Pergeseran Kutub dan Pasca: Gempa dan Gempa Susulan

Sumber: ZetaTalk Chat Q&A for June 26, 2010

Berikut para alien Zeta menjelaskan besar kekuatan gempa-gempa, beserta gempa-gempa susulan, saat dan setelah pergeseran kutub, termasuk untuk wilayah yang sebelumnya sedikit saja mengalami gempa. Ini untuk mengantisipasi travel dan jenis tempat tinggal aman nantinya (misalnya, bentuk dome dari material-material ringan), termasuk kapan untuk aman melanjutkan perjalanan apabila harus bermigrasi.

Jawaban ZetaTalk, ZetaTalk June 26, 2010 (terjemahan bebas):

Pergeseran kutub itu sendiri akan berkekuatan 9 di seluruh dunia. Gempa-gempa susulan akan sebesar 8, dan, bahkan, kekuatan 9 dapat diantisipasi akan menjadi yang terkuat untuk wilayah-wilayah di dunia dimana akan terjadi subduksi ekstrim, karena, dengan demikian, beban sebuah lempeng daratan akan ditekan ke bawah dan beberapa strata bebatuannya berlepasan karena pecah-pecah dalam tekanan itu.
Tebing-tebing curam di Yosemite merupakan sebuah contoh terpecah-pecahnya strata bebatuan semacam itu. Ini juga berlaku, setelah pergeseran kutub, bagi New Zealand dan timur Australia, Tibet, Jepang, Kamchatka, dan Kep. Aleutian, beberapa ratus mil ke Pantai Barat Amerika (di Amerika utara dan selatan).
Di wilayah-wilayah yang mengalami peregangan, tanahnya juga akan mengalami keresahan (geologis) untuk beberapa waktu, namun dalam bentuk guncangan-guncangan ketika beberapa sokongannya melonggar sehingga memungkinkan suatu bagian tanah di lempeng itu semakin anjlok.
Dimana terdapat anggapan bahwa jalan baru bagi aliran sungai telah terbentuk, maka mungkin akan ada goncangan-goncangan semacam itu selama berhari-hari yang mengakibatkan sungai akan telah memutari sebuah jalur baru, misalnya.   
Konstruksi-konstruksi di seluruh wilayah semacam itu harus dari material-material ringan yang didesain untuk fleksibilitas tinggi.
Bangsa Jepang kuno telah menyempurnakan teknik-teknik konstruksi ini, yang dapat dipelajari sendiri. Benda-benda yang dapat pecah atau tercerai-berai harus diletakkan di atas lantai sehingga dapat terguling ketimbang terjatuh. Bagi orang Jepang, benda semacam itu sering kali termasuk manusia, yang hidup dan berposisi dekat ke lantai untuk alasan-alasan itulah.