Profil dan Motif Pembantai di Virginia Tech

[Baca juga: Tentang Penembakan Masal di Sekolah | Peningkatan Polarisasi Spiritual (Peningkatan Kekerasan)]

Pada 16 April 2007 tejadi pembunuhan sadis yang dilakukan oleh seorang mahasiswa Virginia Tech dari Korea bernama Cho Seung-Hui. Ia menembak mati 32 orang sebelum bunuh diri. Insiden ini tercatat sebagai penembakan paling berdarah dalam sejarah Amerika Serikat.
Pembantaian Virginia Tech: Pembantaian Virginia Tech adalah suatu pembantaian yang terjadi pada dua peristiwa penembakan terpisah yang dilakukan oleh seorang mahasiswa berumur 23 tahun, Cho Seung-Hui, pada tanggal 16 April 2007 di Institut Politeknik dan Universitas Negeri Virginia, Blacksburg, Virginia, Amerika Serikat. Pejabat pemerintah, pihak universitas, dan sebagian besar sumber berita telah memberikan konfirmasi jumlah korban tewas sebanyak 32 orang berikut sang pelaku penembakan, dan menjadikan peristiwa ini sebagai penembakan sipil paling berdarah dalam sejarah Amerika Serikat. Salah seorang dari korbannya berkebangsaan Indonesia, yaitu Partahi Mamora Halomoan Lumbantoruan (34 tahun) dari Medan, Sumatera Utara, mahasiswa doktoral di Fakultas Teknik Sipil. /wikipedia
Dalam insiden itu, setelah pertama-tama menembak mati seorang pria dan wanita, Cho berhasil lolos, tapi kemudian kembali dan memasuki sebuah kelas lalu melepas tembakan beruntun sehingga menewaskan 30 orang dan melukai 20 orang sebelum ia sendiri bunuh diri.
Kronologi Pembunuhan Besar-besaran di Kampus AS: Para mahasiswa di gedung teknik Norris Hall menelepon polisi dan melaporkan bahwa telah terjadi penembakan lagi. Seorang pria bersenjata mendekati ruangan kelas dengan membunuh 30 orang sebelum kemudian menembak dirinya sendiri. /detik.com
Apakah pembunuhan masal ini memilki motif-motif yang serupa dengan yang di sekolah Amish dan di Columbine? Berikut laporan dan penjelasan ZetaTalk. 

Terjemahan bebas dari Virginia Tech Massacre, The ZetaTalk Newsletter Issue 20, Sunday Apr 22, 2007

Apa yang menyebabkan seorang Cho yang pemurung dan penuh kebencian melakukan rencana sistematis untuk membunuh sebanyak mungkin rekan sekolahnya di Virginia Tech. Ada kesamaannya dengan penembakan-penembakan di sekolah Columbine dan sekolah Amish, yaitu alasan penyerangan yang tidak jelas. Cho menembak seorang gadis yang menolak pendekatan darinya, dan alasan itu cocok, namun mengapa ia kembali ke kampus untuk menghabisi nyawa yang lainnya, 2 jam kemudian?
Gunman's Writings Were Disturbing, April 17, 2007: The gunman in the Virginia Tech massacre was a sullen loner who alarmed professors and classmates with his twisted, violence-drenched creative writing and left a rambling note raging against religion and rich kids. A chilling picture emerged of Cho Seung-Hui - a 23-year-old senior majoring in English. He may have been taking medication for depression and he was becoming increasingly violent and erratic. Cho's writing was so disturbing that he had been referred to the university's counseling service. One was about a fight between a stepson and his stepfather, and involved throwing of hammers and attacks with a chainsaw. Another was about students fantasizing about stalking and killing a teacher who sexually molested them. Monday's rampage consisted of two attacks, more than two hours apart - first at a dormitory, where two people were killed, then inside a classroom building, where 31 people, including Cho, died. Cho died with the words "Ismail Ax" in red ink on one of his arms. http://www.huffingtonpost.com/ 
ABC News: Killer's Note: 'You Caused Me to Do This', Apr 17, 2007: Witnesses say he was stone-faced as he opened fire. Law-enforcement sources say he may have had a romantic interest in a young woman who was found dead after the first shootings. He wore sunglasses indoors, with a cap pulled low over his eyes. He whispered, took 20 seconds to answer questions. http://abcnews.go.com/US/story?id=3048108&page=1
Jawaban ZetaTalk 18 April 2007: Kami diminta untuk mengomentari setelah pembantaian Columbine, dan setelah pembantaian di sekolah Amish, dan memberi komentar yang sama untuk keduanya. 

