Campur Tangan Gaib Dalam Kehidupan Pribadi Manusia

Dalam menyikapi bencana-bencana alam sekarang ini yang sepertinya melejit dalam intensitas dan jumlah kejadian serta korban, banyak orang beranggapan bahwa ini semua sudah kehendak Tuhan yang manusia tidak ada daya selain berpasrah diri karena upaya apapun akan percuma. Keyakinan ini sering diiringi keyakinan akan adanya penyelamatan gaib dalam suatu bentuk karena Tuhan Mahabaik.
Berbasis keyakinan-keyakinan ini, banyak yang hanya berdoa dan tidak melakukan apapun untuk mempersiapkan diri, selama bencana itu tidak menyentuh mereka secara ekstrim. Selain itu, ada situasi-situasi hidup yang sepertinya mencegah orang berbuat salah atau yang menghalangi niat baik orang. Orangpun  merasa ada kuasa gaib yang campur tangan hingga tingkatan niat-niatnya. Orangpun mengatakan, "Manusia berencana dan berupaya, Tuhan pula yang menentukan." 
Selanjutnya ini bisa menjadi dilema memusingkan ketika masalah-masalahnya menjadi rumit. Dalam menelaah hal ini, muncul dua pertanyaan signifikan, seberapa jauh manusia memiliki hak berkehendak bebas; bagaimana campur tangan gaib dalam hal ini. Para alien Zeta Pengabdi-Kebaikan menjelaskan.

Terjemahan bebas ZetaTalk: Mixed Setting, Note: written Oct 15, 2000.

Seringkali ada rasa bingung yang besar tentang peraturan-peraturan yang harus ditaati oleh para alien, yaitu peraturan-peraturan yang diatur oleh Dewan Alam Semesta Ini (Council of Worlds), yang berlaku untuk kunjungan-kunjungan serta kehadiran alien di bumi atau di dalam tata suryanya.
Kebingungan ini dilandasi oleh (pemikiran manusia yang hanya berpatokan pada - pen.) peraturan-peraturan manusia, yaitu yang beroperasi dan diberlakukan sebagai akibat dari masyarakat manusia atau sifat manusia, dan membaurkan kedua set peraturan itu (sebagai jenis peraturan yang sama saja - pen.).
Kedua jenis peraturan itu sepertinya tidak cocok, dan memang tidak cocok, karena keduanya adalah dua set peraturan yang terpisah.
Pelajaran di alam berkepadatan ke-3, seperti yang pernah kami jelaskan, adalah untuk memutuskan orientasi spiritual diri - Mengabdi-Ego atau Mengabdi-Kebaikan.
Alam bumi ini adalah kepadatan singkat, karena densitas-densitas itu berlanjut, yang biasanya melibatkan hanya beberapa ribu inkarnasi sebelum entitas mengambil keputusan orientasi spiritualnya. 
Keputusan ini tumbuh sedikit demi sedikit, karena kondisi-kondisi hidup menempatkan entitas dalam situasi-situasi dimana diri sendiri harus berkorban dengan suatu cara demi kebaikan orang lain. 
Dengan berlalunya inkarnasi-inkarnasi, entitas mengalami berbagai situasi lalu mendapatkan kapasitas untuk berempati, karena pernah berada dalam situasi itu, sehingga mampu membayangkan apa yang sedang dialami orang lain itu. Pengorbanan diri bagi orang lain juga mengambil banyak bentuk.
  • mulai dari rasa lapar sementara atau sekedar lecet hingga kehilangan nyawa;
  • mulai dari membiarkan orang lain yang mendapat pujian atas suatu prestasi hingga dikucilkan dan diusir dari clan atas suatu kejahatan yang tidak dilakukannya. 
Banyak nuansa dalam menjadi diri yang Mengabdi-Ego atau Mengabdi-Kebaikan yang dijelajahi, menguji orientasi entitas yang muncul secara bertahap. Haruskan proses ini mendapat campur tangan, dan akankah campur tangan semacam itu akan mempercepat proses pengambilan keputusan orientasi spiritual atau memberi manfaat?

