Konteks Kepemimpinan Pasca Pergeseran Kutub

Kepemimpinan Nurani

Kondisi-kondisi hidup setelah Pergeseran Kutub (dan bahkan selama menuju pergeseran kutub itu sendiri, mulai dari Tahap 8 atau tahap apapun ketika dampak bencana alam sepertinya semakin tak terkendali) akan teramat sangat sulit bagi semua orang. Situasinya menjadi semakin sulit bagi para Pengabdi-Kebaikan yang akan dapati diri mereka telah sibuk menolong orang-orang di tengah-tengah banyak tuntutan orang-orang yang ingin mendapat pertolongan, sampai-sampai tidak memikirkan diri mereka sendiri. Di sini para alien Zeta menjelaskan hal-hal apa saja yang dapat menjadi pegangan para Pengabdi-Kebaikan agar dapat terus bertahan dalam mengatasi masalah masyarakat dengan orientasi spiritual yang bercampur/membaur, yaitu yang terdiri dari
  • orang-orang yang lebih mementingkan diri sendiri (Pengabdi-Ego), 
  • orang-orang yang mementingkan orang lain minimal sebanyak diri sendiri (Pengabdi-Kebaikan), 
  • dan orang-orang yang membantu orang lain hanya ketika kondisinya nyaman bagi diri sendiri (Peragu). 
Penjelasan berikut ini terutama dalam menghadapi para Pengabdi-Ego. (Baca juga:  Quo Vadis, Manusia).

Terjemahan bebas ZetaTalk: Mixed Groups, Note: written Jun 15, 1996.

[Batasan-Batasan Dalam Masyarakat Selama Ini Demi Keuntungan Pengabdi-Ego]
Dalam masyarakat dengan orientasi spiritual yang membaur ada beberapa pembatas terhadap polarisasi total, yang merupakan hasil akhir dari proses Transformasi. Seperti yang telah diantisipasi, pembatas-pembatas itu semuanya demi keuntungan para Pengabdi-Ego, yang lebih suka berada di tengah-tengah para Pengabdi-Kebaikan--para mangsa mereka.

Di luar fakta yang sudah jelas bahwa kedua orientasi spiritual itu tak dapat membaur secara fisik dalam lingkungan dengan orientasi spiritual membaur, ada kecenderungan di kalangan Pengabdi-Kebaikan untuk merasa bertanggung jawab atas orang lain, dan bertahan di sana. Namun, pada akhirnya, melalui kematian dan penyortiran terhadap apa yang tengah terjadi sebelum inkarnasi selanjutnya, orientasi-orientasi spiritual itu akan terpisah.

[Prinsip-Prinsip Menghadapi Jebakan-Jebakan Intimidatif Pengabdi-Ego Setelah Pergeseran Kutub] 
Tak adakah yang dapat dilakukan manusia yang bertanggung jawab di kalangan Pengabdi-Kebaikan saat ini untuk menghindari jebakan-jebakan yang terus-menerus terhampar di depannya?
[Bersikap Realistis: Hidup Apa Adanya, Sesuaikan Ekspektasi dan Cara Hidup Dengan Realita dan Dengan Antisipasi Ke Depan] Oleh karena kehidupan di bumi akan semakin sengsara, dengan kekurangan makanan dan korban luka serta tingkat kepanikan yang selalu tinggi, mereka yang Mengabdi-Kebaikan akan sangat merasa ditarik untuk berada bersama orang-orang yang membutuhkan. Pada kenyataannya, tak akan banyak yang bisa dilakukan untuk merubah situasi-situasinya, karena kehidupan akan menjadi sangat sulit dan hidup apa adanya adalah yang terbaik yang bisa diharapkan di kalangan orang-orang yang tak tinggal di komunitas-komunitas hibrida. Namun apa yang bisa disesuaikan adalah sikap-sikap dan ekspekstasi-ekspektasi, yang dapat disesuaikan dengan realita dan dalam mengantisipasi kondisi-kondisi mendatang. 
[Konteks Menghadapi Pengabdi-Ego] Pemisahan orientasi spiritual tak terelakkan. Dan, jika ada taktik rasa bersalah dari golongan Pengabdi-Ego yang diupayakan ditimpakan pada manusia-manusia (Pengabdi-Kebaikan) yang cermat, maka ini harus ditempatkan dalam konteks ini (pemisahan orientasi spiritual) secara tegas. 
  • Manusia tidak bertanggung jawab atas proses pemisahan (orientasi spiritual)  ini , dan tidak dapat mempengaruhi hasil maupun kecepatannya. Mereka yang Mengabdi-Ego harus "dibuang" ke sumber-sumber daya mereka sendiri, untuk menjaga diri mereka sendiri, yang bagaimanappun adalah setting lingkungan yang dapat mereka antisipasi untuk nantinya (jenis kehidupan setelah kematian mereka - pen.). (Maka) Menenangkan serta melayani para Pengabdi-Ego pada akhirnya hanya akan menciptakan keguncangan hebat di masa mendatang. Maka, justru menolak menjadi kelas pembantu mereka merupakan kebaikan hati.
[Realita Hidup Setelah Pergeseran Kutub]  Standar hidup akan jatuh drastis, titel dan jabatan yang didapat akan kehilangan maknanya, dan segala rasa aman palsu dari tabungan di bank maupun harta kekayaan akan hancur-lebur. Maka mereka yang selamat dari Pergeseran Kutub akan perlu menyesuaikan diri dengan realita baru. 
Kondisi ini akan sulit dilalui banyak orang, namun lebih sulit lagi bagi mereka yang terbiasa menuntut pelayanan. Tuntutan-tuntutan mereka akan meningkat dalam proporsinya dengan rasa tersia-sia mereka, yang akan menjadi akut. 
Kelelahan dan setengah mati kelaparan, para manusia berorientasi Mengabdi-Kebaikan yang sangat tabah akan dapati diri mereka dikelilingi oleh paduan suara rengekan dan tuntutan-tuntutan penuh amarah. "Lakukan sesuatu atas situasi ini", akan menjadi tuntutan itu, padahal tak ada yang bisa dilakukan. 
Maka, mereka yang berorientasi Mengabdi-Kebaikan yang telah mengantisipasinya, harus belajar menulikan diri dari seluruh tuntutan itu, karena kedua tangan mereka akan telah sibuk sekali dengan apa-apa yang mereka tahu harus dilakukan.
[Aturan Self-Help] Self help (Membantu Diri Sendiri), kapanpun memungkinkan, harus menjadi aturannya. Karena, beban para individu Pengabdi-Kebaikan yang merasa bertanggung jawab, yang mengurusi kebutuhan orang-orang di sekelilingnya, akan membuat mereka kewalahan. 
  • Para individu ini akan menjadi orang-orang yang menjaga tetap berjalannya mekanisme produksi makanan dan energi serta pembangunan tempat tinggal, yang akan membuat perencanaan, serta mengorganisir dan menemui orang-orang yang tertekan untuk membahas langkah-langkah yang harus dilakukan.  
  • Para individu ini harus tetap menjaga fisik mereka kuat, kalau tidak, mereka akan terkapar kelelahan dan tak ada pemimpin.   
  • Mereka yang merengek dan bertaktik untuk mendapat bantuan harus ditanggapi dengan tuntutan balasan bahwa bantuan tersebut hanya bisa diminta kalau mereka sudah mencoba self-help, serta mencobanya berulang-ulang, dan hanya  akan diberi bantuan kalau sudah jelas bagi semua orang bahwa bantuan dari orang-orang lain memang dibutuhkan.