Sakit Meningkat

Peningkatan penyakit telah diprediksi oleh ZetaTalk pada 15 Jan. 1998, yang mana peningkatan ini seiring dengan mendekatnya Planet ke-12. Laporan Harian Washington pada 2 Feb. 2000 mengonfirmasi hal ini. 
Diseases From Around World Threatening U.S. 
Reuters
, Feb 2, 2000
A U.S. intelligence report is warning Americans that they are under growing threat from infectious diseases brewing in the rest of the world. "Senior policymakers are becoming increasingly concerned about the implications of growing infectious disease threats for U.S. citizens at home and abroad, for U.S. armed forces deployed overseas," John Gannon, chairman of the National Intelligence Council, said on Tuesday. He released a new National Intelligence Estimate report, "The Global Infectious Disease Threat and Its Implications for the United States," at a symposium at the Smithsonian Institution. Asia was likely to see a major increase in infectious disease deaths driven by the spread of HIV and AIDS, replacing Africa as the epicenter of the disease before 2015, he said.


30 New Diseases Make Global Debut 
At least 30 previously unknown diseases have appeared globally since 1973, including HIV, AIDS, Hepatitis C, Ebola haemorrhagic fever and the encephalitis-related Nipah virus that emerged in Indonesia last year, Gannon said. "Many are still incurable," he added. Twenty well-known infectious diseases such as tuberculosis, malaria, and cholera have re-emerged or spread since 1973, some reappearing in "deadlier, drug-resistant forms," Gannon said. Americans were at risk because the United States was a major hub of global travel, immigration and commerce and had a large civilian and military presence overseas, the report said. Infectious diseases killed at least 170,000 Americans a year and were "likely to continue to account for more military hospital admissions than battlefield injuries," the report said. At highest risk will be U.S. military forces deployed in humanitarian or peacekeeping operations in developing countries, the report said.

I

Scientific American juga melaporkan tentang kekhawatiran atas bertambahnya penyakit akibat pemanasan global.
Is Global Warming Harmful to Health?
By Paul R. Epstein, Scientific American, August 2000

Today few scientists doubt the atmosphere is warming. Most also agree that the rate of heating is accelerating and that the consequences of this temperature change could become increasingly disruptive. Even high school students can reel off some projected outcomes: the oceans will warm, and glaciers will melt, causing sea levels to rise and salt water to inundate settlements along many low-lying coasts. Meanwhile the regions suitable for farming will shift. Weather patterns should also become more erratic and storms more severe. Yet less familiar effects could be equally detrimental. Notably, computer models predict that global warming, and other climate alterations it induces, will expand the incidence and distribution of many serious medical disorders. Disturbingly, these forecasts seem to be coming true. Heating of the atmosphere can influence health through several routes. Most directly, it can generate more, stronger and hotter heat waves, which will become especially treacherous if the evenings fail to bring cooling relief. Unfortunately, a lack of nighttime cooling seems to be in the cards; the atmosphere is heating unevenly and is showing the biggest rises at night, in winter and at latitudes higher than about 50 degrees. In some places, the number of deaths related to heat waves is projected to double by 2020. Prolonged heat can, moreover, enhance production of smog and the dispersal of allergens. Both effects have been linked to respiratory symptoms. 

Global warming can also threaten human well-being profoundly, if somewhat less directly, by revising weather patterns particularly by pumping up the frequency and intensity of floods and droughts and by causing rapid swings in the weather. As the atmosphere has warmed over the past century, droughts in arid areas have persisted longer, and massive bursts of precipitation have become more common. Aside from causing death by drowning or starvation, these disasters promote by various means the emergence, resurgence and spread of infectious disease. That prospect is deeply troubling, because infectious illness is a genie that can be very hard to put back into its bottle. It may kill fewer people in one fell swoop than a raging flood or an extended drought, but once it takes root in a community, it often defies eradication and can invade other areas. The control issue looms largest in the developing world, where resources for prevention and treatment can be scarce. But the technologically advanced nations, too, can fall victim to surprise attacks as happened last year when the West Nile virus broke out for the first time in North America, killing seven New Yorkers. In these days of international commerce and travel, an infectious disorder that appears in one part of the world can quickly become a problem continents away if the disease-causing agent, or pathogen, finds itself in a hospitable environment. Floods and droughts associated with global climate change could undermine health in other ways as well. They could damage crops and make them vulnerable to infection and infestations by pests and choking weeds, thereby reducing food supplies and potentially contributing to malnutrition. And they could permanently or semipermanently displace entire populations in developing countries, leading to overcrowding and the diseases connected with it, such as tuberculosis. 

