Prediksi ZetaTalk 1995: Perubahan Bumi

[Terjemahan bebas dari ZetaTalk: Heralding, ditulis sebelum 15 Juli 1995]


"Perubahan-perubahan telah dimulai, dan telah diketahui para ilmuwan Anda.
Badai-badai dahsyat, pola-pola cuaca tak biasa, bencana kekeringan yang parah dan lama, semakin seringnya hujan badai, hujan lebat, dan pemanasan planet ini pada umumnya. Semua ini dimasukkan begitu saja ke dalam kategori Pemanasan Global, namun penyebabnya tak diketahui. 
Mana dari Anda, sebagai warga negara ataupun bahkan sebagai ilmuwan, yang dapat menyatakan penyebabnya secara pasti?
Kami beri tahu Anda bahwa bumi itu sendiri akan memanas, dan ini akan mempengaruhi pola-pola cuaca. Manusia selama ini selalu dapat mengantisipasi cuaca yang dapat diprediksi. Bahkan musim pancaroba di Timur, atau badai hujan yang akan melanda timur Amerika Serikat, dapat diantisipasi dan dipersiapkan, karena memang dapat diprediksi. 
Selama beberapa dekade ke depan, hingga Bumi kembali ke pola cuacanya yang dapat diprediksi, manusia akan temui masalah terbesarnya adalah cuaca yang tak bisa diramalkan.

Perubahan-perubahan cuaca yang memberi peringatan tentang mendekatnya sebuah komet raksasa, pertama-tama, akan masih dalam parameter yang normal.
Selama para meteorolog dapat menemukan pola yang serupa di buku mereka atau ada seorang pakar kawakan yang dapat menghibur kita dengan cerita-cerita di masa lalu, tak akan ada yang merasa waspada tanpa perlu. Apalagi, cuaca senantiasa menjadi sumber percakapan. 
Namun intensitas pembahasan-pembahasannya akan berubah ketika efek-efek dari rantai makanan yang diandalkan manusia akan berubah ke luar dari batasan-batasan yang manusia tahu. Pada titik inilah, Lonceng Alarm akan berbunyi.
Segala upaya untuk menjelaskan tentang perubahan-perubahan itu yang berdasarkan Pemanasan Global akibat efek Rumah Kaca akan menjadi alot karena cuaca tak mau diprediksi. Area-area di dunia yang sepanjang ingatan manusia merupakan gurun pasir akan menjadi rawa-rawa akibat hujan yang terus-menerus. Iklim-iklim sedang yang terbiasa dengan curah hujan sedang akan ditimpa bencana kekeringan yang tak juga pergi. Lalu ini semua akan berganti cuaca begitu saja tanpa alasan yang jelas.
Alasan sesungguhnya terletak jauh di dalam inti bumi, sebuah wilayah yang ditolak untuk dipikirkan oleh para ilmuwan. Maka, prediksi-prediksi mereka tentang atmosfer bumi tak akan pernah berdasarkan paramater yang tepat.
Sebuah perubahan kunci, yang bisa kita tunjuk, adalah pemanasan lautan bumi, di seluruh dunia, yang telah diukur kenaikannya sebesar 6 inci (15 cm) di seluruh dunia, pada semua pantai. Air-air laut telah naik karena memanas, dan air panas membutuhkan ruang lebih besar ketimbang air dingin, sebagaimana yang dinyatakan semua buku pelajaran fisika dasar.
Bagaimana bisa lautan yang begitu dalam dan begitu dingin telah memanas?
Apakah itu karena kenaikan udara yang hampir tak terdeteksi, sekitar satu derajat saja, sebagaimana yang dilaporkan hingga kini? Karena panas bertambah, mengapa pula kenaikan suhu yang sedikit ini mempengaruhi lautan-lautan?  Para meteorolog akan memberi tahu Anda bahwa efek dari pemanasan udara adalah turbulensi udara, bukannya pemanasan laut.
Lautan Memanas karena inti bumi telah bertambah panas, dan hal itu terjadi untuk merespon planet saudara Bumi yang sedang mendekat. Hal ini akan berlanjut, dan bertambah, hingga beberapa waktu setelah bencana-bencana alam dahsyat berlalu.
Namun pertanda lainnya lagi adalah melambatnya tingkat kecepatan rotasi bumi, sebuah pengawal dari berhentinya rotasi bumi yang sesungguhnya yang akan terjadi ketika Planet X lewat pada jarak terdekat dengan bumi.
Sebagaimana trend-trend cuaca dan pemanasan, pertama-tama pelambatan itu akan bertahap dan sedikit sekali sehingga tak diperhatikan.
Manusia yang menyangkal tak akan mendebat data terkini, namun dengan perbandingannya terhadap data di masa lalu.
Data di masa lalu ada tak validnya, karena dicatat dengan perangkat yang tak presisi, atau mungkin bahkan tidak diukur sama sekali. Data cuaca yang presisi baru dikumpulkan beberapa dekade yang lalu, paling lama seratus tahun, sedangkan sebelumnya yang dicatata hanyalah cuaca ekstrim seperti misalnya hujan-hujan badai dan itupun dalam bentuk cerita. Tak ada mekanisme untuk mengukur, misalnya velositas angin dari hujan badai, demikian pula cara pencatatan ketinggian gelombang pasang laut atau ukuran bangunan yang roboh. Begitu pula halnya dengan gempa-gempa bumi besar, yang jaman dahulu pernah meratakan kota-kota. Tanpa kemampuan menangkap skala Richter, gempa-gempa bumi di masa lalu hanya diberi istilah getaran, kecil atau besar.
Cara terbaik untuk mengatasi perdebatan adalah tidak dengan menunjuk ke masa lalu namun mulai mencatat peristiwa-peristiwa sekarang.
Seluruh trend dan tanda-tandanya hanya akan meningkat, dengan lautan yang masih memanas, cuaca makin kacau dan masih tak bisa diprediksi, serta bumi yang pelan-pelan memperlambat rotasinya hingga dapat semakin diukur. Jika orang mengumpulkan statistiknya sekarang, dan mengumpulkannya per tahun, maka trendnya akan menunjukkan pola yang jelas. 
Dengan demikian, perdebatan yang ada adalah dengan orang-orang yang sekarang masih hidup, dan dengan statistik-statistik yang dikumpulkan dengan metode-metode yang sama.
Karena trend-trend dan tanda-tandanya meningkat semakin cepat, berlipat-lipat, ketika Planet ke-12 memasuki Tata Surya ini, perbandingan ini dapat digunakan  sebagai pertanda/sinyal bagi banyak orang untuk merencanakan kepindahan ke tempat aman jika waktunya telah tiba.
Kalau cuaca dan lautan yang memanas dapat diperdebatkan tanpa akhir, Rotasi Yang Melambat tak dapat diperdebatkan.

 All rights reserved: ZetaTalk@ZetaTalk.com