Pilihan Sulit Dalam Pelajaran Spiritual Manusia Bumi

Para alien Zeta Pengabdii-Kebaikan menjelaskan bahwa apa yang sesungguhnya disebut spiritualitas bukanlah sekedar wacana, diskusi, maupun penyisihan waktu-waktu tertentu untuk menunaikan ibadah-ibadah keagamaan, melainkan, utamanya, totalitas hidup setiap individu tanpa kecuali, setiap hari. Apa yang dijalani setiap individu dalam kesehariannya itulah yang menjadi kadar spiritualitasnya---kualitas ruhnya. Ini karena memang spiritualitas adalah hal-hal yang terkait dengan ruh (spirit) manusia.
Dengan demikian, spiritualitas berbicara tentang kualitas sejati ruh manusia--bukan sekedar di bibir, pikiran ataupun keinginan, melainkan tindakan-tindakan nyata sesuai pandangan hidupnya, apapun itu. Ini ketika niat terlaksana dalam. Dan pelajaran-pelajaran spiritual tersebut di masa-masa bencana geologis akan semakin menempatkan manusia yang berhati baik pada umumnya dalam dilema-dilema paling sulit. 
Salah satu dilema spiritual tersulit mereka berikan contohnya melalui situasi para dokter dan perawat di sebuah rumah sakit di New Orleans selama bencana badai Katrina pada 2009. Berikut penjelasan ZetaTalk.