Alasan penembakan ini lebih dari sekedar yang terlihat mata, namun alasan nafsu darah dingin bukanlah suatu operasi gelap yang diperintahkan manusia, melainkan sebuah audisi.
Si penembak, si biang kerok, sedang melakukan audisi untuk mendapat tempat dalam hirarki di kalangan alien Pengabdi-Ego (para gaib yang jahat), di alam-alam Pengabdi-Ego yang akan menjadi tempat inkarnasi mereka selanjutnya.  
Telah kami nyatakan bahwa Panggilan untuk mendapat bimbingan dari para alien Pengabdi-Ego dilakukan oleh manusia yang sedang sangat marah hampir terus-menerus. 
Jenis frustrasi kronis ini tidak terjadi akibat situasi-situasi hidup, sebagaimana dalam setting ini dimana amarah sebentar-sebentar terjadi. Melainkan karena para Pengabdi-Ego ingin kehidupan senantiasa berpusat pada mereka, melayani mereka, tak ada hambatan-hambatan untuk mendapat kepuasaan maupun hasrat mereka, tak ada tantangan pada otorita atau rasa ego mereka.
Tapi sedikit manusia saja yang hidup dalam setting semacam itu. Maka mereka yang Mengabdi-Ego, yang, entah bagaimana, tidak diberkahi dengan kehidupan yang senantiasa menyediakan apapun yang mereka tuntut--sebuah kehidupan yang sepenuhnya berfokus pada diri sendri tanpa rasa frustrasi--menjadi murka. Mereka gusar.
Cho Seung-Hui cocok sekali dengan profil ini. 
Ia semakin beralih ke pelajaran-pelajaran yang lebih mudah, dari jurusan bisnis ke Bahasa Inggris. Pilihannya terhadap kelas Teknik Sipil sebagai tempat pembantaian bukannya kebetulan, karena ini jurusan yang sangat disiplin, yang membuat orang memiliki status yang lebih tinggi di kampus ketimbang yang bisa didapat dengan jurusan Bahasa Inggris, yang akan semakin membuat orang mendapat respek dari para gadis. 
Dengan demikian, Cho Seung-Hui, entah bagaimana, ingin menjadi yang terbaik dalam grup ini kalau saja ia memiliki senjata sementara mereka tidak memiliki.  
Kemampuan interpersonalnya buruk namun ia menguntit partner-partner cantik, yang akhirnya berusaha mengintimidasi salah seorang dari mereka dengan senjata dan hilang kesabaran ketika si gadis tidak bersedia. Kalau saja ia memiliki fisik yang lebih kuat, ia pasti telah menjadi pemerkosa--sedemikianlah pola pikirnya.
Ia menikmati konsep kebrutalan, sebagaimana yang ditunjukkan dalam tulisan-tulisannya. Namun seperti kebanyakan bully, ia tidak mau masuk ke dalam situasi-situasi dimana arus akan berbalik menyerangnya. Ia menghindari kontak fisik, takut kalau-kalau tubuhnya yang kecil itu tak mampu bertahan.  
Ia dikenal mengenakan kacamata dan topi yang ditarik rendah untuk menghindari kontak mata, dan menolak untuk menjawab ketika orang-orang mengajaknya mengobrol. Hal ini, sekali lagi, menunjukkan sosok yang malu-malu dan takut kehilangan kendali dalam kontak interpersonal namun dengan seluruh ambisi kuat yang dapat dibawa sendiri oleh Pengabdi-Ego--kepribadian bully yang mendasar
Apakah ia telah diprogram seperti seorang Manchurian Candidate untuk "meledak" ketika ada tanda tertentu? 
Tanda-tanda seperti frasa yang ditulis di lengan atasnya, 'Ismail Ax', terkait dengan sebuah karakter dalam sastra, tangan Tuhan yang digunakan dalam pembantaian. Tak mampu mendapatkan status dan wanita-wanita cantik dalam hidupnya, ia berharap setidaknya mencapai status jenis ini saat mati.
