Pasca Pergeseran Kutub: Reaksi Pertama dan Solusi

Dalam hitungan jam setelah pergeseran kutub usai, hal pertama yang dapat diantisipasi dari para survivor adalah amarah. Berikut penjelasan para alien Zeta, beserta saran mereka untuk mengatasi masalah amarah ini.

Terjemahan bebas dari ZetaTalk: Hour After, Note: written Dec, 2002

Di seluruh dunia, para survivor pergeseran kutub akan bereaksi secara berbeda, tergantung pada tingkat pengetahuan mereka sebelumnya dan kepribadian mereka. Lihatlah ke sekeliling Anda ke para survivor bencana badai, puting beliung atau sambaran petir.
Para individu ini merasa hancur hati mereka dan, pada dasarnya, syok. Mereka paham bahwa ada sesuatu tak terduga yang telah terjadi, dan telah kehilangan orang-orang yang mereka cintai, kehilangan kepemilikan, dan mungkin mereka sendiri terluka sehingga kehidupan sebagaimana yang mereka ingat tidak dapat kembali, dan berduka.
Ketika mereka selamat dari bencana yang dapat diekspektasi, seperti hujan badai yang mendekat misalnya, dimana mereka telah mengencangkan jendela-jendela dan mengikat apapun yang mungkin dapat diterbangkan angin, para survivor itu mungkin merasa marah pada diri mereka sendiri karena kurang persiapan, atau marah kepada para dewa karena telah mengirim badai itu, atau marah kepada para pihak berwenang karena tidak mengeluarkan peringatan dini, atau marah kepada perusahaan asuransi karena tidak mengganti barang yang hilang.
Pendek kata, marah adalah modenya. Kini tambahkan pada masalah itu, kehancuran hati tambahan karena tidak ada bantuan yang datang, dan, bahkan, mereka yang sekedar berduka karena kehilangan akan menjadi marah.
Bahkan jika para survivor telah mengekspektasi pergeseran kutub, telah berada di tempat yang mereka anggap aman dan telah mengikat seluruh suplai dan mengamankan seluruh orang yang dicintai dari gempuran angin dan air, amarah itu masih akan ada. Bahkan kalaupun mereka telah meyakinkan diri mereka bahwa mereka memahami bahwa bencana itu adalah kejadian astrofisika yang normal, dan telah mempersiapkan diri, amarah adalah reaksi lumrah terhadap kehilangan atau serangan. 
Dengan demikian, para survivor, bahkan di kamp-kamp dimana semua orang telah mempersiapkan diri secara mental, akan menjadi marah, berwajah merah, dan ingin meledak oleh suatu atau lain alasan. Apa yang harus dilakukan terhadap amarah itu?
Arahkanlah ke aktifitas, aktifitas yang produktif.
Alam, demi pertahanan hidup, telah membangun ke dalam hewan manusia naluri untuk lari dari atau menghadapi (flight or fight) masalah, maka Anda dapat mengekspektasi sifat hewan manusia Anda ingin melakukan yang satu atau yang lainnya itu.

  • Ada orang-orang yang akan lari, histeris, mencoba melarikan diri dari kehancuran dan hanya akan kembali setelah energi mereka terkuras dan mereka dapat tenang kembali. 
  • Ada orang-orang yang ingin berkelahi dengan sesuatu, dan akan melampiaskan emosi ini pada grup, kecuali diarahkan ke tempat lain. Dalam kasus-kasus seperti ini, pengarahan yang cepat untuk menyelamatkan suplai ini atau itu, menyelamatkan anak ini atau itu yang akan mati kehabisan darah, untuk lari ke kamp lain untuk mencari tahu nasib mereka, akan mengarahkan energi ini menjadi tindakan, yaitu tujuan dari emosi untuk lari atau menghadapi. 
  • Mereka yang berkepala dingin, dan mereka yang berada di sekeliling mereka itu yang mungkin perlu mengambil alih kalau-kalau yang berkepala dingin itu tidak begitu tenang sebagaimana ekspesktasi, setelah pergeseran kutub, harus mempersiapkan diri dengan daftar tugas tadi dan meneriakkan perintah-perintah, segera. 

Jangan menanti hingga pecah perkelahian, cekcok, dan ledakan emosi dalam grup itu, dan keharusan memperbaiki hubungan nanti.
Persiapkan diri pada menit-menit pertama setelah pergeseran kutub, ketika para survivor tengah bermunculan dan mengibas-ngibaskan debu di tubuh mereka dengan wajah memerah dan mencari-cari musuh.
All rights reserved: ZetaTalk@ZetaTalk.com