Aturan Lupa (Amnesia Inkarnasi)

Dalam hal reinkarnasi atau inkarnasi, mengapa manusia cenderung tidak ingat tentang kehidupan-kehidupan yang pernah dijalaninya sebelum kehidupannya sekarang? Berikut penjelasan para alien Zeta.

Terjemahan bebas dari ZetaTalk: Rule of Forgetfulness, Note: written Oct 15, 1996.

Lupa terjadi secara alami. Ketika sesosok entitas berinkarnasi ke dalam tubuh manusia, pikirannya otomatis tidak memiliki pengetahuan tentang kehidupan-kehidupannya yang silam.
Pikiran mengembangkan ingatan-ingatan tentang apa saja yang dialami, mengamati melalui indera-inderanya, dan menyimpulkan melalui proses-proses pemikiran yang dihasilkan dari semua ini. Dengan demikian rasa lupa itu alami, dan terobosan-terobosan dimana si ruh memiliki kesempatan untuk menyampaikan sedikit demi sedikit kehidupan masa silamnya itu langka. 
Aturan Lupa ini bukanlah peraturan yang dipaksakan, melainkan alami. Meskipun demikian, dengan adanya inkarnasi yang berjalan seperti itu, dan inkarnasi telah terbukti menjadi cara tercepat bagi ruh-ruh muda untuk tumbuh dan matang, tak ada satupun yang terburu-buru maju untuk mengupdate tubuh inkarnasi barunya tentang apa (kehidupan) yang pernah terjadi sebelumnya. Faktanya, proses yang demikian (mengupdate--pen.)  malahan dapat memperlambat kematangan ruh ataupun dapat menyimpangkan keputusan bertahap yang dibuat oleh si entitas dalam pelajaran pertamanya, yaitu pelajaran orientasi spiritual.

Bayangkan contoh-contoh dalam hidup yang tidak diberi tahu tentang keputusan-keputusannya dalam kehidupan silam ataupun pengetahuan lengkap tentang keputusan-keputusannya dalam kehidupan silam.
[Contoh 1] Seorang ibu, yang tengah memeluk bayinya yang baru lahir, melihat ketakberdayaan dan ketergantungan bayi padanya serta membayangkan perasaan-perasaan terabaikan dan putus asa dari bayi jika tidak digendong dan dicintai serta diselamatkan ketika tertekan. Sang ibu, yang pada dasarnya seseorang yang penuh kepedulian, dan merupakan entitas yang berinkarnasi yang condong ke Mengabdi-Kebaikan, mulai merawat si bayi dengan kasih-sayang yang besar dan kebanggaan terhadap dirinya sendiri atas kompetensinya. 
Jika, dalam kehidupan-kehidupannya di masa silam, si entitas pernah mengabaikan seorang bayi yang baru lahir, maka, untuk mengurangi tekanan pada dirinya sendiri, sementara segala ingatan tentang masa lalunya itu diingat, maka inkarnasinya sekarang akan diwarnai dengan rasa bersalah dan rasa malu, dan, utamanya, ingatan kuat terhadap apa yang membuat pengabaian itu terjadi pada mulanya. Si ibu bisa jadi akan membela tindakan sebelumnya itu dengan mengulanginya, sebagai sebuah cara untuk mengatakan kepada dirinya sendiri bahwa ia tidak melakukan apapun yang salah. Atau si ibu bisa jadi pura-pura tidak melihat, mencari-cari bukti baru bahwa ia perlu waspada, ketimbang bersikap peduli terhadap bayinya yang baru lahir itu.   
[Contoh 2] Seorang pria, yang sedang bekerja dengan orang-orang lain yang menjadi saingannya sekaligus teman-temannya. Suatu hari ada kesempatan untuk naik jabatan, dan ada beberapa kandidat. Pria ini telah memperhatikan satu rekan kerja tertentu yang selalu bekerja keras dengan jam kerja yang panjang serta mengetahui bahwa rekan kerjanya ini lebih kompeten ketimbang yang lainnya. Menempatkan dirinya seolah-olah dalam situasi rekan kerjanya itu serta membayangkan rasa sakit hati yang dapat muncul dari rekan kerjanya itu akibat tidak disertakan (sebagai kandidat--pen.), terutama karena ia (sebenarnya) pilihan terbaik, si pria memutuskan untuk mendukung rekannya itu ketimbang bersaing dengannya. Dalam inkarnasi sekarang, si entitas tidak melihat adanya rasa tertekan akibat kalah, karena, apakah itu menang atau kalah dalam kenaikan jabatan, akan ada cukup jabatan bagi semua entitas. Jika manusia menyadari apa yang pernah dialami entitas ruhnya dalam kehidupan lalu, dimana si entitas bisa jadi kala itu sedang berfokus semata-mata pada apa yang harus dicapai dalam hal kemungkinan dampaknya terhadap entitas-entitas lain, maka fokusnya selama inkarnasinya sekarang bisa jadi tertarik ke arah yang akan memanjakan pikiran-pikiran tentang apa yang dapat dibeli dengan uang tambahan atau kekuasaan yang mungkin dapat diperoleh dari status baru. 
Dengan demikian, lupa memungkinkan entitas bergerak masuk ke dalam situasi-situasi yang serupa dengan situasi-situasi dalam kehidupan silamnya, namun mencoba-coba dengan sebuah pendekatan yang berbeda dan, sebagai konsekuensinya, mengalami hasil yang berbeda.

All rights reserved: ZetaTalk@ZetaTalk.com