Bahasa Ruh/Lidah dan Automatic Writing?


Dalam dunia kreatif atau supranatural (bagi sebagian orang) ada yang dikenal dengan automatic writing (tulisan otomatis). Automatic writing adalah penulisan yang terjadi secara otomatis yang dilakukan orang tanpa berpikir atau tanpa menyadari apa isi tulisannya, dengan hasil tulisan yang berantakan, tak jelas, atau teratur dan indah jika ia adalah seorang seniman atau seorang pakar. Sebagian pelakunya mengakui hal tersebut memberinya suatu orgasme.
Sebagian orang meyakininya sebagai lebih merupakan hasil bawah sadar, karena tak jarang isinya merupakan hal-hal yang sudah diketahui orang lain, misalnya kesimpulan dari event-event atau informasi-informasi pribadi yang didapat orang yang bersangkutan selama ini namun selalu ditolak oleh kesadarannya sendiri karena rasa tak percaya atau rasa takut yang didasari oleh, misalnya, agama atau kulturnya. Sedangkan sebagian orang lainnya meyakininya sebagai hasil pemikiran dari alam gaib, yang digerakkan atau dipandu oleh sosok gaib.
Tulisan-tulisan semacam ini (meskipun tak selalu disadari sebagai hasil automatic writing) tak jarang dibagi dan dibahas melalui internet, dan tak sedikit yang memandangnya sebagai panduan dari alam gaib--pesan dari guru gaib. Para alien Zeta menjelaskan fenomena tersebut sebagai sebuah pelampiasan (ekspresi) dari keterhubungan antara alam sadar dan bawah sadar orang mengenai hal yang dianggap penting baginya kala itu. Berikut sebuah contoh produksi automatic writing:
Seseorang pada mulanya tidak meyakini nubuat kuno tentang perubahan-perubahan bumi yang ekstrim atau tentang Akhir Aaman, lalu ia dibombardir oleh berbagai info, opini, dan bukti-bukti alam tentang nubuat tersebut sedemikian rupa sehingga nalarnya mulai terusik dan mulai mencari jawaban dari dalam dirinya (dari bawah sadarnya); rasa penasarannya yang tinggi memicu koneksi antara alam sadar dan bawah sadarnya dalam hal itu, mengolah info-info yang ada. Selanjutnya, koneksi itu menghasilkan buah pemikiran yang baginya seperti baru dan menakjubkan, karena baru disadari oleh alam sadarnya. Iapun mulai menuliskannya secara langsung, begitu saja, membiarkan alam bawah sadarnya yang memimpin. Kata-kata yang tertuang dapat menjadi indah kalau ia seorang seniman, tapi bisa jadi kacau kalau ia orang awam. Lalu ia memaknainya sebagai pesan dari alam gaib. Dan orang lain juga menganggap info tersebut dari alam gaib karena kepercayaan diri si penutur, meskipun bisa jadi info tersebut tak jauh beda dengan apa yang selama ini disampaikan berbagai orang, meskipun belum tentu merupakan info yang valid.
Automatic writing juga digunakan sebagian orang sebagai sebuah cara untuk mengatasi writing block. Sebagai tambahan, sejalur dengan ini adalah automatic drawing. Bagaimana wawasan para alien Zeta mengenai fenomena ini? Berikut penjelasan mereka.

Terjemahan bebas dari ZetaTalk Chat Q&A for October 15, 2011

Sebagaimana halnya ocehan dan kejang-kejang yang dilakukan orang orang-orang yang berbicara dalam "bahasa ruh"/bahasa lidah (terkadang dalam bahasa yang tidak dikuasainya--pen.), kebanyakan yang melakukan tulisan atau gambar otomatis menghasilkan komunikasi-komunikasi yang tidak dapat dipahami, yang hanya bermakna bagi si pengarang atau si seniman. Telah kami nyatakan bahwa berbicara "bahasa ruh"/bahasa lidah, yang termasuk terkejang-kejang di lantai, pada utamanya berdasarkan rasa frustrasi seksual yang diakibatkan oleh Gereja Katolik terhadap para jemaatnya.

