Trend Rumah Menuju Pergeseran Kutub

Trend pengamblesan Lempeng Sunda menuju Pergeseran Kutub dan kenaikan ketinggian muka laut hingga 200an meter dalam waktu 2 tahun Pasca Pergeseran Kutub, rumah kapal di wilayah tinggi menjadi imperatif.

Kelangsungan Hidup Menuju dan Pasca Pergeseran Kutub

Dengan klondisi-kondisi sulit akibat cuaca ekstrim menuju dan pasca Pergeseran Kutub, swadaya dengan cara-cara lama, tanpa listrik dari BBM, melainkan dengan peralatan manual dan sumber-sumber energi angin, dll yang sesuai juga imperatif

Penampakan Nibiru, alias Planet X

Inilah sesungguhnya si Bintang Pari, atau Lintang Kemukus, yang disebut-sebut dalam Jangka Jayabaya.

Penataan-Ulang Pulau-Pulau, Daratan-Daratan, Benua-Benua

Perputaran Kutub-Kutub geografis Bumi sebanyak 90 derajat akan membuat Brazil Kutub Utara baru, India Kutub Selatan Baru, dan Asia Tenggara mendarat di sekitar Kutub Selatan. Persiapkan diri terhadap udara sedingin es/salju.

Jangan Panik. Baca Survival Ekstrim Pergeseran Kutub.

Nubuat Mother Shipton

Ursula Southeil (c. 1488–1561), yang lebih dikenal sebagai Mother Shipton, adalah seorang peramal yang lahir di sebuah gua di Inggris (Yorkshire) yang pernah meramalkan keadaan di jaman modern secara akurat, yang mana prediksinya itu hampir serupa dengan yang dinubuatkan oleh Jayabaya:
A Carriage without a horse shall go;
Disaster fill the world with woe...
In water iron then shall float,
As easy as a wooden boat.
Ia memiliki kekuatan magis (supranatural) yang ditakuti orang namun sering digunakannya untuk menolong orang, menurut situs Crystalink. Kemampuannya untuk melihat masa depan yang begitu akurat membuatnya terkenal. Ia menambahkan dalam bait nubuatnya bahwa ia sadar jika visionnya itu akan dianggap sesat namun vision itu benar adanya dan akan terjadi.
You think I utter blasphemy. You're wrong. These things have come to me. This prophecy will come to be. 
(lihat bait paling bawah dalam kutipan nubuatnya di bawah ini)
Berikut kutipan sebagian nubuatnya tentang jaman modern (font hitam bold), termasuk Planet X (font merah), pergeseran kutub (font coklat), pasca pergeseran kutub (font ungu) dan bumi baru (font biru).

Nubuat Mother Shipton
Sumber: Crystalink

And now a word, in uncouth rhyme
Of what shall be in future time

Then upside down the world shall be
And gold found at the root of tree
All England's sons that plough the land
Shall oft be seen with Book in hand
The poor shall now great wisdom know
Great houses stand in farflung vale
All covered o'er with snow and hail

A carriage without horse will go
Disaster fill the world with woe.
In London, Primrose Hill shall be
In centre hold a Bishop's See

Around the world men's thoughts will fly
Quick as the twinkling of an eye.
And water shall great wonders do
How strange. And yet it shall come true.

Through towering hills proud men shall ride
No horse or ass move by his side.
Beneath the water, men shall walk
Shall ride, shall sleep, shall even talk.
And in the air men shall be seen
In white and black and even green

A great man then, shall come and go
For prophecy declares it so.

In water, iron, then shall float
As easy as a wooden boat
Gold shall be seen in stream and stone
In land that is yet unknown.

And England shall admit a Jew
You think this strange, but it is true
The Jew that once ws held in scorn
Shall of a Christian then be born.

A house of glass shall come to pass
In England. But Alas, alas
A war will follow with the work
Where dwells the Pagan and the Turk

These states will lock in fiercest strife
And seek to take each others life.
When North shall thus divide the south
And Eagle build in Lions mouth
Then tax and blood and cruel war
Shall come to every humble door.

Three times shall lovely sunny France
Be led to play a bloody dance
Before the people shall be free
Three tyrant rulers shall she see.

Three rulers in succession be
Each springs from different dynasty.
Then when the fiercest strife is done
England and France shall be as one.

