepatuhan buta tidak memerlukan pilihan atau kualifikasi apapun.
Kepatuhan buta bukanlah sesuatu seperti ketika orang menerabas lampu merah dalam kondisi darurat, karena mengetahui lampu Merah dan Hijau sekedar cara praktis untuk mencegah tabrakan di persimpangan-persimpangan. 
Kepatuhan buta terjadi ketika umat beragama mengikuti peraturan-peraturan, agar tidak berdosa, dan membiarkan para elit religius menguasai ketika terjadi pelanggaran-pelanggaran. Siapa yang akan menjadi hakimnya? Bukan Tuhan, melainkan mereka yang memiliki sang pendosa.
Ini semua (sesungguhnya) adalah praktek seumur hidup dalam orientasi mereka yang Mengabdi-Ego sepenuhnya, selama kehidupan di alam Densitas ke-4. Di sana, peraturan keras ditegakkan dengan kaku dan peraturan-peraturan melalui apa orang dapat dihukum benar-benar sewenang-wenang. [Baca: Sifat Kehidupan Para Alien Jahat/Pengabdi Ego]
Mereka yang kuat, yang menetapkan peraturan-peraturan, memutuskan tidak hanya peraturan-peraturan apa yang harus ditetapkan tapi juga kapan pelanggaran-pelanggaran terjadi. 
Bukannya orang pergi ke Neraka karena berdosa, orang malahan pergi ke Neraka karena terlalu khawatir akan berdosa.
Maka, dari pada berfokus pada peraturan-peraturan, manusia akan lebih baik kalau berfokus pada apakah prilaku mereka itu membantu atau menyakiti orang lain--arti penting sejati tindakan-tindakan mereka.
All rights reserved: ZetaTalk@ZetaTalk.com