Kepemimpinan Selama dan Pasca Bencana Dahsyat

Persiapan Pergeseran Kutub

Terjemahan bebas ZetaTalk: Leadership, Earned, written Sep 23, 2005

Telah kami tekankan bahwa selama dan setelah pergeseran kutub, kepemimpinan akanlah harus diperjuangkan, karena krisis yang yang sesungguhnyalah yang akan menguji kualifikasi orang-orang yang sombong.

Selama proses ini, segalanya tidak akan berjalan lancar, sebagaimana yang dapat dibayangkan, oleh karena para pemimpin yang sombong itu sangat benci kalau harus melepas kepemimpinan mereka.

Bagi mereka yang berpikiran bahwa istilah kepemimpinan dengan menunjuk diri sendiri itu tak layak ketika diterapkan kepada para pejabat terpilih atau mereka yang ditunjuk atau dipromosikan oleh orang-orang, kami sarankan untuk mengkaji kembali fakta-faktanya.

Bagaimana orang bisa menjadi pejabat terpilih? Apakah mereka menjerit-jerit diseret-seret dan ditendangi ke podium?
Justru mereka itu terlihat berlarian ke sana kemari meneriakkan keras-keras nilai mereka! Jauh sebelum proses pemilihan, bahkan sebelum rakyat mendengar nama mereka, mereka mengindikasikan kepada orang lain bahwa mereka bisa menjadi kandidat, akan menjadi kandidat hebat, dan apa yang dapat mereka lakukan jika terpilih.
Tergantung audiensnya, berbeda pula para penerima keuntungan dari kesuksesan sebuah pemilihan pejabat pemerintahan. Rakyat diberi tahu bahwa mereka akan mendapat keuntungan, keadilan akan diberlakukan, yang salah akan dikoreksi, masalah-masalah yang terus membandel akan diselesaikan, karena si kandidat berjiwa besar, memiliki kualitas-kualitas yang diperlukan untuk memimpin, dan tak bisa lagi berdiam diri saja di depan semua stress yang dialami rakyat.
Tentu saja sesekali ada politisi yang cocok dengan kriteria itu, dan rekam jejam mereka sebelum dan setelah pengumuman keikutsertaan mereka sebagai kandidat membuatnya jelas.
Namun mayoritas luasnya terfokus pada diri sendiri serta membuat jelas kepada orang-orang yang membantu mereka mendaki jenjang kepemimpinan bahwa mereka akan membalas budi.
Telaah saja sejarah George W. Bush, sebagai contohnya.
Ia menampilkan diri dengan berupaya menyatakan kata-kata yang benar namun memenuhi kantong-kantong teman-temannya di industri minyak dengan uang. Apakah semasa mudanya ia pernah menolong anak-anak kucing dan membantu nenek-nenek kecil menyeberangi jalan? Ia malahan memasang katak-katak pada petasan.
Maka, ketika tiba masanya kpemimpinan harus diperjuangkan, para politisi, hampir semuanya, tak berkualifikasi.

Bagaiamana orang bisa mendapatkan kenaikan jabatan atau dipilih? 
Hingga tahap tertentu, proses yang sama berlaku, namun para individu yang memburu kekuasaan dan membuat diri mereka terkenal melakukan taktik yang berbeda.
Mungkin mereka kurang percaya diri sebagai pembicara di depan umum atau tak dapat berbohong habis-habisan, maka gagallah mereka sebagai politisi. Namun karena kekurangan itu, mereka dapat menjalankan sebuah agenda. 
Dan mereka telah memperjelas sejak awalnya bahwa tak ada satupun yang dapat menghalangi mereka dalam melaksanakan agenda orang-orang yang dapat mempromosikan atau menunjuk mereka. 
Mereka yang ada di tempat kerja merasa tercengang, karena melihat para individu tak berkompeten di sekeliling mereka mendapat kenaikan pangkat di awal karir-karir mereka. Sementara, orang-orang yang berkompeten hanya diangkat sebagai asisten, di bidang yang tak bermasa depan yang kebetulan saja mendukung si tak berkompeten yang baru dinaikkan jabatannya.
Si tak berkompeten itu telah menghabiskan waktunya untuk bergaul di tempat-tempat dimana ia dapat bertemu orang-orang berkuasa yang mengiyakan saja apapun yang ia katakan. Ia menyesuaikan filosofi pribadinya dengan filosofi orang-orang berkuasa itu. 
Selama musim 'kencan' ini, si tak berkompeten terang-terangan memlintir segala serat moral yang mungkin telah ia miliki untuk memperjelas bahwa ia orang yang benar-benar tak bermoral serta bersedia menjual jiwanya untuk bersekutu dengan orang-orang berkuasa. Apakah kita perlu mencuri dana pensiun untuk menambah gaji para atasan? Dan si tak berkompeten itupun sangat cepat menyambutnya. Jadilah mereka mendapat kenaikan pangkat.
Maka, ketika tiba masanya kepemimpinan harus diperjuangkan, manajemen perusaahaan atau para pejabat tinggi pemerintahan, hampir semuanya, tak akan berkualifikasi.

