Malala dan Dewan Alam Semesta Ini VS Taliban


Ini tentang bagaimana salah satu perlawanan terhadap kejahatan diatur di alam gaib. Dewan Alam Semesta Ini berkomplot dengan seorang gadis belia Muslim melawan Taliban. Rencana semacam ini harus dilakukan demi memenuhi hukum alam semesta dimana bumi berada, yang adalah Hukum Intervensi dan Hukum Keterlibatan di bumi bagi Alien dari alam-alam lebih tinggi dari bumi. Seandainya tidak ada peraturan-peraturan yang mengikat ketat ini, maka sudah tentunya seluruh kejahatan di bumi sudah disapu habis begitu saja dari dahulu oleh Dewan dengan mudahnya, namun tak ada pelajaran bagi manusia sebagaimana yang dikehendaki oleh Yang Esa.
Kalau orang-orang jahat di bumi berkonspirasi dan berencana, maka para penguasa alam semesta juga berkonspirasi dan berencana melawan orang-orang jahat itu.  Demikianlah cara kerja alam semesta ini dalam hal ini.
Gadis Pakistan berusia empat belas tahun Malala Yousafzai menjadi dikenal dunia sebagai sosok fenomenal karena gagal dibunuh oleh Taliban, yang murka oleh "kebandelannya" yang luar biasa tak kenal lelah dalam menentang larangan pendidikan bagi wanita yang difatwakan oleh Taliban.
Dari tiga butir peluru yang ditembakkan ke dirinya, satu menembus kepalanya namun tidak membuatnya tewas dan malahan membuat dirinya dikenal dunia serta menjadi inspirasi bagi banyak manusia. 
Yang semakin menarik dari gadis ini adalah bahwa kisahnya ini sesuai dengan gambaran para alien Zeta tentang perlindungan gaib bagi seorang Pengabdi-Kebaikan tingkat tinggi--perjuangan menjadi tidak sia-sia dan dengan hasil menakjubkan.
Siapakah Malala Yousafzai? Kabar tentang tertembaknya seorang gadis berumur 14 tahun asal Pakistan pada 9 Oktober 2012, Malala Yousafzai, telah membuat kehebohan di berbagai penjuru dunia. Namun siapakah sebenarnya gadis ini? Gadis yang lahir pada 12 Juli 1997 ini adalah seorang siswa yang berasal dari Kota Mingora, Kabupaten Swat, Provinsi Khyber-Pakhtunkhwa, Pakistan. Ia merupakan seorang aktivis muda yang ingin memperjuangkan dan memajukan hak wanita dalam bidang pendidikan. Malala tinggal dan bersekolah di lingkungan yang dikuasai oleh Taliban, sebuah grup militan yang ingin menerapkan hukum syariah di Pakistan. Taliban, yang dideskripsikan sebagai salah satu grup militan paling berbahaya di Pakistan, melarang perempuan bersekolah. Mereka bahkan memaksa agar sekolah-sekolah perempuan ditutup. Jika tidak, mereka akan menghancurkan sekolah-sekolah tersebut. Hal ini menarik Malala untuk memperjuangkan hak pendidikan para perempuan. http://www.tempo.co/read/news/2012/10/17/115436329/
Malala Yousafzai: Pada awal tahun 2009, saat berumur sekitar 11 dan 12, Yousafzai menulis di blognya di bawah nama samaran untuk BBC secara mendetail tentang betapa mengerikannya hidup di bawah pemerintahan Taliban, upaya mereka untuk menguasai lembah, dan pandangannya tentang mempromosikan pendidikan untuk anak perempuan. Pada tanggal 9 Oktober 2012, Yousafzai ditembak di kepala dan leher dalam upaya pembunuhan oleh kelompok bersenjata Taliban ketika kembali pulang di bus sekolah. [3] Ia sempat dirawat di Pakistan sebelum akhirnya diterbangkan ke Inggris untuk dirawat di rumah sakit di Birmingham. Pimpinan Taliban, Adnan Rasheed, mengiriminya surat yang menjelaskan bahwa alasan penembakan adalah sikap kritisnya terhadap kelompok militan, bukan karena ia seorang penggiat pendidikan perempuan. Lebih lanjut Rasheed mengungkapkan penyesalannya atas kejadian ini namun tidak meminta maaf atas penembakan yang dialami Malala Yousafzai.  Ia juga menyarankan Malala kembali ke Pakistan dan meneruskan pendidikan di Madrasah bagi perempuan. Kelompok yang terdiri atas 50 ulama di Pakistan mengeluarkan fatwa menentang penembakan ini. http://id.wikipedia.org/wiki/Malala_Yousafzai 
 credit: wikipedia

