Hawkins, Profil Sang Pembantai di Mall Nebraska

[Baca juga: Tentang Penembakan Masal di SekolahPeningkatan Polarisasi Spiritual (Peningkatan Kekerasan)]

Mengenai motif yang sangat mendasar di balik pembunuhan masal oleh para individu, yang terkait dengan para gaib jahat (Pengabdi-Ego), telah dijelaskan dalam Tentang Penembakan Masal di Sekolah. Kali ini yang dibahas adalah profil seorang pembantai dalam kasus penembakan masal serupa, dengan si pembunuh yang bunuh diri. Ia adalah Robert A. Hawkins, penembak dalam insiden pembantaian terburuk dalam sejarah Nebraska. Pemuda berusia 19 tahun ini melepas tembakan secara membabi-buta di Mall Westroads, Nebraska, AS, pada 5 Desember 2007, sehingga menewaskan 5 orang dan melukai 3 orang lainnya di mall itu.    
Worst Mass Slaying In Nebraska History Claims 9, December 5, 2007: The worst mass slaying in Nebraska history claimed the lives of five men and three women, plus the shooter. The gun used at Westroads Mall was an SKS-style assault rifle with two magazines taped together. Taping magazines together is a technique that allows the shooter to reload more quickly. He stole the weapon from his stepfather. The shooting appears to be random and without provocation. http://www.ketv.com/news/14782867/detail.html
Berikut penjelasan ZetaTalk tentang profil Hawkins, beserta antisipasi ke depan.

[Profil Sang Pembantai Masal]
Terjemahan bebas dari ZetaTalk: Nebraska Mall, written December 8, 2007