Tulisan otomatis memiliki sumber  yang lain lagi, karena tulisan tidak mendukung orgasme, bisa dibilang. Bawah sadar si pengarang ingin mengekspresikan dirinya sendiri, namun alam sadarnya menentangnya. Dengan demikian, terjadi suatu jenis pemisahan kepribadian, dimana alam bawah sadarnya diperkenankan untuk mengendalikan tangannya, sementara si alam sadarnya memandang saja serta berpura-pura tidak mengetahui apa-apa yang sedang terjadi. Oleh karena ada konflik yang luar biasa tentang apa sedang disampaikannya itu, hal itu muncul, hampir selalu, sebagai ocehan tak jelas.


[Automatic Writing, Sebuah Trance Prakarsa Sendiri]
Penulis automatic writing umumnya memiliki kepribadian yang pada dasarnya mengutamakan alam sadarnya karena ia seseorang yang, misalnya, sangat politically correct atau yang merasa sangat terkungkung oleh kultur atau agamanya. Kemudian dalam kehidupan bersosialisasinya ia menemukan suatu informasi atau event tertentu yang mulai menggoyahkan keyakinannya alam sadarnya. Pada suatu titik waktu, kondisi itu begitu mendesak alam sadarnya sehingga ia secara pribadi merasa harus membiarkan alam bawah sadarnya untuk turut mengolah rangkaian informasi (atau event) dan memimpin dalam berekspresi, dan automatic writing hanyalah salah satu pelampiasan kondisi diri itu.  Demikianlah, ia bisa tiba-tiba berputar 360 derajat dalam suatu permalasahan, dari tidak percaya menjadi lebih dari sekedar percaya.

Terjemahan bebas dari  ZetaTalk: GodlikeProduction Live, written September 26, 2009

Automatic writing adalah kondisi dimana individu mengijinkan dirinya sendiri berada dalam keadaan trance, yang paling sering dipaksakannya sendiri, untuk memungkinkan alam bawah sadarnya mengekspresikan dirinya sendiri. Bahkan pada orang normal, ada banyak sekali pertentangan antara alam bawah sadar dan alam sadarnya. Hal ini diekspresikan selama amnesia dimana kedua belah otak fisiknya terputus hubungan satu sama lain, tidak ada transfer kimiawi ingatan yang didukung di antara keduanya.

Pada orang-orang yang merasa nyaman dengan apa yang diketahui oleh alam bawah sadarnya, yang sesungguhnya merupakan jumlah total dari pengalaman mereka, ada sedikit saja perselisihan. Namun pada individu yang bersikap harus sangat benar secara politik (highly politically correct) atau mereka yang hidup dalam lingkungan-lingkungan keagamaan yang represif, alam sadarnya bisa jadi telah menghilangkan banyak jembatan ke alam bawah sadarnya agar dapat hidup sejalur dengan komunitas atau keluarga dimana si individu terpaksa harus tinggal.

Kalau ada perselisihan yang besar (antara bawah sadar dan alam sadar), sang otak selama meditasi dapat memutus hubungan dari alam sadarnya dan memuntahkan pengetahuan yang diketahui oleh bawah sadarnya  melalui automatic writing. Hipnotis adalah cara lain untuk menciptakan kondisi mimpi ini, dimana alam bawah sadarlah yang mengendalikan dan berkomunikasi. Manusia dapat melakukan hipnotisme sendiri atau meminta bantuan profesional untuk melakukannya.


