Apa Guna Bertahan Hidup Dalam Kiamat?

Transformasi Bumi 

Banyak orang bertanya-tanya mengapa pula harus repot bertahan hidup di saat tibanya Pergeseran kutub (atau yang juga disebut Kiamat) maupun setelahnya, toh kemungkinannya juga kebanyakan manusia akan tewas sebagaimana prediksi. 

Para alien Zeta Pengabdi-Kebaikan (ZetaTalk) menjelaskan bahwa ada perbedaan menonjol dalam reaksi-reaksi orang saat mengantisipasi Pasca Pergeseran Kutub, yang mana tergantung orientasi spiritualnya.
Pengabdi-Kebaikan, Pengabdi-Ego, Peragu (belum dapat memutuskan akan Mengabdi-Ego atau Mengabdi-Kebaikan). Orang-orang yang sangat memikirkan "Apa gunanya lagi hidup?" adalah golongan Peragu. 
Manusia telah diciptakan untuk memiliki hak (bebas memilih) mau apa dengan hidup mereka. Karena, bumi ini, sebagaimana telah ditetapkan oleh Tuhan Mahapencipta, adalah sekolah bagi para manusia, yaitu sarana bagi manusia untuk memilih tumbuh, stagnan atau turun dalam kualitas jiwa/ruh. Dan Transformasi bumi sekarang ini adalah salah satu fase peningkatan pelajaran bagi manusia. Berikut penjelasan ZetaTalk.

 [Terjemahan bebas dari ZetaTalk: Pole Shift, written Apr 15, 2002]

[Reaksi Umum]  
"Reaksi umum di kalangan orang ketika pertama-tama merenungkan soal Pergeseran Kutub adalah berpikir bahwa pilihan yang lebih baik adalah diseret saja oleh gelombang laut pasang, terkubur di bawah puing-puing gempa, atau terhempas ke tembok oleh angin kencang dan langsung tewas saja.

Kebanyakan orang yang selamat dari bencana-bencana yang bertubi-tubi itu akan duduk terhenyak hingga ajal menjemput. 
Bayangkanlah bencana World Trade Center, tapi tanpa penyelamatan. Tak ada bantuan makanan, tak ada bantuan finansial, tak ada perhatian media massa. Pada dasarnya ini merupakan depresi, ketika semakin sedikit saja yang bisa dilakukan seiring berlalunya waktu. Sakitpun bertandang, dan mereka yang masih terhenyak dan tak mampu melihat jalan keluar setidaknya diberi "jalan keluar" dengan tenang. 
Kami, pada utamanya, menyajikan skenario perjuangan-untuk-bertahan-hidup, dengan travel dan teror, serta menjalani hidup dalam dualisme yang tak pasti akibat cover-up pemerintah. 
Masa itu (boleh jadi) dilewatkan (orang) sebagai masalah jangka pendek, namun masalah yang lebih besar lagi akan mengintai bak awan gelap. 
[Kondisi Keras Pasca Pergeseran Kutub]   
Kehidupan Pasca Pergeseran Kutub penuh dengan hutan-hutan sekarat, kekurangan ternak ataupun hewan liar yang bisa dimakan, dan kebun-kebun yang tak mau subur. 
Tambahkan lagi pada situasi itu dengan dunia Mad Max, dimana set hukum dan badan yang mengaturnya tak ada sama sekali atau beralih ke diri sendiri, dan ada geng-geng yang membuat rusuh sehingga orang senantiasa harus dalam mode low-profile agar dapat bertahan hidup.  
Lalu ada kurun waktu 25 tahun atmosfer suram akibat abu vulkanik, dengan perubahan iklim yang membuat tetumbuhan perlu menyesuaikan diri dan berusaha tumbuh kembali. Sepertinya masih lama lagi orang harus menanti sebelum dapat duduk-duduk lagi menikmati senja di teras.
Mereka yang merasa putus asa tentang kondisi anak-anak bahwa apakah akan ada pendidikan, bisa tumbuh dewasa tanpa masalah kesehatan yang menerpa, gigi membusuk, penyakit yang menyakitkan, malahan temui diri mereka melahirkan anak-anak di dunia yang merupakan mimpi buruk. 
Mereka yang memiliki kesehatan buruk memandang ke depan sebagai beban bagi orang lain, yang mana rasa takut ini akan terjadi dalam tahapan pelan sehingga mereka tak akan menyadarinya, mungkin pikun atau koma akibat kelaparan, dan tak mungkin mengendalikan hidup mereka sama sekali. 
Maka, ada kekhawatiran yang luar biasa besarnya pada orang-orang yang memandang pesan ini secara semi-serius, dan pikiran yang pertama mampir adalah bahwa mimpi buruk ini dapat dihindari.

