Tentang Masalah Besar Dengan Keilmuan Manusia

Ada sebuah hal umum yang sangat kontradiktif yang berlaku dalam diri kita manusia yang sesungguhnya dapat disadari banyak orang. Di satu sisi, ada banyak manusia yang sering berucap atau bersikap bahwa "manusia tidaklah sempurna, karena kesempurnaan milik Tuhan" atau kata-kata semacam itu, namun kenyataan sikap sehari-harinya berlawanan dengan pikiran atau ucapannya itu. Contoh ekstrimnya, ia berpegang begitu teguhnya pada teori-teori atau hukum-hukum yang diyakininya (bisa jadi dari warisan keluarga, leluhur, atau warisan lainnya, ataupun dari upayanya sendiri) sampai-sampai akan menyerang (verbal atau fisik) siapapun yang menentang keyakinannya.

Kondisi ini dapat ditemui dalam kaitannya dengan berbagai aspek kehidupannya, keyakinan terhadap teori-teori yang telah berlaku di bidang ilmunya (apapun tingkatannya), hukum-hukum agamanya, dan masih banyak lagi lainnya. Ia tidak menyadari bahwa keyakinan teguhnya ini (yang notabene berasal dari pola pikirnya, yang, sebagai manusia, seharusnya tidak sempurna menurutnya) merupakan pernyataan dirinya bahwa pemikirannya tak mungkin salah, meskipun sering kali ia menambahkan dengan ucapan, kurang lebih, "manusia adalah gudang kesalahan", sementara keyakinannya masih sama--tidak membuka diri.  Ia tak menyadari bahwa sikapnya itu sesungguhnya menentang keyakinannya sendiri bahwa manusia, atau ia sendiri, tak sempurna. Dengan kata lain, dalam kasus ini, dalam pendewaannya terhadap keyakinannya, ia telah menutup diri terhadap apapun.

Mengapa banyak dari kita manusia begitu tidak menyadari kontradiksi spesifik itu dalam diri sendiri?  Fenomena apakah ini? Berikut para alien Zeta menjelaskan.

[Manusia yang Yang Tak Pernah Salah]
Terjemahan bebas ZetaTalk: Human Infallibility, Note: written on Jan 15, 2002
[human Infalibility: manusia yang tak mungkin salah / manusia yang merasa tak mungkin salah/kesempurnaan manusia/manusia sempurna]

Dalam pembahasan apapun mengenai ilmu yang dimiliki manusia, terdapat lebih dari sekedar bahasan tentang fakta, asumsi, dan teori. Di sana juga ada sikap gaya-gayaan (jaim, menjaga image--pen.) dan kebutuhan untuk merasa nyaman.

Pendalilan sebuah teori, sudah terlalu sering, menjadi masalah kepemilikan dan rasa bangga. Dengan demikian,  teori yang muncul setelahnya tidak mungkin salah, atau si pemilik ilmu itu, entah bagaimana, didiskreditkan dan dijatuhkan namanya. Lalu ada struktur yang dibangun di seputar teori itu - buku-buku yang dipublikasikan, kuliah-kuliah dan kurikulum, pertemuan di klub-klub secara rutin untuk membahas masalah itu. Semua itu bagaikan sebuah jejaring, yang menopang teori itu, dan upaya apapun untuk merubah teori itu akan memunculkan geraman rasa tertekan dari jejaring yang juga harus berubah (karenanya).

Dengan demikian, dalam masyarakat manusia, ada Gereja Katolik yang baru-baru ini meminta maaf karena pernah menganiaya serta membakar hidup-hidup orang yang menyatakan bahwa Bumi ini bulat, tidak datar, sementara Flat Earth Society ada sekarang ini.

Lalu mengapa pula ilmu-ilmu, dalam masyarakat manusia, harus mendapat perlakuan berbeda dengan itu sekarang ini? Karya-karya Einstein, ketika pertama kali disajikan, tidak hanya dinyatakan salah, namun juga diteriaki agar tidak disuarakan. Ilmu-ilmu itu, yang merupakan hasil karya Einstein, diperlakukan layaknya sebuah ancaman oleh orang-orang yang mengambil sikap agar teori-teori yang ada terus berlanjut. "Sampah terbusuk" dapat dibahas dengan tenang, namun kuliah-kuliah Einstein terganggu oleh momen-momen teriakan serta serangan-serangan fisik. Orang dapat beranggapan bahwa hal ini terjadi karena Einstein (dianggap) salah, namun, faktanya, panasnya perdabatan itu menunjukkan sebaliknya, karena ia benar, dibandingkan dengan (orang-orang yang membuat) teori-teori yang ada sekarang ini.

Namun (teori-teori) Newton masih diajarkan di sekolah-sekolah, kepada generasi muda, bersamaan dengan teori-teori Einstein. Dan ketika teori-teori itu saling berkontradiksi, para mahasiswa/i diharapkan untuk tidak memperhatikannya. Ini karena para profesor membutuhkan gaya seolah-olah mahatahu dan tak mungkin salah, dan siapapun muridnya yang menyiratkan hal yang berbeda akan menderita di tangan para profesor itu.

Lalu ada faktor kenyamanan, yaitu kebutuhan untuk merasa bahwa malapetaka tidak akan menerpa tiba-tiba, karena fakta-faktanya telah diketahui, dan, dengan demikian, masa depan, kurang lebih, dapat diprediksi. (Contohnya) cahaya menyambar, dan sambarannya mengenai manusia-manusia yang kuat dan tegap layaknya sambaran petir, namun faktor-faktor seputar petir dan sambaran dapat dianalisa, dan, dengan demikian, kemungkinan kejadiannya, kurang lebih, dapat diprediksi.

Lalu bagaimana, di luar masalah kenyamanan yang sama yang dibutuhkan oleh seorang profesor atau seorang ilmuwan yang gaya-gayaan, teori-teori ilmiah sekarang ini terkait dengan faktor kenyamanan manusia?
Seandainya teori-teori tentang bagaimana petir dihasilkan harus diubah, maka hal ini menyiratkan bahwa mereka yang angkuh dalam asumsi-asumsi mereka tentang kemungkinan terjadinya sambaran petir, mungkin telah salah (berasumi), dan, dengan demikian, bersifat rapuh (dalam teori-teori mereka--pen.). Kalau teori-teori tentang penyebab sambaran petir diubah, maka hal ini juga menyiratkan bahwa orang-orang yang angkuh dalam asumsi-asumsi mereka bahwa mereka ini kebal mungkin telah salah.  
Dengan demikian, rasa tidak nyaman terhadap perubahan menyebabkan resistansi terhadap perubahan, dan teori-teori sering kali berkembang secara kokoh untuk alasan tak lain dari ini.

All rights reserved: ZetaTalk@ZetaTalk.com