Terjemahan bebas ZetaTalk Chat, 28 Agt. 2010 

Bumi adalah rumah sekolah spiritual, dimana ruh-ruh berusia muda (secara spiritual - pen.) disajikan dengan berbagai skenario yang akan menginspirasikan mereka untuk memiliki kecondongan spiritual ke empati atau yang akan memungkinkan mereka berpegang pada rasa mementingkan diri sendiri, dengan demikian (pelajaran itu) menunjukkan kecondongan-kecondongan spiritual mereka.
Pelajaran ini tak akan berubah hanya karena bencana-bencana geologis akan menjadi semakin umum terjadi, atau berdampak lebih besar pada bumi ketimbang di tahun-tahun normal. Telah kami gambarkan tentang orang-orang yang terkena bencana itu sebagai korban-korban keadaan atau yang sengaja memilih situasi itu dalam inkarnasinya semata-mata demi pelajaran-pelajaran untuk dipetik ataupun yang menjadi hasil karma akibat tindakan-tindakannya sendiri selama inkarnasi ini.
Timpaan bencana semacam itu mengajari entitas tersebut, yang sedemikian parahnya tertimpa kemalangan, untuk menjadi berempati terhadap orang-orang lain di masa mendatang, serta, pada saat bersamaan, memberi kesempatan kepada orang-orang lain untuk mengurusi si entitas yang tertimpa bencana itu.
Jika spritiualitas si individu condong ke Mengabdi-Ego, maka tak ada pelajaran yang dapat dipetik selain dari tekadnya yang kokoh untuk menjadi orang kuat dan top dog (golongan penguasa) di masa mendatang.
Apa yang kemudian terjadi ketika orang-orang bergantung pada orang-orang lain, maka mereka itu bergantung pada layanan sosial atau belas kasihan orang lain. (Mereka adalah orang-orang seperti berikut ini - pen.)
Orang-orang jompo di rumah-rumah jompo, sering kali terlupakan oleh keluarga-keluarga mereka dan sudah pastinya sangat mengandalkan para staf perawat. Mereka yang cacat, seperti misalnya veteran tanpa anggota tubuh, atau  quadriplegic (tuna daksa) akibat kecelakaan. 
Mereka yang menderita cacat lahir bertubuh cacat, meskipun berpikiran sehat, tak mampu mengurusi diri sendiri. Mereka yang terlahir dengan keterbelakangan mental atau kerusakan otak, mereka yang masuk rumah sakit jiwa atau dirawat para keluarga mereka. 
Mereka yang dirawat di rumah sakit atau terus-menerus memerlukan bantuan medis seperti dialysis ginjal atau suntikan insulin. Mereka yang rentan terhadap infeksi atau dikuasai penyakit autoimmune jika tidak mendapat pengobatan medis dan hampir terus-menerus tergantung pada obat antibiotika. 
Mereka yang sakit jiwa, yang tanpa pengobatan akan menjadi ribut dan berantakan, suka menuduh dan menuntut. 
Seluruh individu itu akan berada dalam situasi yang buruk secara kontras ketika pergeseran kutub menimpa. Reaksi orang-orang di sekeliling mereka (para orang malang di atas - pen.) akan sesuai dengan orientasi spiritual masing-masing.
Jika berorientasi Mengabdi-Ego, si individu akan segera meninggalkan mereka pada kesempatan pertama. Jika condong ke Mengabdi-Kebaikan, akan muncul konflik. Haruskah perawatan diteruskan, menempatkan diri si perawat dalam resiko besar, ketika hasil akhirnya tidak akan terelakkan (membawa kematian bagi semua - pen.)?
Perawat, yang terbebani oleh orang-orang yang tidak dapat memberi sumbangan dalam hal mencari  makan atau berkebun atau mengumpulkan makanan dari lingkungannya, akan dapati semua orang kelaparan, termasuk dirinya sendiri.
Malahan, si perawat tidak akan mampu mengurusi sejumlah besar individu yang bergantung kepadanya, karena sering kali pengobatan medis merupakan bagian dari rutinitas itu. Dan, tanpa pengobatan medis, anggota-anggota tubuh penderita tuna daksa akan berlepasan, penderita gangguan jiwa akan membelalakkan mata dan mengoceh, dan mereka yang memliki sedikit saja kapasitas untuk memahami akan ribut ketika lapar atau berkeliaran dalam hujan yang dingin.  
Inilah pilihan-pilihan (dilema) yang dihadapi para dokter di rumah sakit umum di New Orleans ketika sudah jelas bahwa tak ada penyelamatan yang datang dan mereka harus meninggalkan para pasien mereka yang menderita gangguan jiwa sendirian tanpa perawat.
Ini adalah masa-masa ketika individu harus membuat pilihan-pilihan, dari hatinya yang peduli, dan pilihan-pilihan ini tidaklah mudah."
The Deadly Choices at Memorial, 2009 (NYtimes) 
"Within days, the grisly tableau became the focus of an investigation into what happened when the floodwaters of Hurricane Katrina marooned Memorial Medical Center in Uptown New Orleans. The hurricane knocked out power and running water and sent the temperatures inside above 100 degrees. Still, investigators were surprised at the number of bodies in the makeshift morgue and were stunned when health care workers charged that a well-regarded doctor and two respected nurses had hastened the deaths of some patients by injecting them with lethal doses of drugs. Mortuary workers eventually carried 45 corpses from Memorial, more than from any comparable-size hospital in the drowned city."  
[Dalam artikel ini dikisahkan bahwa tim investigasi terkejut melihat begitu banyaknya jenazah di kamar mayat di RS Memorial Medical Centre, dan mendapati fakta bahwa seorang dokter dan dua orang perawat, yang ketiganya sangat dihormati di sana, telah menyuntik mati sebagian pasien karena regu penyelamat tak kunjung tiba, sementara para dokter dan perawat berada dalam situasi yang kurang lebih seperti yang digambarkan oleh ZetaTalk di atas.]
Mengenai keputusan dokter dan perawat-perawat tersebut yang menyuntik mati sebagian pasien dalam kasus para alien Zeta pernah menjelaskan tentang motivasi tindakan semacam itu sebagai berikut
" [Contoh Situasi Seorang Perawat] Ambil contohnya pada seorang perawat, yang disyaratkan oleh hukum dan peraturan di rumah sakit tempat ia bekerja untuk mempertahankan hidup para pasiennya tanpa memandang tingkat rasa sakit yang tak hentinya diderita para pasien atau apapun permohonan pasien karenanya terhadap si perawat. 
Resiko yang dihadapi si perawat adalah pekerjaannya, statusnya, kemampuannya untuk menghidupi keluarganya, dan sudah pastinya kebebasannya kalau ia dituntut oleh hukum, namun si perawat memilih untuk mendengarkan permohonan pasien untuk mengakhiri hidup. 
Pengobatan-pengobatan tertentu yang mempertahankan hidup pasien, derita tak berkesudahan yang membuat pasien menggeliat-geliat yang menandakan derap kematian, ia buang di toilet dari pada memaksakan untuk diminum si pasien. Lagi pula, siapa yang bakalan tahu? Sudah pastinya, si pasien, yang hampir-hampir tak dapat berbicara kecuali membisikkan permohonan untuk mati, tidak akan mengeluh.  
Jenis pengambilan resiko seperti ini, yang sama sekali tak ada manfaatnya bagi diri sendiri kecuali resiko yang besar bagi diri sendiri, merupakan pertanda kuat seorang individu yang Mengabdi-Kebaikan." ZetaTalk: Distinguishing Characteristics 
[Baca juga: Sifat-Sifat Menonjol Para Pengabdi-Kebaikan