Prediksi Situasi Menuju Countdown Untuk Asia Tenggara

Sumber: ZetaTalk Chat Q&A for June 26, 2010

Ringkasan pertanyaan:
Negara-negara Vietnam, Thailand, dan Laos, akan berada dalam belas kasihan serangan gelombang-gelombang pasang dari Samudera Pasifaik yang menerjang ke 'mangkuk' India yang akan tenggelam tepat setelah pergeseran kutub. Kota-kota di daratan-daratan rendah seperti Bangkok, Ho Chi Minh akan tenggelam selama dan setelah pergeseran kutub.
Apakah ketinggian daerah-daerah tinggi seperti Chiang Mai (Thailand), utara Hanoi (Vietnam) di wilayah Sapa, yang berbatasan dengan Cina Selatan, cukup untuk bertahan dari gempuran gelombang pasang naik itu, sehingga dapat menjadi lokasi aman pasca pergeseran kutub dengan cuaca serupa dengan cuaca Kanada sekarang? 
Apakah para elit politik telah mempersiapkan diri untuk pindah ke daerah-daerah tinggi sehingga para survivor lebih baik pindah ke Cina selatan agar tidak dikontrol oleh mereka? 
Jawaban para alien Zeta, ZetaTalk Chat Q&A for June 26, 2010 (terjemahan bebas):

Ada perbedaan yang sangat besar antara mengalami jilatan lidah gelombang pasang di jemari kaki Anda, yang mengusap-ngusap lembut, dengan mengalami gelombang pasang laut yang menderu, dengan ombak-ombak yang menerpa dan memecah.
Pada kasus pertama, orang dapat memanjat lebih tinggi di bukit atau bahkan beberapa inci lebih tinggi di atas pohon. Dalam kasus yang belakangan, orang tidak mungkin menghindari sapuannya. Harus ada jarak tambahan (untuk lokasi aman--pen.) dalam hal tekanan dan terpaan gelombang, meskipun untuk sekedar kesehatan mental.  
Seluruh pemerintah yang ada sekarang di wilayah Asia Tenggara akan kehilangan kendali saat perubahan-perubahan bumi yang telah kami gambarkan bagi Indonesia mulai terjadi.
Mereka yang berada di Indonesia yang mendapati kota-kota mereka kebanjiran oleh air laut (banjir rob---pen.) tidak hanya akan berduyun-duyun menuju perbukitan, tapi juga, pada utamanya, mencari apapun yang dapat mengapung. 
Tidak cukup tentara dan tidak cukup kapal boat di negara-negara miskin itu untuk mencegah para imigran mengungsi lebih jauh ke dalam daratan.
Bukanlah kerusuhan dengan sifat sebagaimana yang ditakuti para pemerintah mereka, dimana barang-barang akan dirampas dan kantong-kantong pemukiman orang kaya raya diserang. Yang akan terjadi nanti adalah penolakan untuk menghormati tentara; tentara akan menolak untuk menghormati rantai komando;  dan militer akan menolak sama sekali untuk menghormati para elit politik. Militer akan memiliki kekhawatiran-kekhawatiran mereka sendiri, setiap orang dari mereka.    
Para elit beranggapan bahwa militer akan selalu siap sedia memenuhi panggilan mereka apapun yang terjadi. Namun ini fiksi (khayalan---pen.) saja. Hanya segelintir serdadu yang akan menodong para warganegara, karena "mana imbalannya?".
Mereka (militer) melihat rakyat yang baru menjadi para migran itu dapat menguasai pemerintah, hanya dengan kekuatan jumlah besar saja, sehingga akan mencoba berada jauh di depan kumpulan migran itu dalam migrasi ke daerah-daerah tinggi untuk menjadi yang pertama dalam merampas lokasi yang solid dan aman.