Jadi adakah yang unik dalam pembantaian di mall ini? Apakah Robert Hawkins muda ini cocok dengan profil pembantai? Dan, yang lebih penting lagi, berapa banyak lagi pembantaian mendadak ini dapat kita antisipasi seiring dengan berjalannya masa Transformasi bumi?
Penjelasan ZetaTalk 8 Des. 2007: Hawkins cocok dengan profil orang yang sangat Mengabdi-Ego. 
Apakah depresi yang membuatnya drop out dari Sekolah Menengah Atas sehingga gagal untuk bekerja sesuai ekspektasi di Mc Donalds? Ia sangat benci kalau harus melakukan semua itu, dan menolak. Penolakannya itu bisa jadi hanya diungkapkan sebagai resistansi pasif, bukan luapan amarah. Apapun itu, tetap saja itu merupakan ekspresi dari ekspektasi-ekspektasinya. Kehidupan harus memberi apa yang ia butuhkan, tanpa ia perlu bersusah-payah.    
Hawkins bukan orang yang mengalami keterbelakangan mental, bukan pula anak yang disia-siakan orang tuanya. Ia diberi bimbingan intervensi yang ekstensif oleh pemerintah Nebraska, yang sudah sering mengintervensi selama tahun-tahun remajanya. Ia bukannya tidak memiliki tempat tinggal, ketika kabur dari hukuman ringan oleh keluarganya dengan pindah ke rumah temannya. Ia juga bukan akan segera ditendang dari rumah barunya itu, yang senantiasa bersimpati kepadanya, dimana ia dianggap menghadapi masalah depresi ketimbang masalah prilaku. 
Apakah ia mengalami depresi? Dalam hal depresi adalah luapan amarah terpendam, ya. Namun ia memiliki waktu kapanpun untuk merubah hidupnya ketika tiba pada situasi-situasi hidup semacam itu. Ia bisa saja lulus sekolah menengah atas, lalu melanjutkan ke college lokal atau mengambil pelatihan kerja. Dalam semua upaya itu, ia pasti akan telah didukung. Ia juga bisa saja kembali ke keluarganya, cukup dengan mematuhi beberapa peraturan sederhana keluarga. Namun semua itu bukan kehidupan yang ia dambakan, karena ekspektasi-ekspektasi jiwa yang sangat Mengabdi-Ego adalah tidak mengerjakan apapun tapi diperkenankan melakukan apapun yang ia suka, dan menerima apapun yang ia dambakan, dengan segera. Bahwa hal-hal itu tidak muncul dalam hidupnya adalah sumber depresinya. 
[Alasan Jalan Hidup Yang Gelap Itu] Individu-individu semacam itu sudah ada sejak awal waktu, di Bumi. Hidup mereka sering kali dianggap kehidupan yang tidak berguna, mengelak dari tanggung jawab, orang yang melakukan sesedikit mungkin untuk menyelaraskan tubuh dan pikirannya, serta selalu mencari jalan mudah dan menipu orang untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan tak menyenangkan. Individu semacam itu sering kali menjadi pemadat narkoba atau pemabuk, menyalahkan kegagalan-kegagalan dalam hidup mereka dengan ketagihan dan mengemis.  
Jalan hidup yang ditempuh para individu itu sering kali dibentuk oleh ekspektasi-ekspektasi mereka sendiri terhadap orang-orang yang mereka manfaatkan. 
  • Kalau ada atribut fisik yang dapat mereka gunakan, seperti misalnya wajah yang kurang elok atau otak yang kurang cerdas ataupun kaki yang cacat, maka atribut-atribut itu akan digunakan tiada habisnya sebagai alasan atas kurangnya ambisi mereka di tempat kerja atau di sekolah.  
  • Dalam setting hidup yang makmur dimana ada begitu banyak pilihan untuk mendapat perlakuan, individu semacam itu dapat dengan cepatnya bergaya sebagai anak bermasalah atau orang dewasa yang mengalami depresi, untuk menutupi diri.  
  • Namun dalam setting hidup melarat, mereka kemungkinan sekali akan melibatkan diri dalam kejahatan-kejahatan kecil untuk menyokong gaya hidup bermalas-malasan mereka. 
[Tidak Semua Pemberontak Itu Sociopath] Ini bukannya untuk mengatakan bahwa setiap setiap individu yang tidak menyesuaikan diri dengan ekspektasi-ekspektasi masyarakat adalah sociopath, ataupun bahwa setiap pemadat adalah sociopath. 
Sudah pastinya depresi adalah kesusahan nyata yang juga mempengaruhi manusia yang berhati baik, juga mereka yang berupaya bersembunyi di balik tameng. Dan ada anak-anak yang dibesarkan dalam keluarga dan lingkungan baik-baik yang memiliki alasan-alasan yang sangat nyata untuk menjadi anak-anak bermasalah, yang mungkin karena adanya penganiayaan tersembunyi atau suatu dinamika yang tidak tampak di permukaan.  
Yang kami maksudkan di sini adalah bahwa mereka yang Mengabdi-Ego yang berupaya memanipulasi orang lain untuk melayani mereka akan menggunakan jalan-jalan itu untuk menyamarkan orientasi spiritual mereka ketika mereka merasa terjebak dan tidak memiliki jalan lain. Seperti yang telah konsisten kami sebut-sebut, selama periode Transformasi Bumi, individu-individu semacam itu tengah diberi bimbingan (melalui bawah sadar--pen.) oleh para gaib jahat (alien Pengabdi-Ego) untuk memilih rute lain, bukan yang sebelumnya telah disarankan. Dahulu, para individu ini dapat mengantisipasi untuk direinkarnasi lagi dan lagi di bumi, hingga tiba waktunya bagi mereka untuk dikirim ke salah satu planet "penjara". Karena adanya pengetahuan penuh (pada diri mereka--pen.) bahwa inkarnasi di Bumi ini akan menjadi inkarnasi terakhir mereka, tindakan-tindakan ekstrim semacam pembantaian itu dilakukan.  
[Peristiwa Pembantaian Akan Meningkat Di Minggu-Minggu Terakhir Menuju Pergeseran Kutub]  Akankah pembantaian di Mall Westroads di Nebraska menjadi yang terakhir? Boro-boro! Mereka yang Mengabdi-Ego yang menikmati inkarnasi mereka sekarang ini, yang telah berada di puncak permainan mereka dan mampu melakukan apapun yang mereka inginkan, merasa enggan untuk mengambil langkah-langkah drastis yang memerlukan diri mereka menembak diri sendiri atau dipenjara. Namun, ketika perubahan-perubahan bumi sudah sedemikian jelasnya menunjukkan bahwa pergeseran kutub sudah di muka bumi dan semua orang akan berjuang untuk dapat hidup pasca pergeseran kutub, opsi-opsi yang didorong oleh para alien Pengabdi-Ego akan semakin tampak menarik. 
Dengan demikian, selama Minggu Terakhir, pembantaian-pembantaian semacam itu kemungkinan akan meningkat peristiwanya, atau di minggu-minggu setelah Pergeseran Kutub ketika realita hidup yang sangat berbeda di masa Pasca Pergeseran Kutub tidak dapat disangkal.