Pasca Pergeseran Kutub: 43% Manusia Menjadi Gila

 
Setelah Jam Pergeseran Kutub, orang akan sangat terguncang akibat bencana alam dahsyat yang belum pernah mereka alami sebelumnya serta akibat kehilangan begitu banyak hal dalam hidup yang tak terperikan. Empat puluh tiga persen survivor akan mengalami kegilaan menurut para alien Zeta.

Apakah kegilaan ini juga akan menimpa sebagian orang yang beremosi stabil yang tinggal dalam lingkungan yang relatif aman yang memiliki perbekalan cukup? Ataukah hanya di kalangan orang yang tidak bersiap-siapa dan tidak terlindungi? [Sumber: ZetaTalk Chat Q&A for December 4, 2010]

Penjelasan ZetaTalk, ZetaTalk, December 4, 2010:

Apa yang dimaksud dengan gila temporer, atau menjadi gila?
Dalam keluarga yang memiliki kerabat yang menderita masalah kejiwaan, ada suatu rasa kondisi kronis. 
Kondisi Schizophrenia, pada anak atau orang dewasa, akan terlihat jelas - catatonia, mengikik terus-menerus, melakukan gerakan-gerakan tidak relevan yang resah, atau mengalami delusi (menganggap khayalan sebagai realita) yang murung bahwa ia [misalnya] akan dituntut hukum.
Bahkan penderita manic depressive (manic depression/Bipolar Disorder--pen.) memiliki profil yang sudah sangat dikenal - tenggelam dalam depresi mendalam dengan upaya-upaya bunuh diri yang serius yang memerlukan kekangan, atau konidisi maniak dimana terjadi aktitifas panik tanpa henti.
Apakah seperti ini yang akan berkembang dari pergeseran kutub di kalangan 43% survivor?
Penyakit jiwa standar, yang disebabkan hampir secara eksklusif oleh kecenderungan genetika, tidak akan terlibat di sini.
Demikian pula halnya dengan depresi, yang sekarang ini dirawat dengan obat anti-depressant, bukan benar-benar penyakit jiwa, kecuali melibatkan delusi.
Hal ini (delusi--pen.) sudah pastinya akan meningkat setelah pergeseran kutub, akibat kehilangan yang sangat besar yang akan diderita banyak orang.       
Kegilaan temporer yang akan ditanggung oleh 43% survivor akan lebih serupa dengan Post Traumatic Stress Disorder (PTSD) yang diderita oleh serdadu dalam kombat.
Di sini, pikiran terpecah/teralihkan selama distress (tekanan masalah/kecemasan) yang terlalu berat untuk ditanggung, dan distress itu terkotak-kotakkan dalam upayanya mengisolir ingatan-ingatan. 
Pengisoliran boleh jadi akan menjadi hasilnya, namun contoh apapun di masa terkini yang mengingatkan si penderita terhadap trauma masa lalunya akan menghasilkan pikiran yang tiba-tiba melayang kembali ke adegan itu. 
Penderita PTSD bisa jadi akan mendapati dirinya seperti kembali ke sebuah situasi kombat. Cerita-cerita (misalnya) para serdadu yang kembali yang bersembunyi dalam kandang lalu menembak sapi-sapi merupakan contoh-contoh kondisi delusi yang dapat dihasilkan. 
Komunitas-komunitas survival akan mendapati banyak dari jumlah orang di kalangan mereka yang menjadi mudah tersinggung---tiba-tiba mencaci orang tanpa alasan, atau mengalami ketakutan yang sulit disembuhkan.
Sekadar delusi mungkin juga dapat terjadi, dimana (misalnya) orang-orang yang sudah lama mati dinanti-nanti saat makan malam, atau bayi yang sudah mati dibawa-bawa dan dirawat. 
Namun pikiran akan sembuh sendiri seiring dengan waktu, dengan perasaan sakit (di hati) yang sirna dari ingatan serta digantikan oleh ingatan-ingatan yang lebih terkini dan menyenangkan.