The British olive shall next then twine
In marriage with a german vine.
Men walk beneath and over streams
Fulfilled shall be their wondrous dreams.

For in those wondrous far off days
The women shall adopt a craze
To dress like men, and trousers wear
And to cut off their locks of hair
They'll ride astride with brazen brow
As witches do on broomstick now.

And roaring monsters with man atop
Does seem to eat the verdant crop
And men shall fly as birds do now
And give away the horse and plough.

There'll be a sign for all to see
Be sure that it will certain be.
Then love shall die and marriage cease
And nations wane as babes decrease

And wives shall fondle cats and dogs
And men live much the same as hogs.

In nineteen hundred and twenty six
Build houses light of straw and sticks.
For then shall mighty wars be planned
And fire and sword shall sweep the land.

When pictures seem alive with movements free
When boats like fishes swim beneath the sea,
When men like birds shall scour the sky
Then half the world, deep drenched in blood shall die.

For those who live the century through
In fear and trembling this shall do.
Flee to the mountains and the dens
To bog and forest and wild fens.

For storms will rage and oceans roar
When Gabriel stands on sea and shore
And as he blows his wondrous horn
Old worlds die and new be born.

A fiery dragon will cross the sky
Six times before this earth shall die
Mankind will tremble and frightened be
for the sixth heralds in this prophecy.

For seven days and seven nights
Man will watch this awesome sight.
The tides will rise beyond their ken
To bite away the shores and then
The mountains will begin to roar
And earthquakes split the plain to shore.

And flooding waters, rushing in
Will flood the lands with such a din
That mankind cowers in muddy fen
And snarls about his fellow men.

He bares his teeth and fights and kills
And secrets food in secret hills
And ugly in his fear, he lies
To kill marauders, thieves and spies.

Man flees in terror from the floods
And kills, and rapes and lies in blood
And spilling blood by mankinds hands
Will stain and bitter many lands

And when the dragon's tail is gone,
Man forgets, and smiles, and carries on
To apply himself - too late, too late
For mankind has earned deserved fate.

His masked smile - his false grandeur,
Will serve the Gods their anger stir.
And they will send the Dragon back
To light the sky - his tail will crack
Upon the earth and rend the earth
And man shall flee, King, Lord, and serf.

But slowly they are routed out
To seek diminishing water spout
And men will die of thirst before
The oceans rise to mount the shore.

And lands will crack and rend anew
You think it strange. It will come true.

And in some far off distant land
Some men - oh such a tiny band
Will have to leave their solid mount
And span the earth, those few to count,
Who survives this (unreadable) and then
Begin the human race again.

But not on land already there
But on ocean beds, stark, dry and bare
Not every soul on Earth will die
As the Dragons tail goes sweeping by.

Not every land on earth will sink
But these will wallow in stench and stink
Of rotting bodies of beast and man
Of vegetation crisped on land.

But the land that rises from the sea
Will be dry and clean and soft and free
Of mankinds dirt and therefore be
The source of man's new dynasty.

And those that live will ever fear
The dragons tail for many year
But time erases memory
You think it strange. But it will be.

And before the race is built anew
A silver serpent comes to view
And spew out men of like unknown
To mingle with the earth now grown
Cold from its heat and these men can
Enlighten the minds of future man.

To intermingle and show them how
To live and love and thus endow
The children with the second sight.
A natural thing so that they might
Grow graceful, humble and when they do
The Golden Age will start anew.

The dragon's tail is but a sign
For mankind's fall and man's decline.
And before this prophecy is done
I shall be burned at the stake, at one
My body singed and my soul set free
You think I utter blasphemy
You're wrong. These things have come to me
This prophecy will come to be.



Para Lulusan Baru Yang Bertahan di Bumi

Baca juga

Terjemahan bebas dari ZetaTalk Chat Q&A for May 12, 2012

Para alien Zeta telah menyebutkan bahwa ruh, secara teknis, dapat lulus ke alam spiritual Densitas ke-4, karena pertumbuhan spiritual mereka namun bertahan di alam Densitas ke-3 untuk mengawal Transformasi ini. Lalu, dapat pulakah ruh-ruh pergi ke alam Densitas ke-4 lalu kembali ke alam Densitas ke-3, untuk melakukan pelayanan semacam itu? Mereka, secara teknis, memang bukan Anak-Anak Bintang karena mereka berasal dari Bumi, hanya baru-baru ini. Mereka berada di alam Densitas ke-4 secara spiritual namun di Densitas ke-3 secara fisik. Para ruh Bumi ini memiliki kecenderungan untuk sangat jujur terhadap diri sendiri dan orang-orang lain. Apakah (perpindahan alam--pen.) itu dapat terjadi? Dan apa saja karakteristik ruh-ruh yang kembali itu? Dapatkah para alien Zeta mengklarifikasi? Sepertinya ini tentang Anak-Anak Bintang, namun dalam konteks yang berbeda, yang terkait dengan ruh-ruh Bumi yang kembali.