Para pemimpin alami, dari orang-orang yang berhati baik, mengambil rute yang berbeda.
Mereka tak muncul menyambar maupun mengejar fasilitas di posisi-posisi tinggi, karena mereka terlalu sibuk mengurusi masalah-masalah nyata di sekeliling mereka.
Sementara, para pemimpin resmi membuat diri mereka dimanjakan dengan kenikmatan-kenikmatan di posisi-posisi tinggi: upacara, makan malam, interview yang sudah diatur sedemikian rupa sehingga masyarakat dapat mengenali mereka sebagaimana yang mereka ingin diyakini oleh masyarakat, bahwa pemimpin sejati tengah bekerja.
Ambil contohnya dari dua orang ini, yang sama-sama bekerja di sebuah perusahaan konstruksi.
Pemimpin alami yang baik hati mengawasi pekerjaan yang dilakukan para krunya, dan jika ada yang kesulitan, ia membantunya. Maka ia terlalu sibuk untuk berkeliaran di kantor untuk membuat wajahnya dikenali orang-orang yang mungkin dapat menaikkan jabatannya. 
Mungkin si pemilik perusahaan mendengar dari sana-sini dan memahami si orang yang baik hati begitu pekerjaan itu selesai, dan memberinya kenaikan jabatan yang sama dengan orang yang ambisius yang menghabiskan waktunya untuk mempromosikan dirinya sendiri. 
Namun kemungkinan sekali yang ambisiuslah yang mengatur agar si orang yang baik hati ini ditunjuk untuk bekerja di bawahnya.
Lalu datanglah bencana di area itu, dan si pemimpin baik hati sibuk memberi bantuan lebih dari yang dilakukan para krunya. Dan si ambisius, yang bahkan belum menyelesaikan tugasnya, apalagi sukarela membantu orang lain, terus bergaul di kantornya, menyarankan bagaimana ia mungkin bisa diberi tanggung jawab atas kontrak besar apapun yang mungkin akan didapat perusahaan itu. 
Maka si pemimpin baik hati tak akan dikenal di luar kalangan pekerja serta teman dan orang tak dikenal yang ia bantu. Ia terlalu sibuk sehingga tak ada waktu untuk membuat tenar namanya ataupun mengejar fasilitas.
Memasuki kekacauan yang akan mendahului pergeseran kutub, yang terus menyelimuti bumi sekarang ini. Sebagai tambahan pada peralihan normal ke kepemimpinan alami yang akan terjadi selama bencana-bencana yang tak akan surut yang akan menelanjangi bulat-bulat para orang sombong yang telah mengklaim diri sendiri, ada proses dekapitasi (pencacatan/pelumpuhan) yang telah kami definisikan untuk pemerintahan Bush, misalnya.
Proses dekapitasi hanya akan memperjelas bahwa pemerintahan Bush itu tak kompeten, pembohong, serta terlibat dalam skandal-skandal sampai titik dimana para pemimpin itu tak efektif bahkan di masa-masa tenang ketika kepemimpinan semacam itu tidak ditantang untuk membuktikan dirinya.
Maka, proses normal pembuangan para pemimpin yang menunjuk diri sendiri serta penerimaan pemimpin alami adalah sebagai berikut:
1. Pemimpin resmi yang menunjuk diri sendiri akan meneriakkan perintah-perintah atau menyambar mikrofon serta mengatur kesempatan-kesempatan berfoto ria. 
2. Masalah-masalah yang penuh bencana terus menumpuk, dengan si pemimpin yang menunjuk diri sendiri terus-menerus tak mampu mengatasinya.  
3. Masyarakat beralih ke pemimpin alami, pertama di tingkat lokal, dan ketika keefektifan mereka menyebar dari mulut ke mulut, kepemimpinan mereka akan meluas. 
4. Si pemimpin yang menunjuk diri sendiri menjerit-jerit, menyerang para pemimpin alami, mengancam mereka, dan mungkin akan mengancam untuk membunuh mereka, dan mungkin akan mencoba menaklukkan mereka, untuk membuat si pemimpin alami ditunjuk untuk bekerja di bawahnya.  
5. Sampai pada tahapan dimana si pemimpin alami mengabaikan kepemimpinan yang menunjuk diri sendiri, yang kemudian telah menjadi dibenci, mereka akan terus memimpin. Kalau mereka membiarkan diri mereka ditaklukkan, mereka akan menciptakan siklus ronde kedua hingga yang ditaklukkan akan memisahkan diri dengan muak terhadap perintah-perintah yang mereka terima. 
6. Si pemimpin yang menunjuk diri sendiri akan menutup kalangannya, menarik orang-orang yang mau mendengarkan mereka, dan memaksa mereka dalam lingkar yang mengecil ketika pengaruh mereka berkurang. Akhirnya, mereka akan berkurang menjadi orang-orang yang saling meneriakkan perintah, mengamuk, dengan ancaman-ancaman dan bunuh diri, serta stroke dan serangan jantung, yang mengurangi jumlah mereka secara perlahan tapi pasti.