Bahasa Ruh / Bahasa Lidah
ZetaTalk: Speaking in Tongues, Note: written on May 15, 1997

Sebuah tema yang telah berusia lama dalam Kristen adalah histeria pingsan atau meracau yang sesekali menguasai para biarawati. Kalau praktek-praktek agama lain seperti voodoo memiliki aktifitas yang setara, seperti misalnya menari gila-gilaan yang berakhir dengan kondisi koma singkat, maka bahasa lidah adalah aktifitas dan hasil yang sengaja didorong untuk dilakukan.  Hingar-bingar Kristiani sudah terkenal muncul menghinggapi orang-orang yang beriman, sebagai sesuatu yang tidak diinginkan maupun didorong, dan sudah pastinya bukan sesuatu yang mereka picu sendiri. Namun, diri sendiri, beserta kekangan-kekangan seksual yang sering dikenakan oleh gereja Kristen, adalah sumbernya secara tepat. Bahkan agama-agama sepresif Islam memiliki pelepasan-pelepasan seksual yang tidak terpikirkan oleh doktrin Kristen.
  • Umat Kristiani menyatakan bahwa seks itu, bisa dibilang, salah, dan hanya boleh diperturutkan ketika kedisiplina diri patah. 
  • Masturbasi, aktifitas yang benar-benar tidak merusak dan sepenuhnya alami, dipotretkan sebagai dosa melawan alam.
  • Mereka yang harus memperturutkan (seks) digiring ke dalam perkawinan--satu-satunya pelepasan mereka--dan itupun perkawinan yang harus diberkati oleh gereja.
  • Bagi para Katolik, ini juga merupakan perkawinan tunggal seumur hidup.
  • Lalu ada masalah kontrasepsi, dimana umat Katolik yang membolehkan diri mereka memperturutkan seks, dalam perkawinan tunggal seumur hidup yang telah digariskan, juga harus membolehkan sebanyak mungkin anak sebagai hasilnya. 
  • Dan mereka yang lebih suka menepi dari batasan-batasan ini menjadi aliansi-aliansi homoseksual dikutuk terbakar di neraka.
Penyempitan-penyempitan tersebut berarti bahwa hanya sedikit saja dari umat Kristen, dan khususnya sedikit saja dari umat Katolik, yang akan memiliki pelepasan seksual yang bebas dari dosa. Pelepasan-pelepasan selain perkawinan dengan pasangan yang sama seumur hidup tanpa mengambil manfaat dari kontrasepsi membawa serta segala macam beban. Konflik-konflik tersebut tak ada habisnya, dan momok dibakar di neraka diangkat hanya untuk pemikiran agar dapat keluar dari kekangan itu. Dengan demikian, umat Katolik yang baik berusaha untuk tidak memikirkannya, berusaha menjalani hidup yang bebas seks meskipun hormon-hormon mereka meminta, dan ada yang pergi ke biara-biara dengan harapan lingkungan tersebut akan membantu mereka dalam hal ini. Tapi ternyata tidak. Merekapun pergi dengan lebih sedikit lagi pelepasan atas rasa frustrasi seksual mereka, karena kini mereka merasa bersalah dengan keinginan mereka untuk meninggalkan sumpah-sumpah kependetaan atau biarawati.

Apa yang dihasilkan adalah prilaku bodoh, yang setara dengan penderita schizophrenia memutar-mutar jemari mereka, bergerak-gerak tanpa arah dan berbicara meracau. Berbicara bahasa lidah atau menari melingkar-melingkar tidak lebih dari sebuah pelepasan, setara dengan mandi air dingin atau berlari-lari untuk waktu lama dengan manfaat-manfaat tambahan - praktisinya mendapat orgasme. Gereja mengijinkan bentuk masturbasi ini, menyerahkan diri pada benda-benda antik yang memicu orgasme, karena benda itu disajikan sebagai semangat keagamaan ketimbang apa adanya benda itu, gairah seksual. Meloncat-loncat, menjatuhkan diri ke lantai, memaju-majukan pelvic, melambai-lambaikan tangan, teriakan-teriakan riang yang luar biasa spontan -- lalu hilangkan setting gerejanya, apa yang Anda lihat?

All rights reserved: ZetaTalk@ZetaTalk.com