Penjelasan ZetaTalk (terjemahan bebas):
Telah kami sebutkan tentang keengganan di pihak banyak orang yang Mengabdi-Kebaikan untuk dinaikkan tingkatnya ke alam-alam Pengabdi-Kebaikan Densitas ke-4, karena mereka berhasrat untuk tetap tinggal di bumi dan membantu para rekan-lahir mereka untuk ikut naik tingkat. Mereka menolak kenaikan tingkat itu, selama masa panen jiwa periodik, dan bersikukuh untuk tetap tinggal bersama para rekan lahir mereka hingga Transformasi, ketika semua penduduk bumi, apapun kasusnya, akan disortir ke alam masa depan masing-masing.

Mereka yang masih berlama-lama (di Bumi) dengan cara itu tengah tinggal di dunia yang penuh dengan bahaya dan penderitaan, layaknya semua alam Densitas ke-3, dengan mengorbankan kenyamanan mereka sendiri untuk menolong orang-orang, sebuah tanda (ciri khas--pen.) pada mereka yang Mengabdi-Kebaikan. Ruh-ruh ini setara dengan Anak-Anak Bintang, yang pada dasarnya berasal dari alam-alam berdensitas lebih tinggi, namun terlahir di Bumi.

Seperti apa kehidupan di keberadaan (alam--pen.) berteknologi tinggi, setelah melihat sekilas seperti apa kehidupan di alam-alam yang sepenuhnya Mengabdi-Kebaikan, dimana kerja sama dan dukungan diberikan kepada satu sama lain? Para individu ini cukup jelas tentang apa tujuannya, bagaimana kehidupan berjalan di kalangan mereka yang Mengabdi-Kebaikan, dan dapat melihat dengan sangat jernihnya gambaran menipu yang diberikan oleh mereka yang Mengabdi-Ego.
Kalau mereka yang Mengabdi-Ego mengklaim bahwa ritual-ritual dan ketidaktahuan serta peraturan-peraturan yang dipaksakan melawan kebebasan pribadi adalah demi kebaikan umat manusia, maka mereka yang telah sekilas melihat apa yang menanti mereka setelah lulus sesungguhnya sangat menyadari bahwa itu semua adalah kepalsuan. Dengan demikian, para entitas ini, yang dapat disebut sebagai kakak laki atau perempuan, secara spiritual, biasanya dapat ditemukan di garis-garis depan pertempuran melawan mereka yang Mengabdi-Ego.




Tingkat Kepadatan Spiritual Bumi Sekarang

Terjemahan bebas dari ZetaTalk: Spiritual Density, Note: written by Jul 15, 1995

Seluruh manusia di Bumi sekarang ini berada di alam fisik berkepadatan ke-3, tak peduli betapapun matangnya mereka secara spiritual.
Ini berarti bahwa ada manusia-manusia yang beroperasi pada tingkat spiritual berkepadatan (berdensitas) ke-4, baik yang berorientasi Mengabdi-Ego maupun yang Mengabdi-Kebaikan, yaitu para manusia yang akan lulus ke keberadaan (alam) spiritual berkepadatan ke-4 secara penuh setelah Transformasi, yang saat ini masih tetap dijaga berada di ruang fisik berkepadatan ke-3.
Seluruh manusia, apapun tingkat spiritual yang telah dicapainya, harus pindah bersama-sama ke ruang fisik berdensitas ke-4 ketika populasi Bumi telah mencapai sekitar 89% yang beroperasi dalam orientasi Mengabdi-Kebaikan -- orientasi spiritual masa depan yang telah ditargetkan bagi Bumi.
Bahkan manusia-manusia yang tingkat spiritualnya masih di Densitas ke-3, yang belum menyelesaikan pelajaran orientasi spiritualnya, akan pindah ke ruang/alam fisik Densitas ke-4 saat itu.
Penyampuran densitas spiritual dan fisik adalah persyaratan bagi terjadinya Transformasi.
Alternatifnya adalah bahwa para manusia dengan tingkat spiritual Densitas ke-4 akan tiba-tiba menghilang dari pandangan pada suatu hari, karena telah pindah ke dimensi lain, bisa dibilang. 
Namun hal ini tidak hanya akan membuat resah para manusia Densitas ke-3 di dekatnya, tapi juga tidak dipilih oleh mereka Yang Mengabdi-Kebaikan di Densitas ke-4 itu, yang mempertimbangkan berbagai tanggung jawab mereka. Mereka tidak ingin meninggalkan orang-orang yang mereka rasa menjadi tanggung jawab mereka. 
Oleh karenanya, semuanya akan pindah bersama-sama.