Berikut penjelasan para alien Zeta tentang trend penyakit akibat Planet X.

Mengapa Penyakit Meningkat? 
Terjemahan bebas dari ZetaTalk: Take Sick, written Feb 15, 1998

"Dengan mendekatnya pergeseran kutub, orang-orang akan semakin sering jatuh sakit. Sakitnya dalam bentuk penyakit yang telah dikenal yang semakin sering diidap, yaitu sistem kekebalan tubuh yang sepertinya tertekan, atau penyakit-penyakit baru yang membuat bingung manusia karena belum pernah ada dalam ingatan manusia selama ini. Apa yang tengah terjadi di sini?

Burung-burung yang terbang, dengan mengandalkan panduan magnetisme bumi, kebingungan sehingga tiba di tempat yang salah. Semua ini ada pengaruhnya pada sistem kekebalan tubuh sebagaimana semua yang lainnya. 

Penyebabnya Adalah Perubahan Pada Inti Bumi
Perubahan-perubahan pada inti bumi yang mengakibatkan pola-pola cuaca El Nino serta kerbau putih dan katak-katak cacat juga mempengaruhi manusia. Tak hanya tubuh yang dituntut beradaptasi dengan lingkungan yang berubah, dimana elemen-elemen radiasi yang tak dikenal manusia bertambah, tapi juga berbagai agen infeksi yang dipengaruhi sehingga berprilaku berbeda. Dengan demikian, pola-pola pemaparan berubah, dengan  terjadinya infeksi-infeksi di lingkungan-lingkungan yang seharusnya dianggap sehat. Kuman-kuman pun berpindah tempat. Pembawa-pembawa(carrier)nya turut bergerak. Maka manusia terpapar pada penyakit-penyakit yang sedemikian langkanya untuk didokumentasikan dalam jurnal-jurnal kedokteran.

Ingin Mati Atau Terus Hidup Berdampak Besar Pada Kekebalan Tubuh
Sering kali, hampir ada ada keputusan dari pihak manusia maupun hewan untuk tak berjuang mempertahankan diri. Mereka bisa merasakan akan adanya masa-masa yang sulit ke depannya. Mungkin saja mereka tak akan bisa bertahan walaupun dengan perjuangan keras, maka mereka membiarkan diri mereka mati. Mereka membiarkan diri mereka jatuh sakit. Hal ini terjadi di waktu-waktu terbaik yaitu ketika ada banyak situasi dimana para dokter menghadapi penyakit-penyakit yang seharusnya tak merusak tubuh namun si pasien sekarat. Lalu ada situasi-situasi lain dimana keinginan untuk terus hidup membuat si pasien mampu keluar dari kondisi terburuk sehingga mengejutkan dan mengguncangkan para dokter. Jadi, keinginan besar untuk terus hidup atau mati saja memiliki efek yang sangat besar.

Orang Yang Lemah dan Putus Asa Paling Rentan
Dengan mendekatnya pergeseran kutub, penyakit semacam itu akan terus meningkat, yang utamanya berdampak pada orang-orang yang lemah serta putus asa, sebagaimana menghadapi penyakit-penyakit lain. Ketika kekebalan tubuh tertekan, sebagaimana yang terjadi pada orang-orang dengan gizi yang buruk atau tubuhnya dalam kondisi lemah akibat serangkaian penyakit, dan pada orang-orang yang putus asa, penyakit dapat menjangkiti secara agresif, membabat cepat.