Jadi, dengan sudut pandang seperti itu, apa gunanya lagi untuk hidup?

[Reaksi Golongan Pengabdi-Kebaikan] 
Mereka yang sangat Mengabdi-Kebaikan tak ada masalah dengan skenario (pergeseran kutub) ini, karena mereka cepat sekali menangkap tentang akan seperti apa hidup orang lain nantinya, sehingga mengambil keputusan sesuai itu. Ini tak ada bedanya dengan apa yang mereka alami sehari-hari sekarang ini. 
(Contohnya) Mereka mungkin diberi tahu telah mengidap kanker, namun memikirkan orang-orang yang bergantung kepada mereka, sehingga merencanakan hidup mereka sesuai itu. 
Mereka mungkin diberi tahu bahwa seseorang dalam keluarga atau seorang tetangga akan tertimpa musibah besar selama masa-masa sulit, lalu menyesuaikan diri dengan menurunkan gaya hidup mereka untuk menampung orang-orang itu dan berbagi apa yang mereka miliki. 
Mereka mungkin diberi tahu bahwa seseorang dekat mereka telah gagal dalam berbagai tanggung jawabnya, lalu mereka maju tanpa ragu-ragu untuk mengisi kekosongan (tanggung jawab) itu dengan, misalnya, menjadi ayah bagi anak-anak yatim piatu atau apapun. 
Dengan demikian, mereka yang sangat kokoh dalam orientasi Mengabdi-Kebaikan kemungkinan sekali tidak akan mengeluarkan kata-kata seperti, "mengapa harus hidup?" karena mereka tahu mengapa masa-masa sulit, pada khususnya, memerlukan orang lain yang membantu orang lain. 

[Reaksi Golongan Pengabdi-Ego]
Mereka yang sangat Mengabdi-Ego menyelesaikan masalah ini dengan cara serupa, namun ke arah yang berbeda. 
Sebagaimana dengan keputusan-keputusan sehari-hari mereka, mereka melihat situasinya dalam istilah bagaimana caranya mengambil keuntungan demi kesenangan atau posisi kekuasaan mereka. 
Oleh karena akan selalu ada korban setiap saat, mereka beranggapan akan ada begitu banyak potensi korban, penjarahan, dan penyerangan dalam situasi  paska pergeseran kutub. 
Maka, mereka yang sangat Mengabdi-Ego juga kemungkinan sekali tak akan mengatakan "mengapa harus hidup?" karena mereka tengah menggosok-gosokkan kedua tangan. 
  
[Reaksi Golongan Peragu]
Para Peragu lah yang kemungkinan sekali akan mengeluarkan pernyataan,  "mengapa harus hidup," karena mereka tidakterpolarisasi ke kedua arah (orientasi spiritual) itu, namun lebih memikirkan hidup mereka sendiri, dan bagaimana berinteraksi sehari-hari dengan orang lain, atau apa yang telah mereka antisipasi seperti biasanya sehari-hari. 
Fokus mereka adalah diri sendiri, namun layaknya anak kecil yang berfokus pada diri sendiri. Bagaimana ini akan berdampak pada saya, apa yang akan saya lakukan ketika disajikanini atau itu tanpa sumber-sumber daya yang bisa saya harapkan akan tersedia bagi saya. 
Si ruh yang belum dewasa ini mendorong skenario pergeseran kutub jauh hingga ke tepian kepompong mereka --batasan sudut pandang mereka terhadap hidup--namun akan melihat si kepompong tak ada di sana. 
Pekerjaan-pekerjaan akan hilang, teman-teman dan keluarga mungkin akan mati atau berkeliaran entah kemana, rak-rak toko akan kosong, kantor-kantor pemerintah sudah pastinya akan kosong. Lalu kemana mereka bisa mengeluh? 
Maka, para ruh yang belum dewasalah--para Peragu--yang akan memberi masalah-masalah motivasi kepada para pemimpin Pasca Pergeseran Kutub."