Berpikir Mandiri VS Pendewaan

Baca juga:


Berpikir mandiri sentral bagi pertumbuhan dan perkembangan jiwa manusia dalam membentuk peradaban yang potensial bagi tumbuh-kembang manusia. Bagaimana menurut para alien Zeta Pengabdi-Kebaikan tentang Pikiran Mandiri?

Terjemahan bebas dari ZetaTalk: Independent Thinking, Note: written on Jan 15, 1997

Murid yang berpikir sendiri berada di jalan yang benar, ketika mereka meraba-raba ke dalam area-area yang tidak dibahas atau disajikan di sekolah karena mereka merasakan bahwa mereka hanya diberi sebagian saja dari gambaran yang ada, kala mereka menolak penjelasan-penjelasan kaku yang diberikan kepada mereka tentang cara kerja sesutu, atau penjelasan-penjelasan yang berdasarkan pada hanya sebagian dari puzzle dan bukan keselulruhan.
Cara pikir seperti ini tidak pernah salah, namun diperlakukan sebaliknya. Murid diharapkan untuk menerima penjelasan kaku dan membuang potongan apapun dari puzzle itu yang mereka temukan karena akan mengganggu penjelasan kaku. Demikianlah yang mendatangkan amarah para profesor, ketika ditanyai dengan pertanyaan-pertanyaan yang sepertinya melawan atau kontradiksi dengan teori yang berlaku. Sesungguhnya, ada lebih banyak murid cerdas, yang merupakan jenis pemikir, yang meninggalkan bangku sekolah ketimbang bertahan, sedangkan mereka yang bertahan menjadi menderita.
Meskipun kebanyakan umat manusia senang memikirkan bahwa diri mereka adalah makhluk-makhluk cerdas, dan bahkan satu-satunya makhluk dalam ciptaan Tuhan yang dikaruniai bakat-bakat, mereka lebih sering bersedia menerima kesimpulan-kesimpulan orang ketimbang berpikir sendiri.
Ini karena secara emosional mereka adalah kanak-kanak. Lihat saja contohnya pada diskusi-diskusi tentang mengapa planet terus berputar. Itu karena hukum (gravitasi--pen.) Newton. Begitu gerakan dimulai, ia akan terus bergerak kecuali dihentikan. (Lalu) Ketika ada kontradiksi nyata terhadap apa yang disebut hukum ini, yang sesungguhnya bukan hukum melainkan hanya penggambaran prilaku, "anak-anak" itu menjadi bingung setengah mati. 
Bukannya Newton yang tak dapat ditentang, "anak-anak" itu yang tidak dapat berpikir sendiri.
Lihatlah ke sekeliling Anda, pada bagaimana anak-anak mengatasi kerumitan hidup.
Mereka meminta orang-orang tua mereka menjelaskan, dan apapun penalaran yang diberikan akan menjadi jawaban bagi mereka, yang akan dijelaskan kembali ke anak-anak lain, dan akan dipertahankan dengan amarah.
Anak-anak selalu membutuhkan keberadaan orang tua untuk menjelaskan masalah-masalah. Dan nada emosional yang menguasai akibat rasa putus asa akan menunggangi kapasitas untuk berpikir secara logis yang mungkin dimiliki si anak.
Telah dijunjung hingga ke tingkat dewa, para orang tua (dianggap) tidak mungkin salah, hingga ada orang dewasa lain yang muncul dan diangkat menjadi dewa untuk diganduli dengan rasa putus asa yang sama -- pimpinan geng, artis film, atlet. Kebanyakan manusia dewasa, yang hanya dewasa di luarannya saja, masihlah "kanak-kanak| di dalam jiwa mereka, yang mengganduli siapapun yang bertindak seperti sosok dewa yang menyatakan diri, apakah itu dengan mengklaim untuk merawat si "anak dewasa" atau mengklaim memiliki semua jawaban.
Prinsip-prinsip ilmiah, begitu dinyatakan oleh dewa semacam itu, tidak diperkenankan untuk ditentang kecuali ditentang oleh dewa lain.
Tak peduli betapapun tidak logisnya prinsip ilmiah itu jadinya, kaidah-kaidah agama dikutbahkan berulang-ulang tanpa memakai otak, dan tentangan apapun pada pengabdian ini akan menemui permusuhan. Berani-beraninya kaumenentang hukum-hukum Tuhan (atau "dewa", tergantung komunitasnya--pen.)!
Kecenderungan untuk berprilaku seperti anak kecil yang tak menggunakan otaknya ini terjadi paling dramatis dalam komunitas-komunitas ilmiah, dimana dianggap ada logika dan kemampuan untuk memikirkan masalah-masalah secara mendalam.
Sangat berlawanan dengan apa yang dapat diharapkan umat manusia dari para ilmuwan mereka, si anak dewasa mengocehkan hukum-hukum para "dewa" mereka dan menolak untuk menyejajarkan kontradiksi-kontradiksi yang ada dengan hukum-hukum ini. Mereka pura-pura tidak melihat. Mereka meneriakkan hinaan-hinaan. Mereka melengos pergi dengan mendengus. Apapun boleh asal tidak dipaksa untuk tumbuh dewasa dan berpikir sendiri!





