Berpikir Mandiri VS Pendewaan

Baca juga:


Berpikir mandiri sentral bagi pertumbuhan dan perkembangan jiwa manusia dalam membentuk peradaban yang potensial bagi tumbuh-kembang manusia. Bagaimana menurut para alien Zeta Pengabdi-Kebaikan tentang Pikiran Mandiri?

Terjemahan bebas dari ZetaTalk: Independent Thinking, Note: written on Jan 15, 1997

Murid yang berpikir sendiri berada di jalan yang benar, ketika mereka meraba-raba ke dalam area-area yang tidak dibahas atau disajikan di sekolah karena mereka merasakan bahwa mereka hanya diberi sebagian saja dari gambaran yang ada, kala mereka menolak penjelasan-penjelasan kaku yang diberikan kepada mereka tentang cara kerja sesutu, atau penjelasan-penjelasan yang berdasarkan pada hanya sebagian dari puzzle dan bukan keselulruhan.
Cara pikir seperti ini tidak pernah salah, namun diperlakukan sebaliknya. Murid diharapkan untuk menerima penjelasan kaku dan membuang potongan apapun dari puzzle itu yang mereka temukan karena akan mengganggu penjelasan kaku. Demikianlah yang mendatangkan amarah para profesor, ketika ditanyai dengan pertanyaan-pertanyaan yang sepertinya melawan atau kontradiksi dengan teori yang berlaku. Sesungguhnya, ada lebih banyak murid cerdas, yang merupakan jenis pemikir, yang meninggalkan bangku sekolah ketimbang bertahan, sedangkan mereka yang bertahan menjadi menderita.
Meskipun kebanyakan umat manusia senang memikirkan bahwa diri mereka adalah makhluk-makhluk cerdas, dan bahkan satu-satunya makhluk dalam ciptaan Tuhan yang dikaruniai bakat-bakat, mereka lebih sering bersedia menerima kesimpulan-kesimpulan orang ketimbang berpikir sendiri.
Ini karena secara emosional mereka adalah kanak-kanak. Lihat saja contohnya pada diskusi-diskusi tentang mengapa planet terus berputar. Itu karena hukum (gravitasi--pen.) Newton. Begitu gerakan dimulai, ia akan terus bergerak kecuali dihentikan. (Lalu) Ketika ada kontradiksi nyata terhadap apa yang disebut hukum ini, yang sesungguhnya bukan hukum melainkan hanya penggambaran prilaku, "anak-anak" itu menjadi bingung setengah mati. 
Bukannya Newton yang tak dapat ditentang, "anak-anak" itu yang tidak dapat berpikir sendiri.
Lihatlah ke sekeliling Anda, pada bagaimana anak-anak mengatasi kerumitan hidup.
Mereka meminta orang-orang tua mereka menjelaskan, dan apapun penalaran yang diberikan akan menjadi jawaban bagi mereka, yang akan dijelaskan kembali ke anak-anak lain, dan akan dipertahankan dengan amarah.
Anak-anak selalu membutuhkan keberadaan orang tua untuk menjelaskan masalah-masalah. Dan nada emosional yang menguasai akibat rasa putus asa akan menunggangi kapasitas untuk berpikir secara logis yang mungkin dimiliki si anak.
Telah dijunjung hingga ke tingkat dewa, para orang tua (dianggap) tidak mungkin salah, hingga ada orang dewasa lain yang muncul dan diangkat menjadi dewa untuk diganduli dengan rasa putus asa yang sama -- pimpinan geng, artis film, atlet. Kebanyakan manusia dewasa, yang hanya dewasa di luarannya saja, masihlah "kanak-kanak| di dalam jiwa mereka, yang mengganduli siapapun yang bertindak seperti sosok dewa yang menyatakan diri, apakah itu dengan mengklaim untuk merawat si "anak dewasa" atau mengklaim memiliki semua jawaban.
Prinsip-prinsip ilmiah, begitu dinyatakan oleh dewa semacam itu, tidak diperkenankan untuk ditentang kecuali ditentang oleh dewa lain.
Tak peduli betapapun tidak logisnya prinsip ilmiah itu jadinya, kaidah-kaidah agama dikutbahkan berulang-ulang tanpa memakai otak, dan tentangan apapun pada pengabdian ini akan menemui permusuhan. Berani-beraninya kaumenentang hukum-hukum Tuhan (atau "dewa", tergantung komunitasnya--pen.)!
Kecenderungan untuk berprilaku seperti anak kecil yang tak menggunakan otaknya ini terjadi paling dramatis dalam komunitas-komunitas ilmiah, dimana dianggap ada logika dan kemampuan untuk memikirkan masalah-masalah secara mendalam.
Sangat berlawanan dengan apa yang dapat diharapkan umat manusia dari para ilmuwan mereka, si anak dewasa mengocehkan hukum-hukum para "dewa" mereka dan menolak untuk menyejajarkan kontradiksi-kontradiksi yang ada dengan hukum-hukum ini. Mereka pura-pura tidak melihat. Mereka meneriakkan hinaan-hinaan. Mereka melengos pergi dengan mendengus. Apapun boleh asal tidak dipaksa untuk tumbuh dewasa dan berpikir sendiri!