Bagaimana dengan dirinya yang seperti terbiasa dengan senjata api? 
Dengan menonton acara TV sore yang mempertontonkan cara pakar menggunakan senjata api, berulang-ulang, kemampuan untuk menggunakan secara efektif senjata otomatis itu tidaklah mengherankan. Dan siapakah gurunya itu? TV!  
Cho Seung-Hui diberitakan berwajah dingin dan suram, tanpa emosi. Demikianlah munculnya kecurigaan bahwa ia telah diprogram untuk melaksanakan perbuatannya itu. 
Telah diberi bimbingan oleh para alien Pengabdi-Ego untuk memaklumatkan  bencana semacam itu, ia didorong ke tepian dengan menjadi habis kesabaran ketika mengonfrontasi wanita calon kekasihnya, yang, sekali lagi, menolaknya.
Pada titik ini ia tahu akan terancam dipenjara, karena ia tahu ia tidak dapat menutupi jejaknya, dengan penembakan pertama merupakan kecelakaan dari intimidasi yang telah diniatkan. Para bully bertubuh kecil tidak bernasib baik di penjara.
Maka pemikiran untuk keluar dalam nyala api kemenangan, dengan bergaya sebagai Ismail Ax, lalu melanjutkan hidup di tempat yang dianggapnya sebagai tempatnya kemudian di alam lain, lebih menarik hatinya (ketimbang dipenjara--pen.). Dengan demikian, ia tidak marah selama penembakan selanjutnya karena sudah bertekad untuk menunaikan misinya.
[Janji-Janji Surga Bagi Panggilan Yang Mengabdi-Ego]
Akankah ia mendapat pahala? 
Ketika melakukan Panggilan yang bersifat Mengabdi-Ego, manusia-manusia semacam itu menerima bimbingan dari para alien yang Mengabdi-Ego, yang, tentu saja, lebih suka mengurusi diri mereka sendiri sebanyak mungkin. Dengan demikian, nasehat yang diberikan kurang dalam manfaat bagi manusia yang melakukan Panggilan kepada para alien yang menjawab Panggilan itu. 
Namun nasehat mereka itu dibuat seolah-olah merupakan keuntungan bagi manusia. Didorong untuk menciptakan sebanyak mungkin rasa sakit hati dan rasa takut serta pengabaian dalam masyarakat manusia, manusia yang melakukan Panggilan diberi tahu bahwa mereka akan mendapat tempat yang lebih baik dalam masyarakat yang telah menjadi takdir inkarnasi mereka selanjutnya. 
Tiketnya, tentu saja, sesuatu yang mengerikan, semakin besar dan semakin mengerikan, maka semakin baik pula.
Pembantai Columbine adalah anak-anak yang membunuh anak-anak. Pembantaian di sekolah Amish melibatkan anak-anak perempuan kecil yang manis yang diperkosa di tengah-tengah komunitas mereka (komunitas Amish--pen.). Pembantaian di Virginia Tech memiliki pintu-pintu yang digerendel sehingga mencegah orang melarikan diri dan sebuah kepastian bahwa mereka yang ada di dalam tidak bersenjata untuk mempertahankan diri, sehingga si lone gunman lah yang berkuasa, secara absolut, sementara menulikan diri terhadap permohonan-permohonan memelas.
Apakah jiwa-jiwa ini yang menerima nasehat itu sesungguhnya mendapat tempat lebih baik dalam masyarakat masa depan mereka?  
Mereka tengah dibimbing oleh para pembohong, sebagaimana semua yang Mengadi-Ego bebas berbohong demi keuntungan mereka, maka, janji, tentu saja, tidak akan ditepati.
Dan orang yang mudah disetir seperti kerbau dicocok hidungnya untuk mempercayai bahwa janji semacam itu akan ditepati tidak akan dianggap pemimpin dalam masyarakat manapun.