Cinta Tak Bersyarat

Cinta tak bersyarat adalah konsep cinta kasih yang dimuliakan manusia, namun pada saat bersamaan kita bingung dengan penerapannya sehari-hari karena sering kali tak mudah.
Ada orang-oang yang sepertinya tak kesulitan menyintai suami yang selalu menganiaya secara verbal maupun fisik misalnya. Tapi sepertinya kebanyakan orang tak jarang merasa bersalah karena sangat sulit memaafkan atau menyintai seseorang yang telah berbuat kejahatan. 
Contoh kasus lainnya lagi, kita terkadang sulit menerima kekurangan pasangan, misalnya, sehingga menerapkan syarat-syarat agar dirinya berubah. Lalu ada lagi situasi kerja dimana kualitas dipertaruhkan, lalu kita merasa bersalah karena telah bersikap keras kepada seseorang yang selalu berkinerja buruk. 
Lalu kita bertanya-tanya apakah kita harus selalu bisa memaafkan? Apakah harus memberikan pipi kiri setelah pipi kanan ditampar? Bagaimana sesungguhnya yang disebut cinta tak bersyarat itu? 
Dari penjelasan para alien Zeta kita bisa melihat bahwa, pada dasarnya, untuk memahami cinta tak bersyarat, kita perlu menilik motivasi-motivasi terdalam kita dalam menyintai.  Berikut penjelasan para Zeta.

Terjemahan bebas ZetaTalk: Unconditional Love, Note: written by Jul 15, 1995.

