Pemerintahan Makin Tak Relevan

Persiapan Pergeseran Kutub

Pemerintah AS mengganggap dirinya sebagai pemimpin dunia - demokrasi unggul, sebuah kekuasaan dunia yang tak tertandingi baik dalam hal kedigdayaan ekonomi maupun militer. Jika Konstitusinya ditinggalkan, digantikan oleh kediktatoran mendasar oleh kaum kaya dan berkuasa, lalu bagaimana jadinya kepemimpinan itu tererosi, dan apa akibatnya? 

Setiap pemerintahan, di seluruh dunia, akan menghadapi perubahan mendatang sebagai negara, baik secara individu maupun dalam hubungannya dengan negara-negara lain. Negara-negara dunia ketiga akan mengalami penyesuaian-penyesuaian yang paling sedikit dalam hal ini, karena telah dimanfaatkan dalam hal sumber-sumber daya mereka ataupun posisi strategis global mereka. Mereka akan paham bahwa mereka harus berjuang sendirian, dan tak akan terkejut ketika sumbangan dan dukungan yang dijanjikan diputus, oleh karena memang akan begitu. Negara-negara yang telah menjadi kekuatan nuklir akan diperlakukan dengan peringatan-peringatan keras, namun hampir-hampir tak akan memberi perhatian karena mereka sendiri akan lebih berfokus ke dalam, ke rakyat mereka yang resah dan kelaparan.

Negara-negara industri, yang telah saling mengandalkan dalam perdagangan dan berpartner selama konflik-konflik, akan layu ke dalam kekecewaan membisu karena janji demi janji di kalangan negara-negara sekutu tak dipenuhi. Akhinya, setiap negara akan berfokus ke rakyatnya sendiri. Perekonomian dunia akan menjadi perekonomian nasional, lalu menjadi perekonomian lokal, yang akhirnya menjadi perekonomian keluarga, ketika masa-masa semakin sulit.

Maka, Pemerintah AS yang berpartisipasi dalam melindungi para elit dalam gua-gua perlindungan mereka, akan diabaikan oleh warga negara dunia, dan akhirnya oleh warga negaranya sendiri. Bagaikan musim dingin dan musim panas, musim-musim yang tak dapat diubah namun harus dialami atau dijalani, warga negara akan menganggap pemerintah yang tak peduli sebagai tak relevan. Pajak-pajak yang dikumpulkan dengan paksa akan dibayar, namun antusiasme terhadap program-program yang jelas-jelas bukan untuk kepentingan rakyat akan diabaikan.

Para warga negara akan membuat rencana-rencana sendiri yang tak melibatkan pemerintah, hingga pada akhirnya kaum elit akan berlindung ke gua-gua perlindungan mereka. Sementara rakyat telah membuat rencana-rencana sendiri di tempat-tempat lain, dan mereka akan berfungsi bagaikan masyarakat-masyrakat pulau di lautan, terpisah dan pada dasarnya tak saling menyadari keberadaan satu sama lain.

Inikah yang diinginkan para elit? Mereka menginginkan warga negara yang setia, yang mencari-cari mereka sebagai pemimpin serta mengikuti program-program yang telah dibeberkan layaknya domba-domba mengikuti penggembala. Tanpa rakyat yang setia, para elit akan ditinggal sendirian bersama sumber-sumber daya mereka, yang akan berkurang lalu habis. Hal ini membuat mereka cemas, namun ketika teknologi komunikasi rusak terputus, satu-satunya warga negara yang bisa mereka andalkan adalah jiwa-jiwa putus asa yang tinggal dekat mereka, yang akan menjadi pelayan atau budak atau yang lebih buruk lagi dari itu, selama keruntuhan parah standar-standar sosial yang menyusul kemudian.

Para elit, hingga titik terakhir, akan berupaya menarik hati para rakyat untuk bekerja bagi mereka, berada di dekat mereka, saling tergantung dengan suatu atau lain cara. Rakyat, yang telah kecewa, akan menolak lalu pergi menjauh. Para pemimpin yang tak layak mendapat kursi kepemimpinan yang mereka jabat, yang telah mendapatkannya melalui kecurangan, pemaksaan dan tipuan-tipuan,  akan dianggap tak relevan.

Terjemahan bebas dari ZetaTalk: Increasing Irrelevance, Note: written on Dec 15, 2000