Landasan Membentuk Komunitas Survival


Kata Kunci: praktis, realistis, basic survival, 
misi pribadi (ibaratnya mengikuti jejak Nabi Nuh atau Nabi Musa atau lainnya), 
bersiap menghadapi dilema-dilema survival setiap hari 

Sebelum membentuk Kelompok Survival, hal-hal berikut, meski terkesan berbelit-belit, patut diperhatikan untuk mempermudah menghadapi masalah-masalah dilematis nantinya, karena dunia seperti yang kita kenal sekarang ini tidak akan ada lagi setelah pergeseran kutub.

1. Bersikap Praktis
Membantu orang lain adalah sikap mulia, namun orang harus praktis dalam cara pikirnya, karena beberapa faktor:
  • Bagaimana bisa Anda membantu kalau diri sendiri belum ada persiapan?
  • Seberapa jauh persiapan Anda hingga sekarang?
  • Sudahkah Anda mendirikan kamp survival? Sudah beroperasi penuh?
  • Sudahkah Anda mempersiapkan bekal makanan (jangka pendek)? Berapa banyak surplus yang Anda miliki?
2. Bersikap Realistis:  
  • mandiri/mampu setidaknya membantu diri sendiri: tidak membekali diri dengan peralatan mahal, cukup hal-hal mendasar (benih-benih, alat jahit, bersiap makan apapun di alam, panci dengan tutupnya untuk menyuling air, bersiap dengan kondisi selalu hujan dan berada di alam terbuka, menulikan diri dari keluhan orang tentang kehilangan materi, berharap masa depan cerah, untuk menyebut beberapa contoh saja.);
  • menerima kenyataan kematian orang-orang yang dicintai atau diri sendiri dengan ketabahan dan kedamaian; 
  • memprioritaskan siapa yang akan diberi makan terlebih dulu, karena makanan akan menjadi langka. Jika hanya berbagi saja, maka semua akan kelaparan, dan akan sampai pada titik ketika tak ada yang mampu memandu/memimpin karena lemah;
  • jangan lupa kekuatan hiburan: saling menyayangi/membantu/menghibur, musik, menghargai dan memaknai alam, dlsb.
3. Berpegang Pada Hal-Hal Mendasar yang darurat:
  • makananair minum, tempat tinggal 
  • energi alternatif
  • kebersihan, kesehatan, keamanan 
  • kenyamanan bepergian/bermigrasi
  • empati, persatuan, kekeluargaan, kepemimpinan
  • meminimalkan dampak pada alam
4. Berdasarkan Misi pribadi (silahkan pilih) 
  • membantu orang yang kesakitan atau sekarat, minimal membantu orang untuk meninggalkan dunia dalam damai (keluarga sendiri, misalnya); maka perlu membawa stok obat dan penghilang rasa sakit atau lainnya dalam ransel untuk mempermudah perjalanan; 
  • membantu para survivor yang kehilangan arah dan tak ada persiapan sama sekali; maka perlu membawa stok makanan kering dan tenda besar, siap tak menerima jatah apapun bagi diri sendiri, siap sebagai orang yang terakhir pergi atau pergi dengan orang terakhir yang ada;
  • membentuk komunitas high tech, sebagai penyedia pembibitan tanaman pangan dan teknologi bagi orang lain; maka, harus dibentuk tim kecil, dengan rencana-rencana yang dirahasiakan, serta berhati-hati dalam mendekati grup-grup lain; pikirkan untuk survive (bukan membantu) selama masa-masa persiapan, sehingga tim Anda bisa tetap ada ketika dibutuhkan;
  • menjaga keselamatan keluarga dan teman-teman dekat; maka Anda harus memikirkan mereka, karena tak ada orang lain yang akan melakukannya; maka, pikirkan dari sudut pandang mobilitas dan hal-hal mendasar, tetap jaga grup terdiri dari orang-orang yang dikenal baik.
5. Mempersiapkan diri dengan dilema-dilema yang butuh keputusan-keputusan sulit, seperti misalnya, apakah perlu memberi makan setiap orang yang datang minta makan? Ini urusan sulit, karena semuanya akan memiliki sumber-sumber daya yang minimum yang dibutuhkan kelompok sendiri untuk survive. Ada situasi-situasi jika semuanya dibagi rata, maka kematian karena kelaparan akan datang lebih cepat. Masa-masa nanti akan super sulit, sehingga butuh keputusan-keputusan super sulit pula. Pada akhirnya, yang dibutuhkan orang adalah keputusan berdasarkan kesempatan-kesempatan survival bagi grup, dan, akhirnya, manusia.

6. Keputusan menjadi Nabi Musa atau Nabi Nuh
Tak akan ada individu yang mampu membantu ribuan orang. Sekarang saja masih begitu banyak orang kelaparan di Afrika, anak-anak mati di Thailand karena Aids akibat traficking, buruh anak-anak di pabrik-pabrikk, dan lainnya. Dan jika kita tidak bisa melakukan apa-apa, itu bukan karena egois tapi karena sangat terbatas kemungkinan-kemungkinan kita. Lihat saja di kota-kota, begitu banyak anak-anak gelandangan, apakah kita membawa mereka ke rumah kita dan memberi mereka makan dan tempat tinggal? Maka, tanyakanlah diri Anda:
  • apakah saya harus bertindak seperti Nabi Musa, menyelamatkan orang-orang saya, 
  • atau seperti Nabi Nuh, menyelamatkan sepasang setiap spesies?
  • ataukah mempersiapkan yang terbaik untuk grup sebesar yang bisa saya pertahankan? 
Sejauh ini, orang-orang biasanya hanya bisa sejauh yang mereka mampu.

Berikut contoh keputusan Nancy Lieder (sumber info ini): 
  • Menarik sebanyak mungkin orang ke dalam grup, meskipun tidak mungkin memperingatkan banyak orang, karena nanti dianggap gila. Memperingatkan keluarga saja sudah membuat kita dianggap gila. Namun, tetaplah mempersiapkan diri. Lalu beberapa bulan sebelum pergeseran kutub, rencanakan untuk mengundang sejumlah anggota keluarga yang lebih mudah (sepupu-sepupu) serta teman-teman dari anak-anak. Menyimpan makanan dan perbekalan lain sebanyak mungkin yang bisa, mempersiapkan hidroponik, dlsb. 
  • Membantu mengorganisir kehidupan pasca pergeseran kutub. Ini bisa setahun sampai 20 tahun kemudian. Dan untuk itu, kita masih akan belum tahu pasti apa saja tantangan-tantangan yang akan muncul, dan seberapa jauh persiapan-persiapan kita akan berhasil. Yang pasti, tetap mencoba yang terbaik yang bisa kita lakukan dalam menangani apapun situasi yang muncu pasca pergeseran kutub.