Manusia memandang cinta dari banyak sudut, sebagai sesuatu yang didambakan atau ingin dimiliki, sebagai sesuatu yang mereka perlukan dan butuhkan untuk kenyamanan dan bertahan hidup, dan, setidaknya, sebagai kepedulian terhadap yang lainnya.
Kalau dalam teori, yang terakhir itu dipahami sebagai makna dari konsep mengasihi orang lain, dalam realitanya, maka kedua motif pertama itu yang paling sering cocok dengan gambaran. Mengapa demikian?
Mengapa pula manusia mengatakan satu hal sementara yang berlaku adalah sebaliknya? Mengapa tidak mengatakan saja, saya mendambakan X, ketimbang saya menyintai X. Mengapa tida mengatakan, saya membutuhkan X, ketimbang saya menyintai X. 
Kita bergeser dari kebenaran, dan menyelubungi kemilau kehangatan konsep-konsep yang ditimbulkan oleh kata cinta pada semuanya. 
Alasan kebenaran menderita dalam hal ini adalah karena hasrat untuk membuat dalih atas diri yang gagal. Dalam hati kita, kita memiliki cita-cita untuk memiliki cinta sejati, untuk saling mempedulikan sebanyak  kita mempedulikan diri sendiri, dan inilah niat bathin dan yang kita umumkan. Ketika kita melewatkan titik standar itu, dan ada perasaan yang lebih melayani diri sendiri, kita berharap tidak ada orang yang memperhatikan. 
Lalu mengapa kita bermasalah dengan konsep cinta tak bersyarat?
Setelah memiliki masalah-masalah dalam mempraktekkan apa yang kita ajarkan, kita takut memiliki ekspektasi-ekspektasi yang meningkat ke alam yang lebih tinggi. 
Apakah ini berarti bahwa kepedulian terhadap diri sendiri harus dienyahkan? Apakah kita harus hanya berfokus kepada orang lain? Tidakkah  kita  merasakan kebencian ketika orang lain mengecewakan kita atau mungkin membrutali kita 
Karena kita sudah terlalu sering melewatkan titik standar (cinta tak bersyarat--pen.) itu, bagaimana  kita bisa menyatukan standar-standar yang lebih tinggi? 
Aplikasi-aplikasi praktis dari standar-standar tinggi itupun tertatih-tatih. Kita merasa sedikit tersesat. 
Kebingungan ini bukan karena upaya-upaya kita untuk mencapai idealisme (cinta tak bersyarat), melainkan dalam pemahaman idealisme dalam hal itu sendiri.
Cinta tak bersyarat bukan berarti menyintai satu sama lain apapun prilaku orang. 
Ini bukan berarti menerima prilaku apapun dari orang lain, tanpa membela diri atau, seperti kata Anda, meributkannya. 
Ini bukan berarti berpura-pura tidak melihat ketika kompetisi demi suatu sumber daya yang didambakan atau dibutuhkan diri menempatkan diri pada posisi tidak menguntungkan. 
Cinta tak bersyarat, dengan kata lain, bukan berarti bahwa diri sendiri harus berhenti berjuang dan menginginkan serta mengupayakan secara agresif apa yang diinginkan atau didambakan. 
Pendek kata, cinta tak bersyarat berarti bahwa Anda tidak mengabaikan orang lain karena ada kompetisi atau ketidaksepakatan. 
Kami akan jelaskan dengan beberapa contoh.
Cinta bersyarat: Seorang ibu menyintai anak-anaknya, dan rasa cinta ini karena banyak alasan. Anak-anaknya adalah perpanjangan dari dirinya, dan pencapaian-pencapaian mereka mencerminkan gen-gennya serta caranya membesarkan mereka. 
Mereka berjanji untuk tumbuh dewasa dan memeliharanya di usia tua. Mereka membantu dengan tugas-tugas rumah tangga, dan dapat diandalkan di saat-saat darurat. Mereka telah menyemarakkan hidupnya, membawa teman-teman ke rumah, berita dan senda gurau dan hal-hal yang tidak diekspektasi. Kehidupan tidak membosankan. 
Sang ibu yang memberi makan dan pakaian anak-anaknya otomatis dianggap sebagai ibu yang penuh cinta kasih. 
Apa yang terjadi ketika si anak menolak menyesuaikan diri dengan ekspektasi-ekspektasinya itu? Mungkin salah satu anaknya luar biasa mandiri, dan menolak pertemanan dengan si ibu ketika si ibu menginginkannya. Sementara si anak memiliki alasan-alasannya sendiri, namun sang ibu hanya melihat alasan-alasan itu sebagai penolakan. Ia merasakan kebencian yang sangat, dan dapati dirinya enggan melakukan apa-apa yang sebelumnya ia lakukan bagi si anak. Ia telah berhenti menyintai si anak, karena cintanya bersyarat pada pemenuhan ekspektasi-ekspektasinya.
Cinta tak bersyarat: Dalam situasi yang sama ini, dimana sang ibu dapati salah satu anaknya membuatnya kecewa, si ibu tidak berhenti memenuhi kebutuhan-kebutuhan anaknya itu, seperti sebelumnya. Ini bukan berarti ia tidak merasa kecewa, atau ia bahkan menunjukkan reaksi berduka kepada si anak atau yang lainnya. Ini sudah jelas berarti bahwa dukungan penuh kasih yang ia berikan kepada si anak berlanjut, baik si anak telah mengecewakannya maupun tidak dengan suatu cara.
Karenanya, cinta bersyarat dilihat sebagai pengangkat, untuk memaksa orang lain bekerja sama, dan cinta tak bersyarat memungkinkan masalah ditangani secara gamblang, sebagai satu-satunya masalah, dan tidak dikaburkan dengan masalah-masalah lain.
Misalnya, dalam contoh di atas, sang ibu dapat mengeluh keras-keras tentang kurangnya pertemanan, lalu masalah ini dihadapi secara terbuka. Dalam cinta bersyarat, masalah  pertemanan dapat ditangani, baik secara terbuka maupun tidak,. 
Namun, dalam situasi apapun, ada masalah lain yang muncul, seperti misalnya kegagalan (berhenti) memberi makan dan memberi pakaian atau menyampaikan pesan-pesan atau apapun yang tadinya dilakukan si ibu kepada anaknya. Faktanya, hal ini mencegah masalahnya ditangani sebagai masalah tunggal, karena telah berat ke pihak ibu. Masalah ini telah dikaburkan dengan masalah-masalah sekunder. Sang ibu, dengan menerapkan cinta bersyarat, sesungguhnya tengah bersikap diktator.
All rights reserved: ZetaTalk@ZetaTalk.com