Tentang Masalah Besar Dengan Keilmuan Manusia

Ada sebuah hal umum yang sangat kontradiktif yang berlaku dalam diri kita manusia yang sesungguhnya dapat disadari banyak orang. Di satu sisi, ada banyak manusia yang sering berucap atau bersikap bahwa "manusia tidaklah sempurna, karena kesempurnaan milik Tuhan" atau kata-kata semacam itu, namun kenyataan sikap sehari-harinya berlawanan dengan pikiran atau ucapannya itu. Contoh ekstrimnya, ia berpegang begitu teguhnya pada teori-teori atau hukum-hukum yang diyakininya (bisa jadi dari warisan keluarga, leluhur, atau warisan lainnya, ataupun dari upayanya sendiri) sampai-sampai akan menyerang (verbal atau fisik) siapapun yang menentang keyakinannya.

Kondisi ini dapat ditemui dalam kaitannya dengan berbagai aspek kehidupannya, keyakinan terhadap teori-teori yang telah berlaku di bidang ilmunya (apapun tingkatannya), hukum-hukum agamanya, dan masih banyak lagi lainnya. Ia tidak menyadari bahwa keyakinan teguhnya ini (yang notabene berasal dari pola pikirnya, yang, sebagai manusia, seharusnya tidak sempurna menurutnya) merupakan pernyataan dirinya bahwa pemikirannya tak mungkin salah, meskipun sering kali ia menambahkan dengan ucapan, kurang lebih, "manusia adalah gudang kesalahan", sementara keyakinannya masih sama--tidak membuka diri.  Ia tak menyadari bahwa sikapnya itu sesungguhnya menentang keyakinannya sendiri bahwa manusia, atau ia sendiri, tak sempurna. Dengan kata lain, dalam kasus ini, dalam pendewaannya terhadap keyakinannya, ia telah menutup diri terhadap apapun.

Mengapa banyak dari kita manusia begitu tidak menyadari kontradiksi spesifik itu dalam diri sendiri?  Fenomena apakah ini? Berikut para alien Zeta menjelaskan.

[Manusia yang Yang Tak Pernah Salah]
Terjemahan bebas ZetaTalk: Human Infallibility, Note: written on Jan 15, 2002
[human Infalibility: manusia yang tak mungkin salah / manusia yang merasa tak mungkin salah/kesempurnaan manusia/manusia sempurna]

Dalam pembahasan apapun mengenai ilmu yang dimiliki manusia, terdapat lebih dari sekedar bahasan tentang fakta, asumsi, dan teori. Di sana juga ada sikap gaya-gayaan (jaim, menjaga image--pen.) dan kebutuhan untuk merasa nyaman.