Peraturan Non-Keterlibatan di sini serupa dengan ujian yang diambil murid-murid, untuk menentukan tingkat pemahaman atau pengetahuan mereka. Selama ujian-ujian sekolah semacam itu, murid-murid tidak diperkenankan berbicara satu sama lain atau mengedarkan catatan, orang luar juga tidak boleh bercakap-cakap dengan murid-murid. Ini adalah ujian, untuk menentukan kesiapan untuk pindah ke tingkat lain.

Dengan cara yang sama, campur tangan dalam pengalaman-pengalaman (manusia) di alam berkepadatan ke-3 dengan  menyelonong untuk menyelamatkan entitas dari sebuah keputusan/pilihan buruk atau suatu kondisi yang faktanya harus ia alami, akan memperlambat evolusi pelajaran itu.
Entitas-entitas di alam berkepadatan ke-3 seharusnya mengalami kondisi-kondisi yang menekan, agar mereka diuji untuk ujian diri mereka sendiri sekaligus bagi para pembimbing spiritual yang mengawasi proses itu.
Ketika kunjungan-kunjungan (alien) diperkenankan, karena ada Panggilan (dari manusia kepada alien - pen.), atau dimana konferensi antara manusia dengan para pembimbing pelahiran terjadi di antara inkarnasi-inkarnasi, ini tidak dianggap campur tangan melainkan sebuah ulasan dan pembahasan tentang apa yang telah terjadi.
Ini serupa dengan membahas situasi yang sangat emosional dengan seorang teman sembari ngopi atau nge-bir, atau berkonsultasi tentang suatu masalah yang telah dialami. Si entitas masih mempertimbangkan keputusan-keputusannya tentang hidupnya sendiri.
Kalau ada kunjungan-kunjungan dari alien atau ada kehadiran yang dekat dari grup-grup dari alam berkepadatan ke-3 lainnya yang mengganggu proses pengambilan keputusan entitas yang diijinkan mengambil keputusannya sendiri, berdasarkan medan permainan (ujian hidup - pen.) yang setaraf, Dewan Alam Semesta Ini akan melangkah masuk untuk memberlakukan peraturan-peraturan yang mengatur kunjungan atau memberlakukan karantina.
Ini serupa dengan mengijinkan seorang murid pergi ke toilet selama sebuah ujian, namun tidak mengijinkan adanya percakapan atau diskusi di luar selama ijin keluar dari ujian itu.
Medan permainan hidup yang seimbang adalah medan dimana keputusan-keputusan entitas-entitas berdensitas ke-3, pada utamanya, mempengaruhi hasilnya, bukan dimana hasilnya telah diselewengkan untuk mempengaruhi keputusan mereka.
Maka, keputusan untuk menimbun makanan dan bukannya berbagi, selama periode-periode kelaparan, akan berarti bahwa orang-orang lain menjadi lemah, lalu sakit, lalu mati. Ini bukan tentang orang yang menimbun makanan itu menjadi raja sehingga dapat menguasai karena tamu-tamu alien telah mengatur kondisi itu.
Para tamu alien, jika berorientasi Mengabdi-Kebaikan, hanya dapat memberi saran kepada seorang Kontakti  (manusia kontak makhluk gaib/alien Mengabdi-Kebaikan) untuk melakukan ini atau itu, bukannya mengatur setting hidup atau mempengaruhi hasilnya, secara langsung.
Karena itulah pendaratan masal UFO, yang hanya akan membuat manusia ngeri, tidak diperkenankan (oleh Dewan Alam Semesta Ini - pen.). Karena itulah melarikan diri ke planet Mars oleh para elit selama pergeseran kutub nanti, yang akan memungkinkan orang-orang itu menghindari kondisi-kondisi hidup yang menghadang mereka, (juga) tidak diperkenankan."