Berikut para alien Zeta menjelaskan apa yang sesungguhnya terjadi di balik sepak terjang gadis pemberani ini.

Terjemahan bebas dari ZetaTalk Chat Q&A for October 19, 2013

"Kesembuhan luar biasa Malala setelah 3 butir peluru ditembakkan ke kepalanya bukanlah kebetulan.
Hanya satu dari peluru itu yang menembus kepalanya, dan ini tembakan yang cukup memukul dengan peluru yang melesat menembus dahinya, melewati gendang telinganya, lalu keluar di belakang lehernya. Namun tidak ada kerusakan otak, tidak ada luka di tulang punggung, meskipun kedua bagian itu pada mulanya ditakuti telah terkena. 
Kerusakan minimal baru diumumkan setelah Malala selamat keluar dari negaranya itu, dimana para pembunuh--para Taliban--tidak lagi dapat menjangkaunya.
Kemampuannya untuk bertahan hidup itu merupakan sebuah contoh tentang apa yang dapat terjadi ketika individu yang sangat Mengabdi-Kebaikan, yang luar biasa berani, menolak untuk diintimidasi.
Ketika pertempuran itu penting secara strategis, yang merupakan kunci pesan terhadap perkembangan umat manusia untuk bergerak ke posisi Mengabdi-Kebaikan, maka perlindungan-perlindungan semacam itu dianugerahkan oleh Dewan Alam Semesta Ini.
Peluru-peluru yang diarahkan ke kepala Malala dibelokkan, namun satu yang diperkenankan untuk mendarat agar pesannya menjangkau panggung seluruh dunia. 
Malala sendiri (di alam gaib--pen.) telah menyepakati secara bulat pengaturan (skenario--pen.) ini, karena sifatnya yang rela mengorbankan dirinya. Apakah ia telah berada dalam perlindungan sebelum ada upaya pembunuhan itu?
Untuk menunjukkan betapa cepatnya masalah-masalah ini dapat diatur, Dewan Alam Semesta Ini menggunakan wewenang mereka dalam masalah ini--antara keputusan Taliban untuk membunuhnya dengan upaya yang sesungguhnya."
Taliban Kembali Bersumpah Akan Membunuh Malala Yousafzai. 8 Okt. 2013. Taliban di Pakistan bersumpah untuk membunuh Malala Yousafzai lagi jika mereka mendapatkan kesempatan, Taliban mengatakan Malala pejuang pendidikan untuk perempuan itu tidak memiliki keberanian. "Dia bukan gadis pemberani dan tidak memiliki keberanian. Kami akan menargetkan lagi dan menyerang setiap kali kita memiliki kesempatan," kata Shahidullah Shaid juru bicara Tehreek-e-Taliban, kelompok Taliban di Pakistan seperti dikutip dari kantor berita AFP, Senin (7/10). Sebelumnya pasukan bersenjata yang dikirim oleh Taliban mencoba membunuh Malala di bus sekolahnya pada 9 Oktober tahun lalu. Taliban mengatakan serangan terhadap Malala adalah karena pernyataan anti-Islam dan bukan karena dia mengejar pendidikan, "dia bahkan menggunakan nama palsu Gul Makai saat menulis di diary-nya. Kami menyerang Malala karena ia berbicara menentang Taliban dan Islam dan bukan karena ia pergi ke sekolah," kata Shahid. Malala tidak takut dengan ancaman Taliban, dia mengulangi keinginannya untuk kembali ke Pakistan dari Inggris, di mana dia saat ini berada. http://satuharapan.com/index.php?id=109&tx_ttnews[tt_news]=5676&cHash=1