Pendalilan sebuah teori, sudah terlalu sering, menjadi masalah kepemilikan dan rasa bangga. Dengan demikian,  teori yang muncul setelahnya tidak mungkin salah, atau si pemilik ilmu itu, entah bagaimana, didiskreditkan dan dijatuhkan namanya. Lalu ada struktur yang dibangun di seputar teori itu - buku-buku yang dipublikasikan, kuliah-kuliah dan kurikulum, pertemuan di klub-klub secara rutin untuk membahas masalah itu. Semua itu bagaikan sebuah jejaring, yang menopang teori itu, dan upaya apapun untuk merubah teori itu akan memunculkan geraman rasa tertekan dari jejaring yang juga harus berubah (karenanya).

Dengan demikian, dalam masyarakat manusia, ada Gereja Katolik yang baru-baru ini meminta maaf karena pernah menganiaya serta membakar hidup-hidup orang yang menyatakan bahwa Bumi ini bulat, tidak datar, sementara Flat Earth Society ada sekarang ini.

Lalu mengapa pula ilmu-ilmu, dalam masyarakat manusia, harus mendapat perlakuan berbeda dengan itu sekarang ini? Karya-karya Einstein, ketika pertama kali disajikan, tidak hanya dinyatakan salah, namun juga diteriaki agar tidak disuarakan. Ilmu-ilmu itu, yang merupakan hasil karya Einstein, diperlakukan layaknya sebuah ancaman oleh orang-orang yang mengambil sikap agar teori-teori yang ada terus berlanjut. "Sampah terbusuk" dapat dibahas dengan tenang, namun kuliah-kuliah Einstein terganggu oleh momen-momen teriakan serta serangan-serangan fisik. Orang dapat beranggapan bahwa hal ini terjadi karena Einstein (dianggap) salah, namun, faktanya, panasnya perdabatan itu menunjukkan sebaliknya, karena ia benar, dibandingkan dengan (orang-orang yang membuat) teori-teori yang ada sekarang ini.

Namun (teori-teori) Newton masih diajarkan di sekolah-sekolah, kepada generasi muda, bersamaan dengan teori-teori Einstein. Dan ketika teori-teori itu saling berkontradiksi, para mahasiswa/i diharapkan untuk tidak memperhatikannya. Ini karena para profesor membutuhkan gaya seolah-olah mahatahu dan tak mungkin salah, dan siapapun muridnya yang menyiratkan hal yang berbeda akan menderita di tangan para profesor itu.

Lalu ada faktor kenyamanan, yaitu kebutuhan untuk merasa bahwa malapetaka tidak akan menerpa tiba-tiba, karena fakta-faktanya telah diketahui, dan, dengan demikian, masa depan, kurang lebih, dapat diprediksi. (Contohnya) cahaya menyambar, dan sambarannya mengenai manusia-manusia yang kuat dan tegap layaknya sambaran petir, namun faktor-faktor seputar petir dan sambaran dapat dianalisa, dan, dengan demikian, kemungkinan kejadiannya, kurang lebih, dapat diprediksi.

Lalu bagaimana, di luar masalah kenyamanan yang sama yang dibutuhkan oleh seorang profesor atau seorang ilmuwan yang gaya-gayaan, teori-teori ilmiah sekarang ini terkait dengan faktor kenyamanan manusia?
Seandainya teori-teori tentang bagaimana petir dihasilkan harus diubah, maka hal ini menyiratkan bahwa mereka yang angkuh dalam asumsi-asumsi mereka tentang kemungkinan terjadinya sambaran petir, mungkin telah salah (berasumi), dan, dengan demikian, bersifat rapuh (dalam teori-teori mereka--pen.). Kalau teori-teori tentang penyebab sambaran petir diubah, maka hal ini juga menyiratkan bahwa orang-orang yang angkuh dalam asumsi-asumsi mereka bahwa mereka ini kebal mungkin telah salah.  
Dengan demikian, rasa tidak nyaman terhadap perubahan menyebabkan resistansi terhadap perubahan, dan teori-teori sering kali berkembang secara kokoh untuk alasan tak lain dari ini.

All rights reserved: ZetaTalk@ZetaTalk.com