90% Penyakit Adalah Dampak Normal
Anda akan menyaksikan peningkatan penyakit, penyakit-penyakit aneh, mikroba-mikroba yang menyebar akibat penyebaran serangga yang juga menyebarkan kuman-kuman di tempat-tempat yang tak biasanya disinggahi. Ini bukan berarti penyakit telah sengaja disebarkan. Ada penyakit-penyakit - sekitar lebih dari 90%-nya - yang akan Anda saksikan adalah dari situasi normal, peristiwa normal (bukan akibat senjata biologis - pen.). Akibat perubahan pada bumi, pusaran pada inti bumi akan mencapai puncaknya hingga pergeseran kutub. Kelaparan dan kekurangan bahan pangan serta pemaparan pada cuaca kacau akan melipatgandakan trend penyakit ini, dengan kepunahan terjadi di awal setelah pergeseran kutub di beberapa tempat di dunia. 

Sakit Menjelang dan Pasca Pergeseran Kutub 
Kerusakan pasca pergeseran kutub, tentu saja, akan sangat parah. Mayoritas kematian pasca pergeseran kutub bukanlah karena dampak langsung (bencana alam) tapi karena sakit, penyebaran kuman-kuman, serta depresi yang melelahkan yang melingkupi umat manusia. Telah kami jelaskan pada 1995 bahwa baik manusia maupun hewan akan semakin sering sakit, selama tahun-tahun dan bulan-bulan menuju pergeseran kutub. Kuman-kuman bermigrasi ke lingkungan-lingkungan baru, akibat perubahan-perubahan iklim. Maka manusia dan hewan mengalami stress akibat perubahan-perubahan bumi serta perubahan-perubahan iklim. Ada kuman-kuman yang tak dikenal manusia yang akan menjadi semakin agresif, yang dianggap dari jenis baru yang belum diketahui sebelumnya. Demikian pula halnya dengan hewan-hewan yang kebingungan. Mereka bermigrasi ke tempat-tempat yang salah, melemah sehingga meningkatkan kerentanan mereka terhadap kuman-kuman dan penyakit-penyakit akibat stress.

Stress Di Bawah Sadar Memicu Kecerobohan, Tapi Juga Interaksi Sosial. Kebiasan Tak Higienis Semakin Merapuhkan Pertahanan Tubuh Manusia.
Semua ini, yang ada dalam prediksi-prediksi kami, telah terjadi. Namun dengan setiap munculnya wabah penyakit baru, kami ditanyai tentang penyebabnya. (Contohnya) Para penumpang kapal pesiar terkena flu perut atau keracunan makanan akibat penanganan (yang ceroboh - pen.) oleh para kru kapal yang cemas. Hal ini tak lepas dari prediksi-prediksi kami bahwa manusia akan semakin cenderung melakukan kesalahan-kesalahan dalam keseharian mereka akibat kekhawatiran di bawah sadar mereka, serta akibat kegagalan pemerintah dalam menjelaskan perubahan-perubahan bumi yang orang-orang saksikan tengah terjadi.

Demikian pula, para individu di kapal akan lebih sering bercakap-cakap dengan penumpang lainnya, atau mungkin mengalami interaksi intim, yang mana sebelumnya mungkin tak dilakukan, dan ini karena rasa cemas. Rasa membentengi diri pun dilepas, dan tak perlu lebih dari rasa itu bagi grup-grup untuk bisa terinfeksi penyakit. Tangan seorang anggota keluarga yang tak dicuci ketika dari kamar mandi akan membawa kuman-kuman ke kamar sehingga menginfeksi seluruh penghuni ruangan, dan lainnya.

Ini semuanya terjadi tak lebih dari yang telah diprediksi, dan akan meningkat, akibat kecemasan-kecemasan pada manusia, perubahan-perubahan iklim, serta anjloknya sistem kekebalan tubuh."

Sumber: Troubled Times: Illness